MUSLIMAH WAHDAH PUSAT
MUSLIMAH WAHDAH PUSAT
TUTUP

Silaturahmi Lintas Periode MWD Gowa Hidupkan Kembali Memori Perjuangan Dakwah Sejak 1989

Muslimahwahdah.or.id - GOWA, Suasana haru dan kerinduan mendalam menyelimuti Aula Dewi Sri, Kabupaten Gowa, pada hari Ahad (12/7/2026). Muslimah Dewan Pimpinan Daerah Wahdah Islamiyah (MWD WI) Gowa menggelar silaturahmi akbar lintas periode dengan mengangkat tema utama “Temu Kangen Pejuang Dakwah: Mengambil Ibrah Masa Lalu, Menabur Manfaat di Masa Kini”.

Momen monumental yang baru pertama kali digelar sepanjang sejarah berdirinya lembaga ini dihadiri secara antusias oleh 122 pengurus aktif dari total kurang lebih 150 kader. Suasana semakin istimewa karena dari 50 alumni atau pengurus senior yang terdata, sebanyak 30 orang perintis dakwah turut hadir melepas rindu sekaligus menyambung kembali tongkat estafet perjuangan. 

Acara ini juga diberkahi dengan kehadiran istri almarhum Ustaz Mansyur (rahimahullah), tokoh ulama rintisan yang sangat dihormati atas jasa besarnya membentangkan jalan dakwah Wahdah Islamiyah di Kabupaten Gowa.

Acara dibuka dengan sesi kontemplasi emosional yang dipandu oleh moderator, St. Umairah Mansyur, S.P. Ia mengajak seluruh peserta memejamkan mata sejenak, membayangkan kilas balik Kabupaten Gowa pada tahun 1989. Era di mana sarana transportasi masih sangat sulit, jaringan telepon belum memadai, serta wilayah Gowa yang masih didominasi oleh hamparan kebun dan ladang.

"Kita akan membersamai perjuangan hari itu tidak hanya dengan ulasan dari pikiran kita sendiri, tetapi mendengarkan langsung dari narasumber, 4 tokoh sekaligus Ketua MWD Gowa dari masa ke masa hingga yang masih menjabat saat ini," ujar St. Umairah mengantarkan sesi utama.

Pengorbanan Senior Kampus dan Awal Mula Mengenal Tarbiyah

Ketua MWD WI Gowa saat ini, Ustadzah Hj. Syamsiah Nur, S.Pd.,Gr., ikut membagikan kisah personalnya yang sangat menyentuh mengenai awal mula ia mengenal indahnya jalan dakwah ini saat masih di bangku kuliah. Ketertarikannya pada tarbiyah bermula dari keteladanan seorang senior bernama Rosmini Sennang, atau Ummu Jundy sapaan akabnya  yang mengajaknya ikut pengajian kampus.

"Yang membuat saya tertarik, saat dia kuliah saya mengintip dari luar kelasnya dan dia melihat saya. Dia kemudian meminta izin kepada dosennya demi keluar untuk mengisi tarbiyah saya. Di situ saya sangat berkesan, Masya Allah sekali dia rela meninggalkan pelajarannya demi mengisi tarbiyah saya. Begitu sangat berharganya tarbiyah," kenang Ustadzah Syamsiah Nur penuh haru.

Setamat kuliah, para senior menanyakan tempat tinggal mereka untuk melanjutkan pembinaan. Ustadzah Syamsiah yang saat itu berdomisili di Gowa diarahkan untuk mencari Ustadzah Sunarsih yang mengajar di daerah tersebut. Melalui jalur itulah, ia mulai mengikuti tarbiyah dari Ustadzah Sunarsih dan mulai mengenal struktural kepengurusan Lembaga Muslimah .

Estafet Kepemimpinan dan Keikhlasan dalam Struktur

Ustadzah Syamsiah Nur juga menekankan esensi penting mengenai keikhlasan berorganisasi di Wahdah Islamiyah. Di lembaga ini, perputaran posisi struktural seperti ketua menjadi sekretaris atau sekretaris menjadi bendahara adalah hal yang lumrah dan bukan harga mati. Orang-orang yang pernah berada di puncak struktur lalu kembali menjadi anggota biasa tidak pernah menjadi masalah, karena struktur bukan penghalang untuk terus berada dalam kerja-kerja dakwah.

Awal mula pembentukan kepengurusan secara formal terjadi pada awal tahun 2000. Saat itu, para kader berkumpul di salah satu rumah almarhum Ustaz Mansyur (rahimahullah) di Bontobaddo. Di sanalah mereka mendapat pencerahan langsung dari Ustaz Mansyur sekaligus momentum penunjukan Ustadzah Sunarsih untuk menjabat sebagai Ketua Lembaga Muslimah (LM) Gowa yang pertama.

Menelusuri Akar Sejarah: Sepatu Berdebu dan Penuh Lumpur

Sejarah awal mula masuknya Wahdah Islamiyah di Butta Gowa dikupas tuntas oleh kehadiran tamu spesial, Ustadzah Hamidah. Ia merupakan saksi hidup yang mengikuti Training Dakwah di masa rintisan akhir tahun 1989 di daerah Sumanna, yang dahulu berada di bawah naungan Yayasan Amal Muslim Gowa (Yaslim) diketuai oleh Ustadzah Abdul Azis Dg. Nuntun. Pergerakan di Gowa dikenal dengan nama Yayasan Fathul Mu'in.

"Murobbiyah pertama kali yang mengisi Kajian Dinul Islam adalah Ustaz Sangkala (Rahimahullah). Kemudian Ustaz Mansyur Salim (Rahimahullah) yang mengajar kami Bahasa Arab, dan selanjutnya Ustaz Risman Masyithoh (Rahimahullah). Mereka semua kini sudah dipanggil Allah," kenang Ustadzah Hamidah menahan haru.

Ia menceritakan betapa beratnya akses dakwah kala itu, di mana mereka harus menumpangi angkutan umum yang jika ingin berhenti harus diketok terlebih dahulu. Mereka turun di jalan raya dan harus berjalan kaki masuk ke tempat kajian. Jika musim kemarau sepatu penuh debu, dan jika musim hujan sepatu penuh lumpur.

Pasca wafatnya Ketua Yayasan Abdul Azis, kajian beralih ke rumah Ustaz Mansyur Tula di Panciro dengan pemateri dari Makassar seperti Ustaz Hanafi, Ustaz Yusran, Ustaz Amir, dan yang paling setia mengisi dalam jangka waktu lama adalah Ustaz Kosim Saguni. 

Pada tahun 1990-an, kajian berpindah ke Masjid Usamah (dahulu Masjid Nurul Falah), yang sering dikunjungi oleh Syekh dari Timur Tengah. "Saya sendiri pernah diberikan jilbab langsung oleh Syekh," kenang Ustadzah Hamidah.

Semangat mengaji masyarakat Gowa terus meluas dari TPAI hingga menjadi Sikronsa. Pengajian perdana dimulai di Masjid Jami' yang dimotori oleh Ketua Majelis Taklim, Hj. Najmah (Haji Karra) bersama anggotanya, Zaenab, yang rela datang jauh-jauh ke Kampung Jangka demi belajar karena anak-anak di sana dikenal pintar mengaji (caraddeki). 

Semangat juang ini melahirkan 3 angkatan kajian dengan total 60 orang. Salah satu dari mereka bahkan berhasil khatam hanya dalam 3 bulan, hingga menggelar syukuran adat lokal, "Syukurangi, polongi jangang, nakioki nakke nganre-nganre intueng" (Memotong ayam dan mengundang makan bersama),“ ungkap Ustadzah Sunarsih.

Kilas Balik Perjuangan 4 Ketua MWD Gowa Lintas Periode

Memasuki sesi inti, keempat tokoh Ketua MWD WI Gowa dari masa ke masa secara bergantian membagikan kisah perjuangan dan transformasi kelembagaan yang luar biasa dari masa ke masa:

1.Ustadzah Dra. Hj. Sunarsih (Periode 2000 - 2008)

Awal tahun 2000 menjadi tonggak formal pembentukan kepengurusan Muslimah Wahdah Islamiyah Gowa yang kala itu masih bernama Lembaga Muslimah (LM). Ustadzah Sunarsih mencatatkan sejarah sebagai Murobbiyah perempuan pertama kali di Gowa yang mengisi kajian/tarbiyah akhwat, di mana sebelumnya posisi pengajar selalu diisi oleh ustaz. Di bawah kepemimpinannya, gerakan dakwah berkembang masif hingga pada tahun 2008, metode DIROSA resmi didaulat sebagai bahan ajar nasional

2. Ustadzah Hastuti, S.Ag (Periode 2008 - 2012)

Menjabat sebagai ketua kedua, Ustadzah Hastuti didampingi oleh jajaran pengurus tangguh: Ustadzah Mukminin Dg. Caya (Wakil Ketua), Ustadzah Zukmawaty (Sekretaris), Hj. Najmah Rauf (Bendahara), Wahidah Dg. Mene (Wakil Bendahara), Nursyidah Dg. Layu (Ketua Unit Dakwah), Ustadzah Syamsiah Nur (Ketua Unit Kaderisasi), dan Ustadzah Najmiah Dg. Ngintang (Unit Diklat). 

Pada masa ini, pengkaderan dikawal ketat oleh Muslimah Wahdah pusat agar para akhwat siap dibina menjadi Murobbiyah karena minimnya pengajar dari kalangan akhwat saat itu.

Di periode ini pula cikal bakal Markaz Kantor MWD Gowa di Kampung Jangka berhasil dibeli secara mencicil dari seorang warga. Berawal dari gubuk anyaman bambu (gamacca) beralaskan tanah, dengan pintu dan toilet darurat yang sangat sederhana, markaz ini diperjuangkan pembangunannya.

Ustadzah Mukminin menjadi tim yang mengawal penuh seluruh proses pendanaan dan pelunasannya. Di tengah keterbatasan fasilitas fisik tersebut, MWD Gowa pada akhir periode ini berhasil mendata sebanyak 711 kader.

3. Ustadzah Naidah Arman, S.Si (Periode 2012 - 2016)

Sebagai ketua ketiga, Ustadzah Naidah melakukan ekspansi struktur yang masif melalui pembentukan Badan Perumus (BP) di awal kepemimpinannya. Badan Perumus ini merumuskan strategi internal dan eksternal, hingga berhasil memekarkan unit kerja yang awalnya hanya 4 unit menjadi 11 unit unggulan (Kaderisasi, PGM, PSDM, P3Q, FKMT, P2KS, SOSKES, PU, P2C, Dakwah, dan Keuangan).

Langkah awal difokuskan pada pendataan dan pembinaan terstruktur. Berkat data statistik dari keluarga Ustadzah Hj. Najmah Dg. Karra, MWD Gowa berhasil memetakan jumlah kecamatan dan sekolah yang akan dirintis. Pada periode ini, bangunan Kantor MWD Gowa sukses ditingkatkan dari 1 lantai menjadi 2 lantai. 

Sebagai apresiasi perjuangan, di akhir kepengurusannya, seluruh ketua unit diberangkatkan ke Jakarta untuk menghadiri Muktamar ke-3 Wahdah Islamiyah.

4. Ustadzah Hj. Syamsiah Nur, S.Pd.,Gr. (Periode 2016 - Sekarang/2026)

Melanjutkan estafet kepemimpinan sebagai ketua keempat, Ustadzah Syamsiah Nur membawa MWD Gowa ke era ekspansi modern. Program unggulan yang berhasil direalisasikan di antaranya adalah fokus pada pembentukan jaringan luar melalui MWD di tingkat kelurahan/desa (MWR) lewat program P2C. 

Terbentuk koperasi Muslimah, lewat pembebasan tanah wakaf berdirinya Pondok Imam An-Nasa’i yang dahulu masih status Rumah Qur’an Mumtazah (RQM) Program dari P3Q membuat Rumah Tahfidz yang di ketua oleh Ustadzah Hasriana (Hanan), pembebasan lahan untuk pembangunan Rumah Bersalin Muslimah, wakaf Rumah Qur’an khairaatun Hisaan, serta sukses merampungkan pembangunan lantai 3 Gedung Kantor MWD Gowa. Di bawah nakhodanya, kepengurusan kini telah tersebar kokoh di seluruh kecamatan dan kelurahan se-Kabupaten Gowa

Menatap Visi Besar Ormas Nasional 2030

"Sejarah itu adalah pengalaman kita, dan kita belajar dari pengalaman untuk mengulang sejarah itu menjadi lebih baik," pungkas Ustadzah Umairah Mansyur sebagai moderator dalam menutup ulasannya mengenai evolusi Sejarah kelembagaan MWD Gowa.

Dari masa perintisan yang penuh keterbatasan fisik, pengondisian kaderisasi, perluasan sayap struktural 18 unit kerja, hingga pencapaian infrastruktur saat ini, seluruh fase tersebut merupakan modal besar bagi Muslimah Wahdah Islamiyah Gowa untuk ikut berkontribusi aktif mewujudkan visi besar Wahdah Islamiyah: menjadi Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) Islam yang eksis dan berkiprah secara kokoh di tingkat Nasional pada tahun 2030 mendatang.

Penulis : Rahmah, MWD GOWA

0 Komentar

Belum ada pesan

Tinggalkan Pesan