MUSLIMAH WAHDAH PUSAT
MUSLIMAH WAHDAH PUSAT
TUTUP

6 Pelajaran Penting Webinar “Muslimah High Value”: Bijak Mengelola Emosi dan Menjaga Kemuliaan Diri

Muslimahwahdah.or.id - MAKASSAR, Fenomena krisis identitas, butuh validasi sepertinya menjadi tekanan yang banyak dihadapi muslimah kita saat ini. Webinar series kedua dari Panitia Semarak Muktamar V ini menyiapkan ruang agar muslimah bisa lebih bijak dalam mengelola emosinya dan menjadi muslimah yang bernilai tinggi.

Mengusung tema Webinar Muslimah High Value: Bijak Mengelola Emosi, Menjaga Kemuliaan Diri, webinar kali ini menghadirkan Ummu Balqis  Founder Sekolah Bengkel Diri, penulis, sekaligus Marketing Director, Ahad (7/6/2026) via Zoom Meeting.

Awal materinya, Alumni psikologi Islam IOU ini mengutarakan nilai seorang muslimah tidaklah ditentukan dari wajah dan fisiknya. "“Banyak wanita berusaha mempercantik diri dari luar, tetapi bagian dalam dirinya rapuh. Islam tidak pernah mendidik perempuan hanya untuk menarik di hadapan manusia. Nilai seorang muslimah terletak pada kualitas qalbu, akhlak, dan kematangan jiwanya,” ujarnya.

Berikut ini enam pelajaran penting yang disampaikan pemateri dalam webinar kali ini.

1. Krisis Identitas Membuat Muslimah Kehilangan Ketenangan

Krisis identitas inilah menjadi fenomena yang banyak menjangkiti muslimah saat ini. Mereka haus akan validasi sehingga ketika pujian datang mereka sangat bahagia, namun sebaliknya akan hancur ketika kritikan itu datang.

Dalam psikologi, kondisi ini dikenal sebagai external validation dependency. Harusnya muslimah yang tenang itu memiliki internal stability yaitu kemampuan untuk tetap bernilai meski tidak ada validasi dari orang lain.

“Ketika seseorang menggantungkan identitas dirinya kepada manusia, sedikit diabaikan saja sudah terasa sangat menyakitkan. Padahal pusat ketenangan seharusnya tidak diletakkan pada manusia, tetapi kepada Allah,” jelasnya.

2. Emosi Bukan Musuh, tetapi Sinyal yang Perlu Dipahami

Setiap diri manusia itu punya emosi baik sedih, marah, cemas dan sebagainya. Banyak yang beranggapan ketika itu diluapkan berarti tandanya lemah iman.

Padahal, menurut Ummu Balqis tidak demikian karena itu merupakan fitrah dari Allah. “Kesedihan bukan tanda lemahnya iman. Tangis boleh ada, sedih boleh ada, tetapi emosi harus diarahkan dengan iman dan adab,” ungkapnya.

Ia menambahkan, ketika emosi itu datang bukan untuk ditolak, tapi dikenali, dirasakan, dan dipahami karena kalau tidak demikian maka ini menjadi penyebab banyaknya penyakit mental seperti overthinking, kelelahan, hingga mati rasa.

3. Islam Mengajarkan Regulasi Emosi, Bukan Pelampiasan Emosi

Materi berlanjut, bahwa emosi itu sedianya tidak ditolak tapi diregulasi dengan benar. “Muslimah yang matang secara emosional bukan berarti tidak pernah marah, tetapi mampu mengendalikan dirinya ketika marah,” katanya.

Ia juga mengambil pelajaran dari Rasulullah bagaimana ketika emosi itu memuncak maka solusinya adalah diam, berwudhu. Ia menyandingkan teladan Rasulullah ini dari segi psikologis yang benar saja ketika wudhu mampu menenangkan sistem saraf dan meredakan ketegangan tubuh.

4. Luka Masa Lalu Dapat Mempengaruhi Kehidupan Saat Ini

Tak hanya sampai meregulasi emosi, Ummu Balqis juga mengajarkan peserta terkait akar emosi kita selama ini bisa jadi dari luka masa lalu kita yang belum selesai.

Tidak jarang, apa yang kita dapatkan masa kecil akan membentuk kita hari ini. Misalnya sering dibandingkan atau ditolak maka akan cenderung menutup diri.

“Menyembuhkan bukan berarti menghapus masa lalu, tetapi agar luka tersebut tidak lagi mengendalikan kehidupan kita,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa Islam tidak menolak keberadaan luka batin. Sebaliknya, Islam mengajarkan umatnya untuk mengenali, merawat, dan menyembuhkan luka tersebut dengan mendekat kepada Allah.

5. Tujuh Langkah Praktis Mengelola Emosi

Selain menjelaskan kenapa dan bagaimana emosi itu muncul? Ummu Balqis juga memberikan tips yang bisa diikuti oleh ratusan peserta webinar hari ini.

Ada tujuh tips regulasi emosi yang dijelaskan oleh pemateri. Diantaranya melakukan grounding, mengatur pernapasan agar lebih tenang, berwudhu, ber muhasabah untuk mengenali akar emosi, memperbanyak dzikir, serta menjauh sementara dari pemicu emosi ketika kondisi belum stabil.

Nah, menurutnya regulasi emosi tentu bukan hal instan yang bisa saja sekejap hilang, tapi ia adalah keterampilan. “Regulasi emosi adalah latihan, bukan keajaiban. Semakin sering dilatih, seseorang akan semakin matang dalam menghadapi berbagai keadaan,” jelasnya.

6. Muslimah High Value Menjaga Kemuliaan Diri di Dunia Nyata dan Digital

Diakhir materinya, Ummu Balqis menegaskan bahwa muslimah bernilai tinggi bukanlah sosok yang tidak pernah jatuh atau tidak memiliki emosi. Kematangan justru terlihat dari kemampuan seseorang bertanggung jawab atas emosinya dan tidak diperbudak oleh perasaannya sendiri.

“Tidak semua cerita perlu diketahui semua orang, dan tidak semua luka harus diperlihatkan. Harga diri bukan untuk dipertontonkan, tetapi untuk dijaga,” tegasnya.

Webinar series kedua kali ini mengajak muslimah untuk memiliki kematangan emosional, bagaimana menjadi pribadi tenang dan bisa menjaga dirinya baik di dunia nyata maupun digital.***

0 Komentar

Belum ada pesan

Tinggalkan Pesan