Genap delapan tahun tak bersua dengan tanah kelahiran, terpisah dalam jarak tentu akan selalu menyisakan satu rasa, yaitu rindu. Mereka  yang keluar rumah dari  kampung halaman, tentu tak akan  pernah lupa  jalan pulang dan tempat asalnya. Dalam konteks budaya,pulang kampung ( pulkam) menjadi sebuah tradisi yang dianggap istimewa dalam momentum tertentu. Peristiwa ini akan bertambah sakral saat terkait dengan hari besar keagamaan. Perjalanan menuju kampung halaman  berbalut rindu itu pun semakin dinanti menjelang hari raya Idul Fitri.

Sebuah Renungan: Bersabar Tidak Mudik

Untuk para perantau, pulang kampung menjadi hadiah paling berharga dan istimewa. Mereka yang berhasil melalui perjalanan sampai ke rumah merasa seakan lahir kembali, atau paling tidak ada rindu yang tersembuhkan. Demi bersilaturahim dan berkumpul dengan keluarga besar di Hari Raya Idul Fitri, jutaan orang rela membelah aspal jalan tol, antre masuk kapal laut, hingga pesawat udara. Mereka berbondong-bondong menuju kampung halaman. Bagi saya ,Setidaknya mudik adalah perjalanan tentang rasa, Selain dimensi spiritual kultural,  Pulang kampung memberikan rasa nyaman, aman, dan tenang karena bertemu dengan keluarga besar. Orang-orang perantauan yang dipenuhi beban perasaan kerinduan, dan kesedihan karena jauh dari orangtua, keluarga atau kampung halamannya. Karenanya mereka melakukan aktifitas mudik, dalam rangka ‘menghilangkan’ semua kesedihan tersebut.

Realitanya bahwa tahun 2021 adalah tahun kedua wabah pandemi yang belum juga usai, hingga berbagai keputusan dan ketetapan dari pemerintah pusat dan daerah diluncurkan demi satu kemaslahatan , menghambat laju penyebaran virus covid 19. Mau atau tidak, suka atau tidak pemerintah  telah mengeluarkan Surat Edaran Satgas Penanganan Covid-19 Nomor 13 Tahun 2021 untuk melarang mudik Lebaran 2021  yang berlaku pada 6-17 Mei 2021. Yah,  dengan,berbagai kamuflase  para pemudik masih juga melanggengkan tujuan mudik ke kampung halaman meski pemerintah  telah mewanti-wanti. Berkaca pada pengalaman tahun lalu, keterlambatan pengumuman menyebabkan banyak masyarakat yang tetap mudik ke kampung halaman. Akibatnya, kasus Covid-19 saat itu meningkat hingga 90 persen. Ditahun ini Kemenhub Prediksi 26,7 Juta Orang Akan Mudik Lebaran. Dan jika hal ini tidak segera di cegah setelah lebaran sangat mungkin terjadi peningkatan (kasus Covid-19), sebagaimana tahun lalu yang meningkat hampir 90 persen.

Lalu bagaimana dengan rasa rindu pada kampung halaman? Haruskah dibayar dengan silaturahim virtual saja?Cukupkah mengobati kerinduan pada aroma kampung halaman?

Disinilah rasa dan asa beradu, disinilah nilai-nilai amaliah Ramadhan kita mulai teruji. Bukankah Ramadhan telah melatih kita menjadi pribadi yang bersabar? Karena hari ini faktanya Jarak adalah obat terbaik untuk memupuk rindu, sekaligus menguji kesabaran kita. Maka bersabar untuk tidak mudik adalah ujian  pertama kita menuju syawal tahun ini.

Untuk  meletakkan manusia di titik keinginan yang besar bersua dengan yang terkasih  memang tidak mudah. Menunggu hari-demi hari dengan sekuatnya rasa tentu adalah hal yang tak tertahankan, Tetapi apakah kita tidak pernah terpikir ? jangan-jangan dengan sedikit sabar yang kita berikan untuk tidak mudik, dapat memberikan manfaat yang besar untuk umat ini, atau bahkan sebaliknya?

Sesungguhnya jarak itu hanyalah  ilusi , jauh yang hanya ada di pikiran. Karena sejatinya rindu itu di hati kita, mereka yang terkasih meskipun tak bersua karena tak mudik akan selalu membatin dalam benaknya. Maka dengan adanya anjuran untuk tidak mudik akan menjadi ujian tersendiri bagi kita. Jarak yang  diciptakan sedemikian rupa untuk menjadikan kita  lebih bersabar dan jujur pada ketaatan kita.  Karena  sebenarnya jarak itu tidak bisa diukur dengan satuan meter , jarak itu hanya ada untuk orang-orang yang lemah kekuatannya, lemah cintanya, dan lemah kejujurannya.

Sejauh apapun keluarga kita tak dapat bersua,  ia akan dekat , Allah itu jauh , tapi ia bisa sangat dekat dan kita rasakan kehadirannya di setiap jejak kita. Ia ada di dalam diri kita , rasa cinta dan rasa ikatan batin itu hidup, hidup diantara orang – orang yang mencintai , orang yang mencintai RabbNya , dan orang yang mencintai pasangannya. Selebihnya jarak memang diciptakan sebagai pupuk untuk menyuburkan kerinduan. Jika tidak  mudik tahun ini adalah kesedihan terdalam bagi kita yakinlah “Sesungguhnya setelah  kesulitan itu ada kemudahan”.

Oleh : Zelfia (Kadept Humas infokom Muslimah Wahdah Pusat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here