Tidak berhenti untuk bersyukur kepada Allah Subhanahu Wata’ala atas nikmat keselamatan yang telah ia berikan kepada kami. Gempa 7,7 telah meberikan pelajaran besar dan berharga bagi masyarakat palu. Lumpur yang menenggelamkan rumah, tsunami yang menyapu bersih pinggir pantai dan gempa telah merobohkan benteng pertahan. Sulawesi Tengah berduka, keluarga yang tidak selamat menyisahkan duka bagi korban gempa palu. Harapan yang tidak kunjung diucapkan adalah selamatkan kami.

Senin 8/10/2018, tim reporter Muslimah peduli, berkunjung ke rumah H.Tawang di Jjl.Tamangapa raya, Makassar posko pengunsian korban bencana gempa Palu. Bertemu dengan ibu-ibu yang menggendong cucunya yang berumur kurang lebih 1 tahun mereka sedang melepas lelah di teras rumah. Kami akhirnya masuk dan bertemu dengan anaknya yaitu Kurnia Mustika Sari umur 26 tahun, yang Alhamdulillah telah diberikan keselamatan dari musibah gempa yang menimpa Palu ia tinggal di daerah nunu’. Kami masuk kerumah dan melihat ibunda sedang membangunkan anaknya yang sedang tidur atau istirahat, tersirat pikiran kami tidak enak. Namun senyuman tak henti-hentinya menyambut dengan bentuk kebahagiaan dan rasa syukur.

Ukhti Nia Menceritakan suasana yang keluarganya alami saat gempa itu. Ia melewati pantai yang terkena tsunami 1 jam sebelum kejadian yang menimpa palu. Hari jumat itu anak-anak sekolah cepat pulang ukhti nia adalah seorang guru di sekolah It kurrota Ayyun Sigi kemudia ia berkunjung ke kost temannya, pada saat itu gempa kecil-kecilan telah terjadi, Palu memang rawan gempa ucapnya tenang.

Karena sudah terbiasa dengan gempa, maka gempa pada saat itu membuat respon yang biasa-biasa saja. Tetapi dalam hatinya mengatakan bahwa dia harus cepat pulang ke rumah, perjalanan pulang, guru ini melewati pantai yang ramai untuk pembukaan acara festval, pada saat itu ingin berhenti sebentar di pantai. kebetulan ukhti suka dengan pantai, tapi melihat suasana yang tidak pas, melihat semua sibuk dengan acara festival, mempersiapkan panggung, acara dan lain-lainnya maka ia langsung pulang. Suasana jalanan sangat macet. Kemudian ia sampai di rumah.

Waktu sholat magribpun tiba, tapi saat dalam lantunan azan yang berkumandang, saat dia masih duduk bersama keponakannya, gempa yang sangat dahsyatpun terasa. Bagaikan bumi tak terkendali lagi, semua terjatuh, tidak dapat lari  lagi dan hanya duduk memeluk keponakannya diatas tempat tidur, disisi lain sang ayah sedang sakit terbaring lemah diatas tempat tidur, dirawat oleh adek laki-lakinya, sang adek melindungi ayah semampunya, melindungi dari runtuhnya rumah. Begitupun dengan ibu yang berusaha menyelamatkan diri dari gempa, menyebabkan ia terjatuh seketika ia mengesot. Listrik seketika padam dan gelap.

Ukhti Nia yang tidak sadar keluar belum menggunakan pakaian muslimah, lari kembali masuk rumah mencari pakaian dengan keadaan gelap, ibunya beteriak menyuruhnya untuk cepat keluar dari rumah, karena rumah telah retak dan bangunan masjid yang ada disampingnya akan roboh menimpa rumahnya. Alhamdulillah ukhti Nia pun keluar rumah menggunakan busana muslimah lengkap dengan cadar dengan nikmat pertolongan Allah

Dengan keadaan panik gempa terjadi lagi, semua tergoncang. Yang mereka ucapkan hanyalah beristigfar, berdoa karena difikaran ukhti Nia hanyalah kematian. Setelah beberapa menit, gempa meredah kembali. Dibangunlah tenda pengungsian didepan rumah dengan berselimut langit. Bantuan untuk korban belum banyak dan sangat susah, untuk mendapatkan bantuan mereka diminta membawa Kartu Keluarga (KK), untung mereka sempat mengambil berkas-berkas. 5 hari pengungsian didepan rumah, kemudian memutuskan untuk ke Makassar, karena kondisi sang ayah tidak memungkinkan untuk tetap berada di Palu. Menaiki pesawat yang didalamnya sempit dan berdesak-desakan, sang ayah di dorong naik pesawat dengan menggunakan troli.

“Tidak ada rasa takut untuk kembali” tegas ukhti nia kepada kami. Ia ingin membatu sebagai relawan di palu. Sempat kami diam dan merasa bahwa segala sesuatu pasti memiliki hikmah. Ukhti Nia yang melihat langsung kekuasaan Allah dengan kejadian yang menimpah keluarga mereka mebuatnya semakin kuat dan memahami dirinya sendiri.

Mendengar ceritanya, begitu mengharukan dan bangga sekaligus sedih dengan keadaan saudara kita yang saat ini membutuhkan bantuan dan dukungan. Sangat tegar dan percaya bahwa ketika Allah telah berkehendak maka itu pasti terjadi. Keluarga ukhti nia ini sangat bernyukur atas nikmat dan keselamatan dari keluarga-keluarganya yang pada saat kejadian mereka berada dirumah.

Jangan takut dengan cobaan yang telah diberikan kepada kita, “kita harus tetap beryukur” tegasnya. Karena disetiap cobaan pasti ada hikmah dibaliknya, hanya kepada Allah kita berseru dan hanya kepada Allah tempat kebali. Kenikmatan, kebahagian ataupun ujian adalah bukti kekuasaan dan kasih sayang Allah terhadap hambanya bersyukur. Kita doakan saudara kita untuk tetap semangat dan kembalinya kelurga-kelurga yang berpisah dengan keluarganya yang lain. (JUM)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here