Komunikasi antar budaya adalah komunikasi antar pribadi yang dilakukan oleh mereka yang berbeda latar belakang kebudayaannya (Enjang, 2009. 24-34). Budaya-budaya yang berbeda memiliki sistem nilai yang berbeda dan karenanya ikut menentukan tujuan hidup yang berbeda. Cara berkomunikasi sangat bergantung pada budaya: bahasa, aturan, dan norma masing-masing (Liliweri, 2011. 9). Komunikasi dan kebudayaan merupakan dua konsep yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya memperhatikan pada variasi langkah dan cara manusia berkomunikasi melintasi komunitas manusia atau kelompok sosial. Alo liliweri dalam buku “Makna Budaya dalam Komunikasi Antar Budaya” menjelaskan tentang komunikasi antar budaya yaitu merupakan interaksi dan komunikasi antar pribadi yang dilakukan oleh beberapa orang yang memilki latarbelakang kebudayaan yang berbeda (Liliweri, 2009. 12-13 ). Forum komunikasi majelis taklim forum merupakan  forum yang secara konsistem berdakwa lintas budaya. Mereka membawa tampilan simbol- simbol keagamaan yang khas dan berbeda dengan simbol-simbol budaya masyarakat setempat. Kelompok ini usianya relatif masih muda, lahir pada tahun 1998 sebagai dan memantapkan diri sebagai sebuah forum pada tahun 2014. Dalam usianya yang begitu muda, tantangan-tantangan yang dihadapi tidak sedikit. Tampilan simbol-simbol budaya dan keagamaannya tidak menutup kemungkinan menimbulkan hambatan-hambatan sosial dan budaya dalam berinteraksi dengan masyarakat di lingkungannya. Selain hambatan sosial budaya. 

Meskipun cukup banyak benturan serta hambatan yang dihadapi para daiyah yang tergabung dalam forum komunikasi majelis taklim tidak membuat forum  ini lemah, bahkan mereka semakin eksis. Hal ini ditunjukkan dengan semakin berkembang dan semakin meluasnya jangauan dakwah mereka tidak hanya di wilayah regional Sulawesi Selatan, namun sudah mampu melebarkan pergerakannya hingga mencapai di 14 kecamata se Kota Makassar. Para daiyah dari FKMT  senantiasa menyesuaikan diri dengan membangun kesepahaman terhadap kelompok masyarakat yang lain dengan senantiasa berpedoman pada komunikasi antar budaya, maka semnagat berfasatabiqul khairat tetap dapat diterapkan kepada suku, kelompok apapun itu.

Munculnya berbagai persoalan di masyarakat membutuhkan solusi dengan metode pendekatan yang kreatif dan inovatif. Salah satu pilihan solusi yang bisa dilakukan adalah dengan mengembangkan dan melakukan kreasi dan inovasi terhadap metode dakwah yang dilakukan kepada masyarakat. Metode dakwah yang dilakukan perlu disesuaikan dan menyentuh langsung pada realitas persolaan yang sehari-hari dihadapi oleh masyarakat dimana lokasi dakwah tersebut dilakukan.

Oleh karena itu, metode pendekatan yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan dakwah kultural. Ustadzah Shafiyah salah satu daiyah di Forum Komunikasi Majelis Taklim  menyampaikan bahwa dakwah kultural merupakan pilihan metode dakwah dengan cara menanamkan nilai-nilai islam dalam seluruh dimensi kehidupan dengan memperhatikan dan menyesuaikan pada potensi serta kecenderungan manusia sebagai makhluk budaya. Dengan tujuan agar muncul kultur baru yang bernilai Islami sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar- benarnya. “Metode dakwah kultural sangat menghargai potensi dan kecenderungan manusia sebagai makhluk budaya, sekaligus melakukan upaya dan usaha agar budaya tersebut membawa pada kemajuan dan pencerahan hidup sesuai dengan nilai-nilai Islam,” katanya.

Dakwah kultural fokus pada menafsirkan ajaran Islam dengan memahami dan memberi apresiasi pada kondisi psikologi, sosial, ekonomi serta kondisi obyektif sasaran dakwah.  “Selain dengan memberikan pemahaman agama secara umum maka masyarakat dengan kondisi ekonomi yang belum baik perlu disentuh juga dengan pemahaman dan program-program pemberdayaan ekonomi. Masyarakat dengan kondisi dan akses pelayanan kesehatan yang belum baik perlu disentuh dengan pemahaman terkait pentingnya kesehatan dan juga pendirian pusat-pusat pelayanan kesehatan. Kemudian masyarakat dengan kecenderungan memiliki kecintaan terhadap aktifitas kesenian perlu juga didekati dengan dakwah melalui kegiatan kesenian,” tambah ummu ali.

Fenomena dan objek dakwah yang sangat beragam, maka beragam pula tantangan yang dihadapi oleh umat Islam di manapun dan kapanpun. Melihat beragamnya objek dakwah, maka beragam pula strategi dakwah yang dilakukan oleh da’i. Demikian juga budaya dari objek dakwah sangat beragam.

Apa sebetulnya yang disebut dengan dakwah? Kata dakwah sering diungkapkan dalam al-Qur’an secara langsung oleh Allah dalam ayat al- Qur’an. Ini membuktikan bahwa dakwah adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan menusia. Tidak salah jika M.Iqbal, seorang pembaru dari Pakistan berkata “sesuatu yang paling berpengaruh dalam kehidupan saya adalah nesehat ayah yang mengatakan; anakku, bacalah al-Qur’an seakan akan ia diturunkan padamu” (Basith, 2006. 26).

Menurut aisyah salah seorang daiyah FKMT menyampaikan bahwa  FKMT berkomitmen memperkuat pendekatan budaya sebagai salah satu elemen penting dakwah Islam di Tanah Air. Khusunya di Kota Makassar dimana konflik antar etnis masih sering terjadi maka, dengan budaya lah agama Islam dapat diterima baik oleh penduduk pribumi awal kedatangan Islam. Demikian disampaikan oleh salah satu informan penelitian ummi aisyah,

Kebudayaan Islam lokal saat ini kian terancam oleh beragam budaya dan ideologi baik yang muncul dari kalangan barat ataupun timur. Akibatnya, upaya memperkenalkan Islam sebagai agama yang damai dan cinta keindahan justru semakin buram oleh pertarungan budaya tersebut. Karenanya, para daiyah FKMT  dikatakan Ummu Abdullah, melakukan berbagai upaya agar akulturasi budaya khususnya jika kami masuk di daerah-daerah yang rawan konlik tersebut. Salah satunya melalui upaya sosialiasi ke berbagai Majelis taklim  yang merupakan basis kaderisasi di kalangan FKMT. Termasuk pula memberikan penyadaran kepada warga para binaan kami aakan pentingnya menggunakan budaya dalam berdakwah.

Pendekatan budaya, kata Ummu Abdul, bisa dilakukan memakai berbagai media mutakhir termasuk melalui berbagai media dakwah sebagai media dakwah kebudayaan. Kekuatan cultural itulah perlu dikuatkan lagi,”.

Sebagai gerakan dakwah Islam, FKMT dituntut untuk mampu menghadirkan spirit pencerahan di tengah-tengah masyarakat. Dengan hadir secara langsung untuk membimbing dan membina umat. Sehingga dakwah pencerahan yang bertujuan untuk melakukan dinamisasi dan purifikasi tercapai.

Salah satu metode dakwah yang dirumuskan oleh Forum Komunikasi Majelis Taklim adalah dakwah kultural. Dakwah Kultural sendiri merupakan sebuah konsep dakwah yang komprehensif, dengan mencoba memahami potensi kecenderungan manusia sebagai mahluk budaya. Pemahaman manusia sebagai mahluk budaya diperoleh dari kajian sosilogi dan antropologi agama.

Dalam kajian tersebut manusia disebutkan sebagai homo religius, homo festivus, danhomo symbolicum. Dikatakan sebagai homo religius karena manusia memiliki kecenderungan mengaitkan segala sesuatu di dunia ini dengan kekuatan ghaib, kecenderungan ini adalah contoh nyata bahwa manusia adalah mahluk yang percaya kepada Tuhan. Dikatakan homo festivus karena manusia adalah makhluk yang senang mengadakan festival. Sejak zaman purba sampai zaman modern agenda untuk mengadakan festival tidak pernah hilang dari kehidupan manusia.

Selanjutnya, dikatakan  homo symbolicum karena manusia memiliki kecenderungan untuk mengekspresikan pemikiran, perasaan dan tindakannya dengan mengunakan simbol, seperti bahasa, mitos, tradisi dan kesenian. Dalam megekspresikan kepercayaan kepada Tuhannya, manusia mengunakan simbol yang bisa berupa festival ataupun ritus keagamaan.

Kreativitas dan inovasi kultural dalam berdakwah juga dilakukan oleh Rasulullah SAW ketika memperlakukan Tsumamah bin Utsal, kepala Suku Bani Hanifah. Ketika menjadi tahanan perang, Tsumamah bin Utsal setiap pagi Nabi Muhammad SAW menjamu dengan susu onta sebagai penghormatan terhadap kedudukan sosial Tsumamah. Hingga pada saat dibebaskan tanpa syarat, Tsumamah tidak  langsung bergegas kembali ke kaumnya, melainkan bersuci dan menyatakan masuk Islam.

Karena secara substansi, misi dakwah kultural adalah upaya melakukan dinamisasi dan purifikasi. Dinamisasi bermakna sebagai kreasi budaya yang berkembang ke arah lebih baik dan Islami. Sementara, purifikasi diartikan sebagai usaha pemurnian dengan mencerminkan nilai-nilai Tauhid. Wilayah dakwah kultural menyangkut hal-hal yang berhubungan dengan budaya lokal, budaya global, seni, multimedia dan dapat diterapkan dalam melaksanakan Gerakan Jama’ah..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here