MUSLIMAH WAHDAH PUSAT
MUSLIMAH WAHDAH PUSAT
TUTUP

Cahaya dalam Gelap: Kisah Keteguhan Bu Elis Menghafal Al-Qur'an Meski Penglihatan Tinggal 5 Persen

Muslimahwahdah.or.id - Buol, Semangat menghafal Al-Qur’an kembali menghadirkan kisah inspiratif dari program DMHQ. Seorang peserta yang akrab disapa Bu Elis, berusia 58 tahun, menunjukkan keteguhan luar biasa dengan menyelesaikan setoran 4 juz dalam waktu 8 hari, meski kondisi penglihatannya kini hanya tersisa sekitar 5 persen.

Ia juga dikenal sebagai sosok yang dermawan dan konsisten berusaha menghidupkan sunnah di tengah keluarganya. Tahun ini merupakan tahun ketiga beliau mengikuti DMHQ, dan selama tiga tahun berturut-turut ia berhasil meraih predikat mumtaz.

Capaian tersebut bukan diraih dalam keadaan mudah. Dengan penglihatan yang nyaris gelap, aktivitas membaca mushaf menjadi sangat terbatas. Namun kondisi itu tidak memadamkan cintanya kepada Al-Qur’an. Ia memanfaatkan pendengarannya sebagai sarana utama dalam menghafal, mendengarkan murattal berulang-ulang hingga ayat-ayat melekat kuat dalam ingatan.

Dalam kegiatan DMHQ terbaru,  Elis kembali membuktikan kesungguhannya. Empat juz berhasil ia setorkan hanya dalam delapan hari, dengan hafalan yang lancar dan makhraj yang tetap terjaga.

Salah satu muhafizah DMHQ mengungkapkan kekagumannya terhadap sosok Bu Elis.

"Ada yang membuat hati diam-diam kagum.Di usia 58 tahun, saat mata tak lagi mampu membaca dengan jelas, telinganya setia menangkap ayat demi ayat. Lalu dengan sabar ia titipkan semuanya di dalam dada. Al-Qur’an tak hanya dibaca olehnya, tapi benar-benar dijaga dengan cinta. Semoga setiap huruf yang beliau dengarkan menjadi cahaya yang menerangi langkahnya, di dunia hingga ke surga.” ujarnya.

Semangat yang sama juga dirasakan oleh teman sekelompoknya. Kehadiran Bu Elis di ruang setoran bukan hanya sebagai peserta, tetapi sebagai sumber motivasi.

“Allahu Akbar Allahu Akbar, sekali lagi Allah menunjukkan kuasa-Nya melalui ibu Elis dengan keterbatasannya, beliau tetap Istiqomah dalam menghafal Al-Qur'an. Barakallahu fiik ibu Elis yang selalu menjadi inspirasi,” tutur salah satu teman sekelompoknya.

Kisah Bu Elis menjadi pengingat bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk berprestasi dalam kebaikan. Justru dari kondisi yang serba terbatas, lahir keteguhan dan kecintaan yang lebih kuat kepada Kalamullah.

Di tengah gelapnya pandangan, Bu Elis membuktikan bahwa cahaya Al-Qur’an tetap bisa bersinar terang di dalam hati.

0 Komentar

Belum ada pesan

Tinggalkan Pesan