MUSLIMAH WAHDAH PUSAT
MUSLIMAH WAHDAH PUSAT
TUTUP

Bersabar dalam Kebersamaan

Muslimahwahdah.or.id - MAKASSAR, Catatan Taujihaat Ustadz Ikhwan Abdul Jalil, Lc, M.H.I dalam Kajian Pengurus Muslimah Wahdah Pusat yang bertema Bersabar dalam Kebersamaan, Selasa (19/3/2024).

Salah satu nikmat yang patut disyukuri adalah nikmat pemilihan Allah untuk senantiasa berada dalam staf perjuangan dakwah Islam.

Sebagaimana firman Allah, dalam QS. Fatir Ayat 2

مَّا يَفْتَحِ ٱللَّهُ لِلنَّاسِ مِن رَّحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا ۖ وَمَا يُمْسِكْ فَلَا مُرْسِلَ لَهُۥ مِنۢ بَعْدِهِۦ ۚ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْحَكِيمُ

Artinya : “Apa saja di antara rahmat Allah yang dianugerahkan kepada manusia, maka tidak ada yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan-Nya maka tidak ada yang sanggup untuk melepaskannya setelah itu. Dan Dialah yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”

Termasuk rahmat Allah, diberikannya taufiq kepada hamba-Nya yang terpilih untuk berada dalam perjuangan.  Allah memilih sebagai orang beriman, menjadi bagian dari kaum muslimin,  memiliki keinginan untuk berbuat baik, untuk berperan, untuk ishlah dan iqamatuddin.

Ada sebuah pelajaran penting dalam kisah Nabi Musa ‘alaihissalam dalam surah Thaha. Bahwa dalam perjuangan ini, seorang Nabi Musa pun meminta kepada Allah subhanahu wa taala. Apakah permintaan tersebut?

Mari kita simak potongan ayat dalam surah Thaha: 25-34. Berkata Musa, "Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku; dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun, saudaraku, teguhkanlah dengan dia kekuatanku, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku, supaya kami banyak bertasbih kepada Engkau, dan banyak mengingat Engkau. Sesungguhnya Engkau adalah Maha Melihat (keadaan) kami.”

Nabi Musa meminta beberapa hal yang tujuan akhirnya adalah agar ia bisa banyak bertasbih dan mengingat Allah. Permintaan ini salah satunya adalah teman dalam urusan-urusannya, yakni Harun. Ini menunjukkan pentingnya saudara seperjuangan untuk menemani dan menguatkan perjuangan kita.

Berharap kehadirannya membuat kita justru semakin dekat kepada Allah. Ayat ini menunjukkan sisi spiritual kebersamaan. Nah dalam kebersamaan tersebut, akan ada ujian-ujian yang kemudian timbul.

Maka yang harus kita lakukan adalah menghadirkan kesabaran dan kelapangan dalam dada-dada kita. Sebagaimana dalam potongan ayat diatas, salah satu yang diminta Nabi Musa adalah kelapangan dada.

“Sebagai saudara, kita harus berupaya membuat saudara seperjuangan kita merasa aman dan nyaman dengan kita. Memang setiap orang perlu menghadirkan kesabaran dalam dirinya termasuk saat berada dalam shaf perjuangan ini, tetapi kita juga harus mengupayakan agar saudara kita merasa nyaman berada di sisi kita,” nasihat Ustadz Ikhwan Abdul Jalil, Lc, M.H.I dalam momen Kajian Pengurus Muslimah Wahdah, Selasa (19/03/24)

“Bersabar dalam perjuangan salah satunya juga dengan berupaya melatih diri menerima perlakuan yang kurang baik dari saudara kita. Jika suatu masa itu terjadi, lihat selalu dalam perspektif rahmat Allah. Bahwa ujian yang tidak mengenakkan dari saudara itu adalah bentuk cinta Allah agar kita mendapat pahala, mendapat kesempatan untuk naik kelas,” jelas Ketua Dewan Syuro Wahdah Islamiyah ini melanjutkan.

Jika Allah telah menetapkan kedudukan yang tinggi kepada hamba-Nya, namun belum bisa diraihnya dengan amalan, maka Allah akan memberinya ujian agar bisa mendapatkan kedudukan tersebut.

Penulis : Fitri Wahyuni

0 Komentar

Belum ada pesan

Tinggalkan Pesan