Oleh: Zelfia,S.IP.,MM.,M.Sos.I

(Kadept.Humas & Infokom Muslimah DPP Wahdah Islamiyah)

Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-Ankabut: 1-3)

 ———————————————

Masih lekang dalam ingatan kita peristiwa Tsunami ditahun 2004 yang menimpa hebat Nangroe Aceh Darussalam serta beberapa negera Asia lainnya. Kala itu semua mata tertuju pada musibah besar yang tidak hanya merenggut ratusan bahkan ribuan nyawa tetapi juga menghancurkan hampir seluruh bangunan, dan yang tersisa hanya sedikit saja. Tentu duka yang paling mendalam adalah kehilangan sanak saudara, kerabat, teman sejawat dan  traumatik akan peristiwa tersebut.

Berbicara musibah dengan segala bentuknya, banjir bandang, kemarau berkepanjangan, longsor, badai dahsyat, angin kencang dan lain sebagainya bukanlah episode pertama dari album manusia tentang kedukaan-kedukaan atas musibah dalam kehidupannya, kita tentu masih ingat bagaimana itupula pernah terjadi bahkan sebelum Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam diutus untuk menyampaikan risalah kebenaran . Dalam Alquran, diceritakan kisah-kisah umat terdahulu yang dibinasakan oleh Allah Ta’ala karena melakukan berbagai penyimpangan yang telah dilarang. Kaum Nabi Nuh ‘alaihissalam yang mendustakan dan memperolok-olok Nabi Nuh ‘alaihissalam. Lalu, Allah mendatangkan banjir yang besar, kemudian menenggelamkan mereka yang ingkar tak terkecuali anak dan istrinya, lalu kaum Nabi Hud ‘alaihissalam didatangkan padanya angin yang dahsyat disertai dengan bunyi guruh yang menggelegar hingga mereka tertimbun pasir dan akhirnya binasa , dan yang paling mahsyur kisah kaum Nabi Luth ‘alaihissalam, yang berbuat maksiat menyukai dan menghalalkan hubungan sesama jenis (homoseksual dan lesbian), Allah akhirnya memberikan azab kepada mereka berupa gempa bumi yang dahsyat disertai angin kencang dan hujan batu sehingga hancurlah rumah-rumah mereka. Dan, kaum Nabi Luth ‘alaihissalam ini akhirnya tertimbun di bawah reruntuhan rumah mereka sendiri. Allahu Akbar.

“Dan musibah apa saja yang menimpa kalian, maka disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)”. (QS. asy Syuura : 30).

Apa yang terjadi pada saudara-saudari kita di Lombok Nusa Tenggara Barat pada hakekatnya merupakan ujian/cobaan dari kehidupan manusia di dunia. Bukankah setiap mu’min mau tidak mau, bisa tidak bisa akan melewati ujian yang nantinya akan berdampak pada satu hal yaitu apakah cobaan itu  telah mampu mendewasakan keimanan dan ketaatannya kepada Sang Pencipta atau sebaliknya Ia semakin jauh dariNya.

“Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 1-2)

Musibah yang terjadi juga harus menjadi pemantik kesadaran kita untuk berbenah iman dan takwa, meluruskan dan memurnikan ibadah dengan sebaik-baiknya, berlaku adil pada sesama serta jujur pada dosa dan kemaksiatan yang dilakukan terang-terangan maupun secara tersembunyi bilamana menjadi faktor substansial yang terbesar Allah Ta’ala menguji dengan gempa dan ujian semisalnya. Seorang mukmin yakin bahwa bukan hanya fakto fisik alam yang lagi tidak sehat akan tetapi juga adalah pelaku (penikmat) alam itu sendiri; manusia. Muhasabah atas kemaksiatan dan dosa-dosa anggota tubuh dari  kepala hingga kaki, apa yang pernah dan masih dilakukan. Bertaubat kepada Allah Azza wa Jalla, konsisten di atas din (agama)nya, serta waspada terhadap semua yang dilarang, yaitu berupa perbuatan syirik dan maksiat. Sehingga, mereka selamat dari seluruh bahaya di dunia dan akhirat.

Dilain sisi, gempa yang terjadi di Lombok NTB akan menguraikan satu makna, satu  jiwa  tentang peduli kepada sesama atas dasar kemanusiaan, inilah yang kita kenal dengan istilah ukhuwah islamiyah. Ukhuwah Islamiah dan persatuan umat lebih utama dari  kepentingan pribadi atau kelompok, banyak korban yang telah berjatuhan sakit dan didera sedih berkepanjangan membutuhkan uluran tangan

 “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu bersaudara.” (QS. Al-Hujurat: 10).

Setiap muslim yang dirundung duka dan ujian maka sepantasnyalah muslim lainnya turut meringankan beban pikiran dan kesedihannya. Saling mengenal (ta’aruf), saling memahami keadaannya (tafahum), saling menlong ,memberi bantuan (ta’awun), saling membebani (takaful) dan mendahulukan kepentingan saudara (itsar).  Inilah yang tengah dan harus selalu dilakukan dari ujian yang menimpa saudara kita di Lombok. Membangun kesepahaman , turut merasakan kesusahan yang mereka alami hingga kita mencoba untuk menolong mereka, mengirimkan bantuan fisik, materi dan lain sebagainya.  Maka kedukaan yang mereka hadapi saat ini paling tidak akan sedikit berkurang karena kasih sayang dan perhatian kita yang tulus kepadanya. Sebab musibah di Lombok ,musibah kita semua. Wallahu a’lam.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here