Muslimahwahdah.or.id - Tolitoli, Kematian adalah kepastian, tetapi tidak semua orang memiliki pengetahuan tentang apa yang harus dilakukan ketika orang terdekat meninggal dunia. Dari kesadaran sederhana itulah, pembekalan penyelenggaraan jenazah menjadi lebih dari sekadar kegiatan keagamaan. Ia menjadi upaya menyiapkan muslimah agar mampu hadir dan mengambil peran ketika keluarga atau masyarakat membutuhkannya.
Semangat tersebut mewarnai Pembekalan Penyelenggaraan Jenazah yang digelar Unit Sosial Muslimah Wahdah Islamiyah Daerah Tolitoli, Ahad (9/8/2026), di Lantai 2 Masjid Al-Madinah Al-Munawwarah, Tolitoli. Kegiatan berlangsung sejak pukul 08.00 hingga 12.00 WITA dengan tujuan membekali peserta mengenai tata cara penyelenggaraan jenazah sesuai tuntunan syariat dan sunnah.
Menariknya, pembekalan tersebut tidak hanya diperuntukkan bagi kader Muslimah Wahdah. Kegiatan dibuka untuk muslimah secara umum. Antusiasme peserta terlihat hingga penghujung acara, terutama ketika sesi tanya jawab mengenai berbagai persoalan yang dapat ditemui dalam penyelenggaraan jenazah.
Ketua Muslimah Wahdah Tolitoli, Ustadzah Sucianah Dirwan, S.E., saat membuka kegiatan menekankan satu kenyataan yang dekat dengan setiap manusia: bahwa semua orang pada akhirnya akan menjadi jenazah.
Menurutnya, pengetahuan mengenai penyelenggaraan jenazah penting dimiliki agar seorang muslimah dapat turut memuliakan saudari sesama muslim ketika meninggal dunia. Kegiatan ini juga dipandang sebagai bagian dari kepedulian sosial sekaligus ikhtiar memenuhi hak seorang muslim terhadap muslim lainnya. Ia pun mendorong peserta mengikuti seluruh rangkaian pembekalan dengan sungguh-sungguh.
Dari Pengetahuan Menjadi Keterampilan
Tidak berhenti pada penyampaian teori, pembekalan dirancang dengan pendekatan praktik. Kegiatan diawali dengan tilawah Al-Qur'an, dilanjutkan penyampaian materi mengenai penyelenggaraan jenazah, praktik, kemudian ditutup dengan sesi tanya jawab.
Pola tersebut menjadi penting karena penyelenggaraan jenazah bukan hanya pengetahuan yang cukup dipahami secara konseptual. Dalam situasi nyata, seseorang perlu mengetahui tahapan dan tata cara yang benar agar dapat melaksanakannya sesuai tuntunan syariat.
Narasumber sekaligus trainer penyelenggaraan jenazah, Ustadzah Yusti Kurnia Ningsih, menekankan pentingnya penguasaan teori yang disertai kemampuan praktik.
Ia optimistis ketika muslimah memahami teori sekaligus praktik penyelenggaraan jenazah sesuai sunnah, pengetahuan tersebut dapat menjadi bekal untuk saling membantu di tengah masyarakat.
Dalam materinya, ia juga mengingatkan tentang besarnya keutamaan mengiringi jenazah sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:
“Barang siapa menghadiri jenazah hingga ia menyalatkannya, maka baginya pahala satu qirath. Dan barang siapa menghadirinya hingga jenazah itu dikuburkan, maka baginya pahala dua qirath.”
Ketika para sahabat bertanya tentang dua qirath tersebut, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa ukurannya seperti dua gunung yang besar. Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, di antaranya dalam Sahih al-Bukhari no. 1325. Hadis ini turut dicantumkan sebagai salah satu landasan dalam materi kegiatan.
Ilmu yang Baru Terasa Penting Ketika Dibutuhkan
Di tengah masyarakat, penyelenggaraan jenazah terkadang dianggap sebagai urusan orang-orang tertentu yang telah terbiasa melakukannya. Padahal, kematian dapat terjadi di lingkungan keluarga siapa saja.
Seorang anak mungkin suatu hari harus mengurus orang tuanya. Seorang ibu dapat berhadapan dengan kematian anggota keluarganya. Seorang tetangga pun dapat berada dalam situasi ketika tenaganya dibutuhkan untuk membantu keluarga yang sedang berduka.
Di titik itulah pembekalan seperti ini memperoleh makna sosial yang lebih luas: membangun kesiapan masyarakat menghadapi peristiwa yang pasti terjadi, tetapi waktunya tidak pernah diketahui.
Antusiasme peserta dalam sesi tanya jawab juga memperlihatkan bahwa persoalan penyelenggaraan jenazah masih menyisakan banyak pertanyaan praktis di tengah masyarakat.
Pembekalan ini pada akhirnya tidak semata berbicara tentang bagaimana memperlakukan seseorang setelah meninggal dunia. Lebih jauh, ia mengajarkan kesiapan untuk memberikan penghormatan terakhir kepada sesama muslim sesuai tuntunan agama.
Sebab ketika kematian benar-benar datang ke sebuah keluarga, yang dibutuhkan bukan hanya orang yang bersedia membantu, tetapi juga orang yang mengetahui bagaimana melakukannya dengan benar.
Penulis: Medikom Muslimah Wahdah Tolitoli
0 Komentar
Belum ada pesan