Komisi Perempuan, Remaja, dan Keluarga Majelis Ulama Indonesia (PRK-MUI) menyelenggarakan Kongres Muslimah Indonesia ke-2. Kongres yang berlangsung pada 17-19 Desember 2018 di Hotel Grand Cempaka Jakarta ini mengangkat tema ‘Ketahanan Keluarga dalam Membentuk Generasi Berkualitas di Era Globalisasi’.

Dihadiri oleh sekitar 200 muslimah utusan muslimah MUI wilayah dan daerah serta pimpinan ormas muslimah tingkat pusat se-Indonesia. Termasuk ketua muslimah wahdah Islamiyah Pusat, ustadzah Harisa Tipa abidin didampingi anggota departemen pembinaan anak dan remaja , ustadzah Herda Hasanah.

Kongres Muslimah Ke-2 ini dibuka secara resmi oleh Prof. Dr. KH. Ma’ruf Amin selaku Ketua Umum MUI, keynote speech Sri Mulyani, SE., M.Sc., Ph.D sebagai Menteri Keuangan RI, dan pemberian pengarahan oleh Jendral Purnawirawan Ryamizard Ryacudu sebagai Menteri Pertahanan

Ketua Komisi PRK MUI, Azizah, mengatakan panitia memilih tema itu karena ketahanan keluarga yang kokoh mendapat tantanganan besar di masyarakat saat ini. Dia mencontohkan kasus bom bunuh diri oleh satu keluarga di Surabaya pada Mei 2018 lalu sebagai bentuk rapuhnya ketahanan keluarga. Hal itu diperparah dengan seorang ibu yang membawa semua anaknya dalam kegiatan tersebut, padahal sosok Ibu merupakan inti ketahanan keluarga.

Selain radikalisme, Azizah menambahkan, perceraian juga menjadi tantangan ketahanan keluarga paling utama. Dari 2 juta orang yang menikah setiap tahunnya, lebih dari sepuluh persen dari jumlah tersebut berakhir dengan perceraian yakni sebanyak 285.184 pasangan. Data itu didapatkannya dari Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama RI pada 2010.

“Jumlahnya (perceraian) selalu meningkat, dimana 70 persen penggugat cerai adalah istri, dengan alasan suami tidak bisa memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, ” katanya.

Kongres ini merupakan langkah strategis Komisi PRK-MUI dalam menjawab tantangan ketahanan keluarga untuk meningkatkan penguatan ekonomi, hukum, sosial, maupun pendidikan.
“Pada akhirnya ketahanan keluarga menjadi menjadi salah satu pilar terwujudnya ketahanan nasional, ” ungkapnya.
“ Keseragaman persepsi untuk memperkokoh ketahanan keluarga. Serta yang lain memunculkan rekomendasi Kongres Muslimah Indonesia yaitu diharapkan adanya sinergitas dari MUI dan ormas Muslimah se-Indoneisa dalam menjalankan berbagai program keummatan, dalam rangka melindungi anak, remaja dan keluarga dari berbagai tindakan kekerasan, baik kekerasan fisik psikis maupun kekerasan moral, selain itu rekomendasi keprihatinan atas ujian yang menimpa muslim/muslimah uyghut serta memberi dukungan atas perjuangan kaum muslimin disana. (U3)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here