Ini adalah kali pertama saya kembali ingin menulis, banyak diksi dikepala tapi seolah waktu tak memberi ijin kepadaku untuk sejenak saja berada didepan laptop, Kesibukan baru menikmati, membersamai anak kedua ku adalah sebuah nikmat yang tak dapat saya lewatkan. Tapi berita tentang akan menikahmu menjadi  alasan untuk menuliskan ini. Perihal masa taaruf yang kau kabarkan lewat chat sms. Sejenak menghentikan aktifitasku, mengeja setiap kalimat yang kau sampaikan, Alhamdulillah, tak sabar rasanya mendapatkan kabar selanjutnya…apakah keluargamu menerima, apakah lamaran berjalan lancar, lalu dan lalu hingga semakin yakinlah aku pada saat kau memintaku mendesain visualisasi undanganmu. Kau akan berlabuh di bahtera yang baru saudariku.

Matahari pagi selalu sama, perasaan kita tidak. Seperti langit yang berubah sewaktu-waktu. Tidak seperti air yang mengalir. Lebih seperti jalan yang terjal naik turun bergelombang.  Pernikahan seperti itu setidaknya bagiku. Ia adalah sebuah proses yang tak akan pernah selesai ,bukan tentang siapa yang sayang nya lebih besar atau yang paling banyak berjuang tapi sepanjang ini saya belajar bagaimana kita bersamanya bisa selalu menjaga ketersalingan ini, belajar berjuang bersama–sama bagaimana memposisikan diri dengan benar. Belajar mengelola ego bersama, mencintainya kelak berarti kita akan siap memenuhi kewajiban sebagai pendamping dan siap menjadi lebih baik dari saat dia sendiri dulu. Karena salah satu alasan memilih hidup berdua adalah itu.

Diantaramu dengannya akan tercipta samudera setidaknya itu menurutku. Karena Pernikahan adalah perbuatan jiwa. Kita akan merasa cocok dan tidak saya rasa itu biasa, Karena kita manusia dan tidak menikah dengan patung, bukan begitu silo… Kita akan  merasa ada kecocokan dengannya bukan karena tampilan fisik semata, terlihat serasi atau tidak, apakah almamaternya sama atau tidak, apakah gelar dibelakang dan didepan namanya sepadan atau tidak.

Detik berdetik dalam jarak yang sama, perasaan akan saling mengaduk. Kita akan saling mencocokkan semua hal. Mencintainya kelak berarti kita akan selalu mendukung dan mengingatkan serta mencukupkan keperluannya. Tatap mata bertemu, senyum malu-malu, dan terkadang kita pun harus sedikit belajar berpura-pura. Pura-pura bertanya kabar, pura pura semua baik baik saja. Yah itu menjadi seni tersendiri. Maka  selalu bersyukur apapun pemberiannya entah kita meminta atau tidak karena itu sudah menjadi tugas kita. Mencintainya kelak, kita harus sanggup berada dibelakangya berjalan disampinya dan sesekali didepannya untuk memastikan semua baik baik saja. Kita akan selalu menjaga agar rasa itu tidak padam. Lewat caramu nanti, berharap dia juga akan melakukan dengan caranya.

Maka mulailah  dengan bersepakat

Dengan niat baik semua akan dimulai. Kau pernah bilang tak pernah terbayangkan sebelumnya bagaimana harus berada satu atap dengan orang asing  yang baru benar benar kita kenal. Maka, akan banyak sekali penyesuaian yang harus dilakukan. Sejak dalam pikiran hingga perbuatan, mulai dari membuka mata hingga menutupnya kembali, menyampaikan apa apa yang tersembunyi hingga belajar membuka dan apa adanya. Dengan karakter masing masing yang jauh berbeda kedewasaan dan kebiasaan yang berbeda pula , maka hidup bersama adalah pembelajaran selamanya.

Selamat menempuh bahtera yang baru nanti silo..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here