Ada apa dengan sosial media?

Setiap manusia pasti pernah merasakan ada hal  yang tidak diinginkan. Semua orang juga pasti pernah mempunyai problema kehidupan. Demikianlah sunatullah,di saat tertentu orang hidup bahagia dan senang, di saat yang lain pula boleh jadi akan ada sedih dan duka yang mendera. Dalam perjalanan waktu dan  bertambahnya usia, setiap orang  menyikapi masalah kehidupannya dengan beragam tindakan. Ada yang mencurahkan perasaan dan uneg-unegnya kepada keluarga, teman, atau bahkan kepada benda-benda mati. Adapula yang memilih diam dan menyendiri. Atau pilihan terakhir bagi sebagian orang  untuk mengakhiri usia  dengan sesuatu yang abnormal, bunuh diri. Naudzubillah

Di era digital seperti sekarang ini,dimana akses informasi melesat menjamah seluruh usia. Tak pantang tua,muda atau bahkan anak-anak ada banyak peluang dan kemudahan yang diperoleh manusia dan tak terkecuali muslimah untuk aktif menjadi satu diantara sekian banyak pengguna dari layanan sosial media. Fenomena menjamurnya media sosial ini juga tidak jarang membuat pening penggunanya, terutama perempuan. Ada banyak kasus yang berasal dari media sosial semisal Facebook menimbulkan keresahan di kehidupan nyata , di pertemanan di Facebook, di-bully di Twitter dan banyak lainnya

Maka ketika para peneliti Rutgers University di New Jersey dan Pew Research Center di Washington, DC menemukan bahwa wanita yang sering menggunakan media sosial memiliki skor 21 persen lebih rendah pada tes yang mengukur stres daripada wanita yang tidak menggunakan teknologi tersebut. Temuan survei tersebut menambahkan dimensi baru untuk fenomena yang secara massif terjadi dalam beberapa tahun terakhir, mereka yang sering menggunakan situs media sosial seperti Facebook dan Twitter telah dikaitkan dengan sejumlah hasil negatif, mulai dari narcissist personality disorder  hingga self-destructive behavior. Semua yang ditulisnya adalah situasi mengerikan dalam hidupnya. Masalah-masalah kepada teman, guru, orangtua, atau bahkan masalah rumah tangga pun diceritakannya di sana. Tak peduli apakah itu aib atau bukan.

Tentu hal tersebutlah bukanlah sebuah prestasi yang harus dibanggakan, akan tetapi sebuah musibah dan pelajaran untuk semakin cerdas dan bersikap pertengahan dalam menyikapi setiap keadaan.Bukan saja hanya pada soal problematika hidup, akan tetapi juga tentang melalui siapa dan bagaimana seseorang mampu memecahkan kebekuan hidup serta memurnikannya tanpa ‘meminta bantuan’ sosial media sebagai tempat berbagi dan peduli lagi sehingga semua manusia mengetahuinya.

Tips Jitu Muslimah bersama dunia maya/ sosial media

Sesungguhnya semua masalah itu pasti ada jalan keluar.begitupula dengan kegembiraan yang dialami semuanya adalah skenario yang  telah Allah perturutkan. Lalu kita hanya  berharap pada kekuatan Sang Pemilik langit  untuk bersabar atas bait demi bait doa yang telah diucapkan.  Maka cukuplah  semua perkara yang dihadapi seorang muslimah hanya dicurhatkan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Cukuplah seorang muslimah hanya akan menampakkan kelemahannya di hadapan Allah, tidak kepada makhluk yang sama-sama lemah. Maka tidak ada daya untuk menghindari kemaksiatan dan upaya untuk melakukan ketaatan kecuali kekuatan dari Allah Ta a’la.

Cobalah  mengambil ibrah dari kisah Nabi Ya’qub ‘alaihissalam satt menghadapi kesedihan berupa kehilangan putranya, Yusuf, sehingga anak-anaknya yang lain mengiranya akan bertambah sakit dan sedih. Maka dengarlah jawaban Nabi Ya’qub yang perlu diteladani setiap muslimah

Dia (Ya’qub) menjawab: “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (QS Yusuf: 86)

Olehnya itu para pembaca, adanya media sosial ini sejatinya dapat menguatkan persaudaraan satu sama lain bukan sebaliknya melemahkan atau bahkan menjatuhkan kemuliaan seorang muslim.  Sebab Allah senantiasa tak bosan menanti kesungguhan usaha dan doa hambaNya untuk meminta dan mengadu hanya kepada pemilik langit da bumi.

Media Sosial untuk Dakwah

Melihat maslahat yang ada pada sosial media seperti facebook dan lain sebagainya.  Maka tak ada penggunaan yang lebih baik, kecuali semata-mata untuk kebaikan, menebar kemakrufan dan dakwah illallah.

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shalih, dan berkata, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (Fushshilat: 32)

Akan tetapi, tentu saja untuk menceburkan diri untuk melakukan dakwah di jejaring sosial media  ini tidak boleh dilakukan dengan sembarangan. Karena setiap dakwah,setiap kemakrufan  perlu kepada ilmu, Maka ketika seseorang ingin berdakwah dia harus memerhatikan siapa saja yang akan membaca status atau catatannya. Akankah yang ia sampaikan membawa kepada perdebatan atau tidak. Dan lain sebagainya  sebagai hal-hal yang harus diperhatikan dalam dakwah.

Niat ikhlas pun harus senantiasa mengiringi aktivitas kita dalam menggunakan media sosial ini. Sebab jangan sampai kebaikan yang ingin kita bagi terkotori dengan hal-hal yang merusak keikhlasan,  Lalu kemudian,  selalu  mengiringinya dengan muraqabah kepada Allah, yaitu selalu merasa diawasi oleh Allah. Karena tanpa hal ini seseorang akan mudah tertarik dan terjerumus ke dalam langkah-langkah setan yang cukup halus.

Maka para pembaca, Untuk menjadi satu diantara sekian orang yang menggunakan sosial media hendaknya ia menimbang-nimbang terlebih dahulu, untuk apa dia masuk ke dalamnya, dan apakah kita memiliki kekuatan untuk menghadapi bahaya-bahaya di dalamnya atau tidak. Dan  pada akhirnya hanya kepada Allah Taa’la tempat memohon pertolongan.

Penulis : Fauziah Ramdani ( Anggota Departemen Pembinaan Generasi Muda Muslimah Wahdah Islamiyah Pusat )

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here