oleh : Zelfia, Ketua Departemen Humas Infokom Muslimah DPP Wahdah Islamiyah

Ditengah padang  yang tandus itu Hajar berlari, mencoba mengais jejak air untuk menjawab tangis putera semata wayangnya. Ada dua bukit di sana. Dan dari ujung ke ujung coba ditelisiknya dengan seksama. Tak ada. Sama sekali tak ada tanda. Tapi dia terus mencari. Berlari. Bolak-balik tujuh kali. Mungkin dia tahu, tak pernah ada air di situ. Mungkin dia hanya ingin menunjukkan kesungguhannya pada Allah. Sebagaimana telah ia yakinkan sang suami, “Jika ini perintah Allah, Dia takkan pernah menyia-nyiakan kami!”

Dan kejaiban itupun memancar. Zam zam! Bukan. Bukan dari jalan yang dia susuri atau jejak-jejak yang dia torehkan di antara Shafa dan Marwa. Air itu muncul justru dari kaki Isma’il yang bayi. Yang menangis. Yang haus. Yang menjejak-jejak. Dan Hajar pun takjub. Begitulah keajaiban datang. Terkadang tak terletak dalam ikhtiar-ikhtiar kita.

Maka dari Hajar kita akan belajar makna kerja keras dan kesungguhan. Bahkan untuk menunjukkan ketakwaan  kita kepada Allah, kita tidak bisa diam saja menunggu keajaiban itu menghampiri, kita harus bergerak, bekerja dengan gigih dan yakin. Karena Allah  tidak akan pernah menyia-nyiakan iman dan amal kita. Biarkan janji Allah datang dari arah yang tak kita sangka.

Sementara itu, dari kejauhan Nabi Ibrahim pun melakukan hal yang sama, menatap langit dengan mengangkat kedua tangannya dan berdoa, ‘’Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rizkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.’’ (QS. Ibrahim: 37).

Sepasang suami dan isteri yang dikarunai karakter takwa yang begitu kuat, keimanan yang menghujam didada, melunturkan sifat-sifat lemahnya seorang manusia. Mereka menjadi keluarga yang solid menjawab, menghadapi ujian dari Allah Tabarakallah. Do’a yang dipanjatkan Ibrahim a’alaihissalam  menunjukkan padanya sikap peduli dengan masa depan keturunannya, baik dari aspek keimanan maupun kesejahteraan

Dimanakah  Janji Itu Akan Terjawab? 

Hajar dan bayinya telah ditinggalkan oleh Ibrahim di lembah itu. Sunyi yang menyergap kegersangan yang membakar. Yang ada hanya pasir dan cadas yang membara. Tak ada pepohon tempat bernaung. Tak terlihat air untuk menyambung hidup. Tak tampak insan untuk berbagi kisah. Kecuali bayi itu. Isma’il yang terus  menangis karena lapar dan kehausan. Sebenarnya Mudah saja jika Allah langsung menunjukkan kuasaNya, untuk sekejap mengalirkan air di lembah yg kering itu,  tapi bukan itu yang terjadi. Hajar harus besusah payah untuk berlari berulang kali dari shafa dan Marwa, tanpa suami yang menemani dengan satu keyakinan bahwa Allah pasti tidak akan membiarkannya’’ Dan Allapun menepati janjinya. Kesungguhan Hajar dalam sepenggal kisah di lembah yang tandus itu menyegerakan kita untuk menapak kesungguhannya.

Dari Hajar kita belajar totalitas yang disertai doa akan menghasilkan yang terbaik. Keteladanannya sebagai  perempuan yang penuh kasih sayang, sabar dan tidak goyah iman kendati cobaan terus mendera menjadi teladan bagi kita muslimah hari ini.

Di sisi lain, sebagai ayah, Nabi Ibrahim a’laihissalam yang begitu sangat menghargai anaknya, Nabi Ismail a’laihissalam. Tatkala diperintah oleh Allah untuk disembelih Nabi Ibrahim mengajak anaknya Ismail ‘alaihissalam berdialog, bertanya kepadanya tentang pendapatnya. Sebab Nabi Ibrahim menganggap Nabi Ismail sebagai orang dewasa yang telah siap memilih, sebagaimana diceritakan pada QS Ash- Shaffat ayat 102 yang artinya:

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

Episode ini juga tak lupa  memberikan kita pelajaran besar tentang arti pengorbanan atas dasar keimanan,  bahwa Nabi Ibrahim mencontohkan keikhlasan untuk mengorbankan anak yang dicintainya di jalan Allah. Kita bisa bayangkan bagaimana tingginya rasa sayang Nabi Ibrahim kepada Nabi Ismail, yang lahir setelah penantian 86 tahun.

Memiliki sikap untuk sanggup mengorbankan sesuatu yang kita cintai, seperti harta, di jalan Allah dengan ikhlas adalah salah satu sifat orang bertakwa. Memiliki hati yang lapang untuk memberi tanpa kata ‘nanti’ di jalan Allah merupakan nikmat sekaligus ujian  yang tidak semua manusia mampu menghadapinya.  Hewan kurban yang kita sembelih mulai hari ini adalah satu cara kita meneladani Nabi Ibrahim. Hikmah teladan yang agung bagi setiap orang beriman untuk yakin bahwa pada setiap kesulitan yang menerpa ada nikmat yang tiada tara akan menyertai kita. Semoga idul qurban tahun ini memberi makna terdalam bagi kita semua untuk hidup dalam keikhlasan dan pengorbanan untuk beramal shaleh tanpa takut dan ragu-ragu. Insyaa Allah.

Wallahu’alam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here