MUSLIMAH WAHDAH PUSAT
MUSLIMAH WAHDAH PUSAT
TUTUP

Murobbiyah, Mujahadah Dimulai Dari Dirimu

Muslimahwahdah.or.id - MAKASSAR, Murobbbiyah adalah sang pengukir peradaban.

Pelanjut jejak cinta para Rasul

Sang pembawa perubahan

Menjadi seorang murobbiyah berarti ia telah mengemban amanah yang sangat mulia. Amanah ini telah ada di zaman Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan telah menjadi misi dakwah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam (Kaderisasi & LKPDM, 2018, p. 32) . Sebagaimana yang dijelaskan dalam Al Qur’an sebagai berikut: 

“Dialah yang mengutus kepada kaum buta huruf seorang Rasul diantara mereka, yang membacakan ayat ayatNya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan mereksa sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata”. (Al Jumu’ah ayat 2)

Perjuangan ini dilanjutakan oleh para Shalafusshalih dan kini dipikul oleh orang-orang pilihan. Mengapa disebut orang-orang pilihan? Karena tak jarang kita melihat banyak muslimah yang hanya ingin memperbaiki diri sendiri, sibuk menuntut ilmu tapi tidak mau mengemban amanah sebagai seorang murobbiyah. Padahal sudah sangat jelas Allah Subhanahu Wata’alah memerintahkan kepada manusia untuk menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah kemungkaran di muka bumi ini sebagaimana dalam QS. Ali Imran ayat 110. 

Menjadi seorang murobbiyah adalah sebuah pengaplikasian dari ilmu dan pembentukan karakter yang telah didapatkan melalui proses yang panjang. Gelar ini disematkan sebagai bukti cinta kepada Allah Subhanahu Wata’alah dan RasulNya. Melalui perjuangan seorang murobbiyah akan lahir generasi Rabbani, generasi perindu syurga serta generasi Qur’ani, sebab melalui keihlasannya akan lahir para mukminah. melalui doanya akan lahir para muslihah, melalui kesungguhannya akan lahir para mujahidah dan melalui kegigihannya akan lahir para muta’awinah.

Realitanya, para murobbiyah kerap dihadapkan pada berbagai problematika. Mentalnya selalu saja diuji dari berbagai sisi. Mulai dari mutorobbiyah yang kurang merespon bahkan terkadang memberikan harapan palsu, kurangnya keterampilan membina halaqoh tarbiyah hingga perjuangan melawan hawa nafsu dan godaan syaitan.

Jarak tempat membina yang begitu jauh juga terkadang menjadi celah syaitan melancarkan aksinya untuk menyurutkan semangat para murobbiyah. Ditambah jika keuangan sedang menipis, maka ini kadang melahirkan deretan dilema dalam sanubari. Deretan kesibukan pribadi dan kesibukan membina tarbiyah juga terkadang bergulat dalam fikiran para murobbiyah. Maka solusi yang tepat dalam mengatasi hal tersebut adalah mujahadah yang kuat dalam diri para murobbiyah.

Mujahadah seorang murobbiyah harus dimulai dari dirinya. Kesungguhannya memperbaiki diri adalah salah-satu kunci kesuksesan pembinaan halaqah-halaqah tarbiyah. Pertama, seorang murobbiyah harus berusaha untuk Ikhlas dalam perjuangan yang diembannya dan berdo’a agar Allah Subhanahu Wata’alah senantiasa menjaga keikhlasan itu. Tentunya hal tersebut dibarengi dengan kesungguhan memperbaiki kualitas ibadah dan mempererat kedekatannya dengan Al Qur’an.

Kedua, bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu dan masalah masalah yang besumber dari dirinya. Ketika seorang murobbiyah dikalahkan oleh hawa nafsunya maka akan lahir berbagai alasan untuk tidak membina halaqoh. Salah-satu contohnya adalah alasan kesibukan. Seorang murobbiyah harus meyakini bahwa kesibukan bukanlah penghalang, sebab dalam deretan kisah, banyak pula orang yang memiliki kesibukan tapi tetap mampu menjalankan amanahnya untuk menyebarkan dakwah.

Rasulullah Shallalahu Alaihi Wasalalam, Abu Bakar Ash-Shiddiq Ra dan deretan sahabat lainnya bukanlah orang yang tidak memiliki kesibukan. Namun, kita dapat melihat pancaran keikhlasan dan semangat membina ummat. Mereka juga menampilkan kesungguhan berjihad dengan harta dan jiwanya.

Ketiga, bersungguh-sungguh memperbaiki kualitas metode pembinaan, bukan hanya sekedar transfer materi. Para murobbiyah harus memiliki komitmen untuk memberikan yang terbaik bagi mutorobbiyahnya. Ia harus mempunyai semangat untuk membenahi dirinya dengan ilmu dan keterampilan baik keterampilan komunikasi maupun keterampilan mengelolah halaqoh. Tentunya itu juga dimulai dengan memperbanyak membaca, mendatangi majelis ilmu, dan dibarengi dengan mengikuti berbagai pengolahan dan pembinaan yang telah disediakan oleh lembaga.

Keempat, kesungguhan perjuangannya dalam membina halaqoh tarbiyah harus dibuktikan melalui dakwah fardiyah. Dakwah fardiyah menjadi salah satu metode dalam menahlukkan hati para mutorobbiyah. Sehingga kedatangannya di majelis-majelis ilmu bukan hanya sekdar menggugurkan kewajiban, namun kedatangannya lahir dari kekuatan hati yang diperoleh melalui proses dakwah fardiyah. Dakwah fardiyah ini akan menumbuhkan kedekatan antara murobbiyah dan mutorobbiyah, menciptakan suasana yang nyaman antara keduanya dan menjadi sebab lahirnya ukhuwah yang didasari dengan iman.

Kesimpulannya, untuk melahirkan pembinaan halaqoh tarbiyah yang maksimal maka itu dimulai dari mujahadah seorang murobbiyah terhadap dirinya. Ia harus mammpu menahlukkan hawa nafsuya, mengarahkan dan memaksimalkan potensinya untuk dakwah Ilallah serta berusaha mengatasi setiap problem yang dihadapinya.

Murobbiyah hebat, semoga lelahmu membenahi dirimu berbuah Jannah. InsyaaAllah.

DAFTAR PUSTAKA

Kaderisasi & LKPDM. (2018). Mawad Daurah dan Tarbiyah Marhalah Ta'rif Ula. Makassar: Muslimah Wahdah Islamiyah.

Penulis : Ainayah Alfatihah, S.Pd (FMUI), Juara pertama dalam lomba esai Korps Murabbiyah Nasional

0 Komentar

Belum ada pesan

Tinggalkan Pesan