Kemanapun seorang anak pergi, sejauh apapun ia melangkah, maka
keluarga adalah tempat terbaik untuk berkumpul. Namun, apa jadinya jika justru
sebaliknya? Padahal keluarga adalah pondasi awal untuk membangun
generasi, lingkungan sosial pertama bagi seorang anak untuk menjejakkan
sejarah. Mengapa ada perbedaan positif dan negatif dalam memaknai
keluarga? Tentu perbedaan ini tidak lepas dari komponen keluarga dalam
membingkai makna tersebut. Terkadang ada pro dan kontra bahkan untuk
generasi penerusnya sendiri. Apa yang dipikirkan dan apa yang dilakukan justru
terkadang tak sebanding dengan hasilnya. Hidup memang penuh paradoks.
“Belajar yang rajin yah, Nak. Kelak besar kamu jadi orang cerdas dan
dapat pekerjaan yang baik, sehingga kamu bisa meringankan beban dan
membalas jasa-jasa orangtua,” demikian sebagian orang tua memberikan
nasehat dan motivasi kepada putra-putrinya.

Memang tidak bisa dipungkiri, kebanyakan orang tua atau keluarga di
Indonesia memotivasi anak-anaknya untuk rajin belajar agar dapat pekerjaan
dan jabatan yang baik. Dulu kita sangat akrab dengan pertanyaan, “Apa cita-
citamu, Nak?” Jawabannya pasti mengarah pada jenis profesi; polisi, insinyur,
dokter hingga presiden. Ada poin penting yang terlewatkan.

Kita kadang lupa, bahwa seorang anak adalah aset terbesar yang tak
ternilai harganya, bukan hanya sebatas dunia tapi juga akhirat. Berawal dari
jiwa yang lemah atau karena mata yang telah digelapkan dunia. Membuat kita
keliru dalam membangun visi-misi keluarga.

Nampaknya kita patut bertanya, apakah motivasi tentang jabatan,
pekerjaan, dan status sosial di masyarakat masih relevan? Tidak saja karena
zaman yang terus melaju, tetapi juga karena fakta yang menunjukkan tidak
sedikitnya orang yang mengatakan dirinya berilmu justru bermental inlander
atau budak. Akankah kita mencetak generasi yang sama?

Keahlian, kepandaian, dan ilmu yang dimiliki bukan lagi hidupnya
diabdikan untuk Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya, ummat dan bangsa,
tetapi untuk kepuasan diri sendiri. Mereka mengabdi demi mencapai
kenyamanan hidup meski dengan mengorbankan kepentingan umat, rakyat,
bangsa, dan agama. Apalagi di zaman sekarang, jabatan dan profesi bukan lagi
suatu hal yang sulit didapatkan. Bak buih dilautan, generasi yang dihidupkan
dalam sistem kejahilian seakan menjadi budak-budak yang tak bertuan dan tak
punya aturan.  Akal serta fitrah yang melekat seakan menghilang tak berjejak.
Saya teringat dengan pesan Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi
wasallam. “Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan
penipuan. Ketika itu, pendusta dibenarkan, sedangkan orang yang jujur malah
dianggap berdusta. Pengkhianat dipercaya, sedangkan orang yang amanah
justru dipandang sebagai pengkhianat. Pada saat itu ruwaibidhah berbicara.”
Seorang sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah yang dimaksud
dengan ruwaibidhah?” Rasulullah menjawab, “Orang bodoh yang ikut campur
dalam urusan masyarakat luas” (HR Ibnu Majah). Hadis tersebut adalah salah
satu nasihat Rasulullah  mengenai akhir zaman. Beliau shalallahu ‘alaihi
wasallam memperkenalkan suatu istilah, yakni ruwaibidhah. Itu merujuk pada

orang-orang yang berbicara atas nama orang banyak, tetapi bukan untuk orang
banyak itu. Ruwaibidhah juga berarti orang yang berbicara atas nama umat,
tetapi tujuannya bukan untuk umat itu. Ruwaibidhah adalah mereka yang
berbicara atas nama rakyat dan bangsa, tetapi kerjanya bukan untuk bangsa
dan rakyat itu.

Berkaca dari permasalahan yang terjadi, maka sudah seharusnya
dilakukan upaya-upaya yang dapat membangun negara kita dengan
mengoptimalisasikan peran setiap generasi. Akan menjadi awalan yang buruk,
jika para orangtua tidak mau tampil menjadi teladan bagi anak-anaknya.
Padahal orangtua adalah figur pertama dalam membimbing dan memberikan
keteladanan (uswah) yang baik (transfer of values),  sehingga tidak jarang
orang mengatakan bahwa anak adalah potret orangtuanya, segala sikap dan
perilakunya menggambarkan suasana lingkungan keluarganya.
Sebagai muslim tentu visi hidup kita tidak terbatas pada dunia belaka. Ada
visi akhirat yang menembus kefanaan dunia. Al-Qur’an telah membimbing kita
akan hal ini;
يَـٰٓأَيُّہَاٱلَّذِينَءَامَنُواْقُوٓاْأَنفُسَكُمۡوَأَهۡلِيكُمۡنَارً۬اوَقُودُهَاٱلنَّاسُوَٱلۡحِجَارَةُ
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari
api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS. At-Tahrim
Tidak dapat dipungkiri keluarga memiliki peranan sangat penting. Sebab,
berawal dari sebuah keluargalah generasi itu terbentuk, baik atau buruknya.
Maka setiap keluarga seharusnya membangun visi-misi bersandarkan pada Al
Quran dan Sunnah sesuai pemahaman salafush shalih.

Realita yang terjadi hari ini, generasi nyaris diperbudak oleh tekhnologi.
Hadirnya generasi yang bermental budak, korup, dan pola pikir yang tidak
produktif lainnya. Maka revolusi mental perlu di awali dari lingkungan keluarga.
Kata Bung Karno Presiden pertama negara kita, dalam pidatonya yang khas
menggelegar dan bergemuruh, bahwa membangun suatu negara, tak hanya
sekadar pembangunan fisik yang sifatnya material, namun sesungguhnya
membangun jiwa bangsa. Membangun jiwa yang merdeka, melepaskan diri dari
perbudakan, mengubah cara pandang, pikiran, sikap, dan perilaku agar
berorientasi pada kemajuan, sehingga Indonesia menjadi bangsa yang besar
dan kompetitif.

Membangun jiwa berarti membangun akhlak mulia. Membangun akhlak
mulia sama halnya dengan membersihkan hati dan ruh. Maka membangun jiwa
dalam keluarga tentunya menanamkan pendidikan akhlak. Maka terdapat
konsep pembentukan pribadi seorang muslim yaitu konsep tarbiyah islamiyah.
Konsep pendidikan seperti ini harus tertancap dengan kuat, bahkan sepanjang
hayat terus terbawa, kemanapun ia berada.

Hari ini kita hidup di zaman modern, sering kita kenal sebagai generasi
milenial dimana generasi bertumpu pada gadget. Perangkat yang selayaknya
menjadi alat bantu dalam beraktivitas kini justru menjadi sesuatu yang selalu
kita prioritaskan di atas aktivitas lainnya. Jika dibiarkan, fenomena ini dapat
mengubah generasi masa depan menjadi budak teknologi dimana teknologi
seharusnya dapat menjadi sarana untuk mengembangkan diri dalam mencapai
kesuksesan.

Kita tak perlu heran ketika hari ini Indonesia menjadi pasar yang sangat
potensial untuk perekonomian Korea Selatan. Mengapa? Karena remaja kita
berada dalam persentase 3 besar menderita Korean Wave atau demam korea,
yang sangat identik dengan dunia hiburan. Salah satu paling diminati adalah
music pop (k-pop), film hingga budaya. Bahkan dengan bangganya mereka
menjadi konsumen skincare, kosmetik, pakaian hingga makanan yang tidak
jelas halal-haramnya. Generasi muda telah menjadi budak semua itu. Padahal
generasi muda adalah tonggak perubahan, tonggak pembangunan dalam
sebuah bangsa. Hal ini menunjukkan bahwa akan ada transformasi budaya,
apa yang berikutnya terjadi? Akan terjadi pergeseran nilai dari agama kita.
Terjadi penyimpangan syariat dan krisis akhlak. Ini karena kurangnya
pengetahaun orangtua atau kurang kuatnya pondasi dalam keluarga. Tentu
peristiwa di atas menunjukkan bahwa ada yang keliru dalam proses pendidikan
dalam keluarga.

Hampir tiap saat kita disuguhkn berita kriminal. Seorang anak SD yang
bunuh diri ditinggal pacarnya, seorang ibu rela menganiaya anaknya karena tak
sabar dalam proses mendidik anaknya, seorang anak yang rela membunuh
orangtuanya demi harta. Na’udzubillahiminzalik. Lahirnya generasi bermental
budak, membuat kita harus lebih aware bahwa pentingnya pondasi utama yang
lahir dalam keluarga.

Memiliki keluarga bahagia adalah impian semua orang. Tapi, tidak semua
orang tahu bagaimana cara mewujudkannya. Sebagian sibuk membuat standar
tersendiri tentang keluarga bahagia yang harus diraih hingga akhirnya mereka
justru lupa menikmati perjalanannya dan semakin jauh dari tujuan bahagia yang
hakiki, berjumpa di surga.

Namun perjumpaan dengan keluarga di surga tidak semudah itu untuk
diwujudkan. Banyak diantara kita yang menginginkan perkumpulan di surga,
namun lupa dengan rambu-rambunya. Dalam berbagai riwayat dikisahkan
bahwa beberapa keturunan Nabi, beberapa di antaranya tidak dapat berkumpul
karena tidak mengikuti perintah Rabbul ‘izzati. Namun tidakkah kita ingin,
ketika malaikat menjemput, kita mendapatkan kesudahan yang baik? Seperti
yang dikisahkan dalam QS. Ar-Ra’d: 22-24;
“Orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik), yaitu
Surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama orang yang saleh
dari bapak-bapak mereka, istri-istri mereka, dan anak-cucu mereka, sedang
malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu (sambil
mengucapkan), ‘salaamun alaikum bimaa shabartum (keselamatan atasmu
berkat kesabaranmu). ‘Maka, alangkah baiknya tempat kesudahan itu”
Seperti sebuah festival, siapa yang berhasil melalui fase dunia maka
mereka akan diperjumpakan dengan keluarganya bak reuni di tempat terbaik.
Allah subhanahu wata’ala juga berjanji kepada hamba-Nya bila setiap keluarga
nantinya akan saling tarik menarik untuk masuk ke surga-Nya. Termasuk juga
ketakwaan dari anak yang beriman akan menjadi amalan orang tuanya di
akhirat nanti.

Maka mari kita berlomba memenangkan sebuah festival menarik untuk
bekal di surga nanti, menarik keluarga kita disana sebanyak-banyaknya,
dengan meciptakan generasi yang saleh-salehah. Mengapa? karena setelah
proses di dunia selesai, buah terbesar dari kesabaran mendidik generasi, kelak

akan mengangkat derajat orang tua mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda,
“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali
tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang diambil manfaatnya dan doa
anak yang shalih” (HR. Riwayat Muslim).

Keluarga yang kita miliki hari ini, tak lain adalah titipan Allah, maka
tebarkanlah cinta dalam rumah kita. Cinta yang lahir dari sebuah keluarga,
melahirkan generasi yang kuat. Seperti ranting pohon, berada di tempat yang
berbeda, tapi mereka tetap memiliki akar yang satu. Jika akarnya kuat, maka
rantingnyapun akan kuat, kokoh ditempatnya masing-masing. Maka mari kita
hadirkan cinta dalam rumah kita, where there is family, there is love. Semoga
kita semua termasuk orang yang mendapat kesempurnaan nikmat di dunia dan
akhirat. Amin.

Penulis : Yaya el Fatih

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here