Wahdah Islamiyah, sebagaimana namanya, berusaha untuk terus menjaga persatuan bangsa. Dalam rangka menyatukan asa menuju Muktamar IV, Wahdah Islamiyah menggelar Silaturahmi Nasional Kader Wahdah Islamiyah.

Kegiatan ini dimulai sejak 08.30-12.00 WITA, berlangsung secara daring melalui zoom meeting dan diikuti oleh kurang lebih 50.000 kader se-Indonesia, baik memakai perangkat pribadi maupun dengan nonton bareng di tingkat pimpinan ranting, cabang, daerah dan wilayah, Ahad (14/11/21)

Mengangkat tema “Wahdah Islamiyah, Dulu, Kini dan Nanti,” Ust.Zaitun selaku pimpinan umum Wahdah Islamiyah memaparkan bagaimana perjalanan Wahdah Islamiyah sejak dirintis hingga menjadi organisasi kemasyarakatan. Beliau dengan visioner menceritakan cikal bakal berdirinya ormas Wahdah Islamiyah.

“Wahdah Islamiyah awalnya dirintis oleh beberapa orang pemuda yang memiliki keprihatinan terhadap kondisi ummat. Lalu melahirkan beberapa orang kader di Makassar dan melebar ke beberapa daerah. Para perintis juga mendapatkan kesempatan untuk belajar agama secara langsung di Arab Saudi,” jelasnya.

Tidak lama kemudian berdirilah STIBA yang mengajarkan pentingnya pantang menyerah, yang awalnya hanya belajar di masjid dengan asrama di samping masjid. Setelah itu diikuti oleh berdirinya sekolah seperti PAUD, SD, SMP dan seterusnya.

Perkembangan Wahdah Islamiyah semakin nampak saat Muktamar I di tahun 2007. Langkah untuk menyebarkan dakwah dimulai dengan Tebar Dai Nusantara. Alhamdulillah hasilnya bisa terlihat, 2017 berdiri DPD di seluruh kota dan kabupaten.

Menjelang Muktamar IV, Wahdah Islamiyah mulai dikenal secara nasional, bahkan telah memasukkan Wahdah Islamiyah sebagai ormas papan tengah dibawah Nahdatul Ulama dan Muhammadiyah.

“Dalam perjalanan dakwah, Allah memberi begitu banyak karunia, walau sebenarnya kita punya banyak kelalaian,” ujarnya sembari tetap merendah dengan pencapaian yang sudah dipaparkan.

Wahdah Islamiyah kedepan diharapkan tetap bisa membentuk pribadi-pribadi muslim yang berkualitas, menjadi istimewa karena iman yang kuat, punya semangat berbagi dan peduli kepada orang lain, terus berkorban dan berjuang untuk kebaikan manusia.

Salah satu agenda penting dalam Muktamar IV adalah pembahasan tentang ketahanan keluarga. Menurut beliau, ada 3 fungsi keluarga yang diharapkan ada pada kader diantaranya, bahwa keluarga berfungsi sebagai ma’wa yakni sebagai tempat berteduh, berbagi suka dan dukanya sehingga menguatkan pribadi-pribadi kuat, yang melahirkan sosok penyayang.

Keluarga juga diharapkan sebagai madrasah, tempat untuk mengasuh hati, menggembleng kepribadian sehingga lahir generasi-generasi yang kuat dalam aqidah dan ibadah. Yang ketiga, bahwa keluarga merupakan markaz terkecil perjuangan. Ia adalah pusat-pusat dakwah untuk setiap insan di dalamnya dan di lingkungannya.

Hadir dalam Silatnas ini, Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan yang sangat menginspirasi para peserta. Ust. Zaitun Rasmin sangat berterima kasih atas kehadiran orang nomor satu Jakarta ini. “Walau sibuk, beliau tetap meluangkan waktu memberikan hak orang-orang yang bisa beliau tunaikan,” ujarnya

Baca juga http://muslimahwahdah.or.id/hadiri-silatnas-wahdah-islamiyah-ini-harapan-gubernur-dki/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here