Perempuan itu menggendong bayi kecilnya dengan perasaan galau. Kantung matanya menunjukkan betapa semalam ia nyaris tak pernah terlelap karena si bayi didera demam, hingga siang itu. Ia sudah mencoba memberikan penurun panas sejak malam kemarin, tapi malah dimuntahkan. Tubuhnya terasa remuk, namun hatinya lebih kacau lagi.

Kondisi ini harus segera normal kembali, pikirnya. Raga perempuan itu memang siaga di rumah, mengusahakan si bayi tetap makan meski mentok beberapa suap, menyusuinya, dan tetap berupaya memberikan obat dan terapi rumahan yang ia tahu. Tapi bukan hanya itu, jemarinya juga tak henti bertanya ke sana kemari lewat ruang maya, perihal dokter anak terbaik yang rencananya akan segera ia sambangi sore nanti. Ia bahkan hingga tak sadar, bahwa bayi dalam dekapannya akhirnya terlelap.

Beberapa hari kemudian, seorang sahabat yang berjumpa dengannya bertanya, tentang ke dokter mana akhirnya perempuan itu membawa sang anak. Dengan ekspresi lega, ia bercerita, bahwa selepas sore itu bayinya ternyata justru membaik, suhu tubuhnya berangsur normal, hingga tak jadilah ia bertandang ke dokter manapun.

“Masyaallah, mungkin memang kita hanya perlu menunggu, ya…” ujar sang sahabat sambil tersenyum.

***

Ya, terkadang dalam menghadapi berbagai macam hal di hidup ini, kita hanya perlu menunggu.

Setelah mengikhtiarkan jalan terbaik yang dibarengi doa-doa, tawakkal adalah satu jalan yang sesungguhnya membawa kita pada ketenangan sesungguhnya.  Ketika kemudian hasil akhir itu kita yakini telah dirancang dengan sebaik-baiknya lewat suratan takdir Allah, meski terkadang ia tidak selalu sesuai dengan apa yang kita inginkan. Secepat yang kita harapkan.

Sayangnya, kerap kali kita begitu tergesa-gesa untuk memanen benih yang baru kemarin sore kita semai. Nafas kesabaran kita tidak cukup panjang untuk menanggung lelah yang terasa tidak nyaman. Padahal kita tahu, beratnya jalan yang ditempuh akan sebanding dengan pahala yang telah dijanjikan. Maka bukankah pahala kebaikan itulah yang sejatinya kita butuhkan?

“Akan tetapi, pahalanya tergantung pada usaha yang dikorbankan.” (HR. Muslim)

Namun, ketika hanya hal-hal materil yang nampak saja yang menjadi tolok ukur dari setiap perjuangan, semuanya akan menjadi nihil dan ternilai gagal ketika ternyata Allah menakdirkan sebaliknya. Dan kenyataannya, sangat mungkin hal itu terjadi. Kemudian kita akan merasa terpuruk, atau menilai orang lain tengah melakukan sesuatu yang buruk -ketika hal itu terjadi kepada selain kita.

Mungkin, kita hanya perlu menunggu. Menunggu dengan sisa kesabaran yang masih kita punya. Dalam keyakinan bahwa langkah kita akan dikuatkan dengan pertolonganNya semata. Bahwa Allah tak pernah tidur, dan akan senantiasa mengurus makhlukNya, bahkan meski saat itu kita akhirnya terlelap oleh segala lelah yang kita rasa.

Maka apapun yang sedang kita hadapi kini, sedang kita perjuangkan kini, mari hadapi kembali dengan kepala tegap. Perihal peluh dan air mata itu, usaplah hingga tak berbekas. Segala ketidaknyamanan tak mengapa untuk kita akui, sebab kita memang manusia dengan kemampuan yang terbatas. Mengakui kelemahan adalah satu pintu masuk untuk dapat mulai melepaskan ketidaknyamanan rasa di dalamnya. Terlebih, ketika pengakuan, rengekan, dan sepenuh harapan itu kita gantungkan kepada Allah.

Ketika Allah masih memberi kita sisa nafas untuk berhembus, berarti masih ada kesempatan untuk menyemangati diri; tetaplah bertahan, sedikit lagi.

“Maka bersabarlah engkau (Muhammad) dengan kesabaran yang baik.” (QS. Al Ma’arij [70]: 5) *AR

 

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here