“Jadilah seperti padi, makin berisi makin merunduk”

Kita semua tentu sangat familiar dengan pepatah tersebut. Pepatah indah yang begitu sering didengungkan oleh para pengajar kita, tentang bagaimana seharusnya ilmu membuat seorang manusia menjadi lebih tunduk dalam kerendahan hati.

Sayangnya, saat melihat realita yang terjadi, pepatah ini seakan menjadi sekadar jargon saja. Seperti tagline yang terus kita dengar atau kita baca tanpa benar-benar diresapi. Maka seiring berjalannya waktu, sering kita dapati, realisasi pepatah ini menjadi begitu jauh. Sebagian besar manusia, ternyata, semakin berilmu seringkali semakin memandang tinggi dirinya. Semakin bergelar, maka semakin ingin dihormati. Lalu, ilmu apa yang sebenarnya dimaksud pepatah ini?

Ketika belajar agama, tarbiyah, ada hal yang kemudian saya pahami. Sekolah umum itu, sekolah ilmiah itu.. secara umum memberi makan bagi akal/pikiran dan jasad, tetapi tidak atau kurang memberi makan “hati”. Padahal sifat padi yang digambarkan merupakan karakter tawadhu’, karakter istimewa yang terdidik dari keimanan kepada Robbul ‘alamin, karakter yang terdidik dari kemuliaan ilmu. Ya, ilmu, tetapi yang dimaksud adalah ilmu agama: Al-qur’an dan hadits-hadits Nabi sesuai pemahaman salafus shalih.

Maka, konsep tarbiyah yang mendidik ruhiyah (hati), tsaqofiyah (wawasan), dan jasadiyah (fisik) merupakan konsep dasar yang seharusnya dimiliki oleh pendidikan generasi hari ini. Termasuk bagi kita para ibu. Bukankah masyhur sekali perkataan Ibunda Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri -semoga Allah merahmati keduanya-, ”Wahai putraku, tuntutlah ilmu dan aku siap membiayaimu dari pintalanku.Wahai putraku, jika engkau telah mencatat sepuluh kalimat, maka perhatikan:Apakah engkau bertambah takut, sabar, dan sopan?Jika engkau tidak demikian, maka ketahuilah bahwa semua kalimat tadi akan membahayakanmu dan tidak bermanfaat bagimu.” (Riwayat Imam Ahmad).

Di antara ke-3 aspek penyusun manusia: fisik, akal, dan ruh/hati maka yang paling penting ialah “hatinya”. Sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah hanyalah melihat pada hati dan amalan kalian.” (HR. Muslim no. 2564).

Dan juga sabda beliau:
“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599)

MasyaAllah.. inilah di antara keadilan Allah ‘azza wa jalla yaitu Dia menjadikan seluruh manusia lahir di atas fitrah, menurut ulama yang dimaksud fitrah ialah keimanan walaupun lemah. Dan hati serta amalan itulah yang Allah ta’ala lihat dan jadikan patokan kemuliaan. Seseorang boleh saja terbatas secara fisik, tetapi iman dan ilmu (agama) menjadikannya mulia.

Maka di antara salah satu solusi melahirkan kembali generasi padi kepada anak-anak kita hari ini adalah mendidik hati mereka. Mendidik hati mereka dengan iman dan ilmu agama (Al-qur’an dan sunnah sesuai pemahaman salafus shalih), dan tarbiyah bisa menjadi di antara wasilah yang bisa diterapkan ke sekolah-sekolah umum. Semoga, dengan terdidiknya hati akan melahirkan akal dan jasad yang juga terdidik dalam bingkai iman.

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.“ (Al Mujadilah : 11).

Wallahu a’lam
Allahul musta’an

(Ummu Arqam)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here