Muslimahwahdah.or.id - Kendari, Muslimah Wahdah Kendari menggelar acara Buka Puasa Bersama yang dirangkaikan dengan silaturahmi istimewa bersama Syaikhah asal Palestina. Kegiatan yang dihadiri oleh 141 peserta ini berlangsung khidmat dan penuh haru di Masjid Abu Bakar Ash Shiddiq pada Selasa (24/02/2026).
Ketua Muslimah Wahdah Kendari dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur yang mendalam atas kehadiran tamu istimewa tersebut. Pasalnya, kedatangan Syaikhah ini merupakan sebuah kejutan yang tak disangka-sangka.
"Kegiatan ini persiapannya mendadak dan tidak terencana jauh hari. Kabar awalnya hanya Syaikh yang akan datang, tapi maasyaallah ternyata beliau didampingi Syaikhah. Alhamdulillah, dari sekian banyak daerah, Syaikhah bisa menyempatkan berkunjung ke tempat kita," ujarnya penuh syukur.
Ia menambahkan, momentum langka ini menjadi kesempatan untuk mendengar langsung kondisi terkini di Palestina. "Kedatangan Syaikhah ini akan memperjelas bagi kita semua, apakah kondisi Ghazzah yang kita saksikan di media itu benar adanya, atau realitanya justru jauh lebih parah," tambahnya.
Kesaksian Mengiris Hati
Menjawab hal tersebut, Syaikhah memaparkan realita memilukan yang tengah menimpa rakyat Ghazzah. Ia menyebutkan bahwa meski Ghazzah telah melewati banyak sejarah peperangan, agresi yang terakhir ini adalah yang paling berat.
Generasi Qur’ani yang telah disiapkan, diambil paksa oleh Zionis Israel. Tanpa pandang bulu dan dengan kejam juga menargetkan wanita dan anak-anak. Syaikhah mengungkap rentetan kekejaman, mulai dari penyiksaan di penjara yang semakin ketat pasca 7 Oktober 2023, mengubur warga hidup-hidup, hingga kekejian membiarkan jasad-jasad syuhada dimakan oleh anjing-anjiang liar. Bahkan, tawanan yang telah gugur hanya dikembalikan ke keluarganya dalam kondisi tak bernyawa tanpa kompensasi sedikit pun.
Rahasia Ketegaran Ummahat Ghazzah
Pemaparan kesaksian tersebut membuat suasana pecah oleh isak tangis. Di tengah keharuan, seorang peserta dengan meneteskan air mata menanyakan sebuah pertanyaan mendalam: "Ya Syaikhah, bagaimana para ummahat di sana mendidik anak-anak mereka, sehingga bisa menjadi generasi yang begitu kuat dan teguh menghadapi keadaan di Ghazzah?"
Dengan tenang Syaikhah menjawab bahwa pendidikan anak di Ghazzah sangatlah sederhana, yakni didasari pada keteladanan dan keimanan yang kuat kepada Allah.
"Ketika anak-anak lapar dan tidak ada makanan, para ibu akan mengatakan, 'Sabarlah, pertolongan Allah akan segera datang. Pertolongan Allah sangat dekat.' Intinya, mereka tidak banyak mengeluh. Anak-anak Ghazzah melihat orang tua mereka bersabar dan yakin akan janji Allah, maka merekapun bersabar. Keteladanan itulah yang kelak mengajarkan ketegaran yang sama kepada generasi setelah mereka," urainya.
Janji untuk Masjidil Aqsha
Lebih lanjut, Syaikhah menegaskan bahwa meski Ghazzah banyak kehilangan para pengajar Al-Qur'an dan imam masjid akibat syahid, semangat mereka tak pernah mati.
"Kami terus menyiapkan imam-imam untuk kelak shalat di Masjidil Aqsha, Allahu Akbar! Andaikan warga Ghazzah diminta memilih untuk pindah atau keluar, kami akan tetap memilih tinggal sampai kemenangan dari Allah itu datang," tegas Syaikhah.
Di penghujung acara, terselip pesan sekaligus seruan kepedulian. Seluruh kaum muslimin diajak untuk memberikan dukungan nyata bagi Ghazzah semampu yang bisa diberikan. Infaq sekecil apa pun diyakini akan membantu dan menjadi bukti cinta bagi saudara-saudara di Palestina.
0 Komentar
Belum ada pesan