MUSLIMAH WAHDAH PUSAT
MUSLIMAH WAHDAH PUSAT
TUTUP

Bukan Wisata Hura-Hura, Family Gathering Muslimah Wahdah Sulsel Kental Nuansa Religi

Muslimahwahdah.or.id - MAKASSAR, Ratusan Pengurus Muslimah Wahdah Sulsel dan Keluarga Menyatu dalam Family Gathering di Malino

Muslimah Wahdah Wilayah Sulawesi Selatan (Sulsel) menggelar kegiatan Family Gathering dan Kajian Pengurus di Villa Rindu Alam, Kavling 04, Malino, Kabupaten Gowa. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, Sabtu hingga Ahad (10–11 Oktober 2026), ini dihadiri oleh lebih dari 200 peserta yang terdiri dari pengurus, suami, serta anak-anak mereka.

Ketua Muslimah Wahdah Wilayah Sulsel, Ustazah Nur Amsi Mahmud, S.Pd., menjelaskan bahwa agenda yang mengusung tema istiqomah, ukhuwah, dan keluarga menyatu dalam dakwah ini bertujuan untuk menguatkan ukhuwah dan keistiqomahan antar pengurus dan keluarganya.

"Tujuan dari family gathering ini adalah untuk semakin menguatkan keistiqomahan, ukhuwah (persaudaraan) sesama pengurus beserta seluruh anggota keluarganya dalam bingkai dakwah Islam," ujar Ustazah Nur Amsi di sela-sela kegiatan.

Nuansa Religi yang Kental

Kegiatan diisi dengan lomba anak-anak, games ukhuwah, sharing sesama pengurus, shalat tahajud bersama, kajian pengurus, olahraga, majelis ayah, dan wisata ke Sierra Sky View, Malino, Kabupaten Gowa.

Berbeda dengan rekreasi pada umumnya, kegiatan ini memadukan konsep liburan dengan penguatan spiritual. Salah satu perwakilan keluarga pengurus yang hadir, Yulianti Arsan, memberikan apresiasi tinggi terhadap suasana positif selama acara berlangsung.

"Pertama kali yang saya rasakan adalah kekompakan para pengurus. Suasana religinya sangat bagus. Ini bukan wisata hura-hura, melainkan bentuk refreshing yang seimbang karena nuansa religi yang sangat dominan. Saat saya ikut shalat berjamaah dan shalat tahajud bersama, kekhusyukan dan kekompakannya sangat terasa,” ungkap Yulianti.

Pesan Penguatan Istiqomah dan Dakwah Seumur Hidup

Selain rekreasi, acara ini juga dirangkaikan dengan sesi Kajian Pengurus. Hadir sebagai pemateri via Zoom Meetings, Ustaz Dr. Yusran Anshar, Lc., M.A., memberikan taujihat (arahan) mendalam mengenai pentingnya menjaga konsistensi di jalan kebaikan. Dosen IAI STIBA Makassar ini mengutip hadis riwayat Imam Muslim, "Aku beriman kepada Allah, kemudian istiqomahlah." Menurutnya, kalimat tersebut singkat, tetapi memiliki makna dan tanggung jawab yang sangat berat.

Ustaz Yusran menceritakan kisah saat rambut Rasulullah ﷺ mulai beruban karena memikirkan beratnya perintah istiqomah dalam Al-Qur'an, salah satunya yang termaktub dalam Surah Hud ayat 112:

فَاسْتَقِمْ كَمَآ اُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْاۗ اِنَّهٗ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ

"Maka, tetaplah (di jalan yang benar), sebagaimana engkau (Nabi Muhammad) telah diperintahkan, begitu pula orang yang bertobat bersamamu. Janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan."

"Istiqomah bukan masalah kecil. Kita akan merasakan bahwa istiqomah adalah kalimat yang ideal dan menjadi harapan bersama. Namun, di waktu yang sama, kita juga akan menyadari bahwa tantangannya tidak mudah," jelas Ustaz Yusran.

Di akhir kajiannya, Ustaz Yusran mengingatkan para pengurus bahwa komitmen (iltizam) dalam berdakwah tidak mengenal batas waktu ataupun masa jabatan.

"Periodisasi kepengurusan itu hanya formalitas organisasi. Namun, perjuangan yang sesungguhnya adalah hingga ajal menjemput. Kita harus menjadi aktivis sepanjang masa, seumur hidup kita. Kepengurusan ini hanyalah media bagi kita agar terfasilitasi untuk terus berbuat dan berkontribusi bagi agama ini," pungkasnya.

Membangun Ketahanan Keluarga Lewat Sinergi di Majelis Ayah

Sebagai bentuk implementasi nyata dalam pengokohan ketahanan keluarga, kegiatan ini menghadirkan sesi strategis bertajuk Majelis Ayah. Sesi ini diisi langsung oleh Ustaz Syamsuddin Kurru, M.Pd., selaku Ketua Bidang V Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Wahdah Islamiyah, untuk memberikan pembekalan khusus mengenai peran vital kepala keluarga dalam dakwah Islam.

Dalam arahannya, Ustaz Syamsuddin Kurru menekankan bahwa ketahanan keluarga yang hakiki hanya dapat terwujud apabila terjadi sinergi yang kuat antara suami dan istri. Beliau mengajak para suami untuk menumbuhkan jiwa mujahid yang tidak hanya fokus pada nafkah lahiriah, tetapi juga aktif dan saling menguatkan perjuangan istri (mujahidah) di medan dakwah. Sinergi dua arah ini dinilai menjadi benteng utama keluarga muslim dalam menghadapi tantangan zaman sekaligus menyelaraskan langkah menuju visi keluarga bersama, yakni masuk surga sekeluarga.

0 Komentar

Belum ada pesan

Tinggalkan Pesan