MUSLIMAH WAHDAH PUSAT
MUSLIMAH WAHDAH PUSAT
TUTUP

Silatnas Muslimah Wahdah, Sekretaris Ditjen Bimas Islam Kemenag RI Dorong Muslimah Tangguh dari Objek Menjadi Penggerak

Muslimahwahdah.or.id - Jakarta, Silaturahmi Nasional (Silatnas) Tokoh Muslimah menjadi salah satu rangkaian Muktamar V Wahdah Islamiyah, Kamis (20/8/2026). Kegiatan ini menjadi wadah silaturahmi sekaligus pertukaran gagasan antarketua Muslimah Wahdah dari tingkat wilayah dan daerah se-Indonesia, yang berlangsung di Auditorium Sukarman, lantai 2, Perpustakaan Nasional RI, Jakarta.

Mengusung tema “Perempuan Berdaya untuk Indonesia Tangguh: Kontribusi Strategis Muslimah untuk Ketahanan Bangsa”, kegiatan ini menghadirkan sejumlah tokoh muslimah, di antaranya Hj. Lubenah, S.Ag., M.A., Sekretaris Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI; Dr. Netty Prasetyani Heryawan, Anggota Komisi VIII DPR RI; Hj. Fahira Fahmi Idris, S.E., M.H., Anggota DPD RI dari DKI Jakarta; serta Hj. Harisa Tipa Abidin, S.Pd., M.Pd., Ketua Muslimah Wahdah Pusat.

Dalam kesempatan tersebut, Hj Lubenah mendorong muslimah membangun ketangguhan, tidak hanya sekedar menjadi objek tapi juga menjadi seorang penggerak di tengah masyarakat.

“Bangsa yang kuat tidak lahir secara tiba-tiba. Ia tumbuh dari keluarga yang kuat, dan keluarga yang kuat memerlukan perempuan yang berdaya, laki-laki yang bertanggung jawab, serta lingkungan yang saling menguatkan,” ujarnya di awal materi.

Dalam materinya bertajuk “Perempuan Tangguh, Keluarga Hebat, Bangsa Kuat: Dari Ketangguhan Personal Menuju Ketahanan Keluarga dan Bangsa”, Hj Lubenah mendefinisikan bahwa perempuan tangguh ia yang memikul semuanya sendiri.

“Tangguh bukan berarti menanggung semuanya. Tangguh adalah kemampuan untuk bertumbuh di tengah perubahan tanpa kehilangan nilai dan arah hidup,” katanya.

Lebih lanjut, Hj Lubenah menjelaskan cukup lama dalam sebuah pembahasan bahwa ketangguhan itu membutuhkan sebuah proses. Dari proses healing, meaning, hingga empowering. Dari sebuah kesadaran diri, mengenali emosi, bergerak menemukan keberanian dan rasa syukur, hingga mampu memberdayakan dan memberikan makna serta manfaat kepada sesama.

Ia juga menegaskan bahwa Islam menempatkan perempuan sebagai subjek peradaban. Ini berarti perempuan tidak hanya dimaknai dari segi domestik, tetapi perempuan dipandang sebagai pihak yang ikut membentuk, menggerakkan, dan menentukan arah kehidupan masyarakat.

Karena itu, ia mengajak semua peserta untuk menjadi penggerak. Dengan mengambil beberapa peran strategis diantaranya  educator, caregiver, connector, entrepreneur, change maker, dan advocate untuk menguatkan keluarga, memberdayakan masyarakat, dan menghadirkan perubahan yang berdampak.

0 Komentar

Belum ada pesan

Tinggalkan Pesan