MUSLIMAH WAHDAH PUSAT
MUSLIMAH WAHDAH PUSAT
TUTUP

24 Jam Masih Kurang? Waspada ‘Penyakit’ At-Takatsur yang Bikin Lupa Jalan Pulang

Muslimahwahdah.or.id - Soppeng, Di tengah keluhan banyak orang bahwa 24 jam sehari terasa tak pernah cukup, Muslimah DPD Wahdah Islamiyah Soppeng justru mengingatkan adanya “penyakit” yang lebih berbahaya dari sekadar kesibukan: at-takatsur, berlomba-lomba dalam urusan dunia hingga lupa tujuan akhir. Pesan itu mengemuka dalam kegiatan Tebar Ifthar Akbar yang digelar Jumat (28/02/2026), bertepatan dengan 9 Ramadhan 1447 H.

Sebanyak 526 paket buka puasa didistribusikan di tiga titik, yakni Mushola Qur'antusias Belo, Masjid Nurul Amin Laempa, serta wilayah Kecamatan Marioriawa. Namun, kegiatan ini tidak berhenti pada aksi sosial semata.

Di sela penyaluran ifthar, para peserta diajak merenung melalui tadabbur Surah At-Takatsur bertema “Sibuk, Sampai Kapan?”. Tema tersebut menjadi relevan dengan realitas keseharian, ketika waktu terasa sempit, tetapi justru habis untuk hal-hal yang kerap menjauhkan dari persiapan “jalan pulang” menuju akhirat.

Melalui pemaparan yang lugas, Ustadzah Feby Nurmiah Susianti, S.Pd., selaku Ketua Unit Khidmatul Qur’an Muslimah Wahdah Soppeng, menjelaskan bahwa fenomena at-takatsur tidak selalu berbentuk harta berlimpah. Ia bisa hadir dalam bentuk perlombaan prestasi anak, pencapaian pribadi, hingga eksistensi di media sosial. Kesibukan demi kesibukan itu, jika tak terarah, dapat berubah menjadi kelalaian.

“Lalai itu bukan sekadar sibuk, tetapi sibuk pada hal yang kurang penting hingga melupakan yang paling utama, yaitu ibadah,” ungkapnya.

Ia menambahkan, yang kelak dihisab bukan hanya amal perbuatan, tetapi juga nikmat yang selama ini dibanggakan yakni kesehatan, waktu luang, harta, dan keluarga. Seluruhnya akan dipertanggungjawabkan, apakah menjadi jalan ketaatan atau justru sebaliknya.

Sebagai tindak lanjut, para muslimah diajak untuk meningkatkan kualitas interaksi dengan Al-Qur’an melalui metode Dirosa, sebagai langkah konkret agar Ramadhan tidak berlalu tanpa perubahan berarti.

Dengan demikian, Tebar Ifthar Akbar ini bukan sekadar agenda berbagi hidangan berbuka, melainkan momentum refleksi agar kesibukan dunia tidak membuat manusia terlambat menyadari arah “jalan pulang”-nya.

0 Komentar

Belum ada pesan

Tinggalkan Pesan