Hebat rasanya ketika mendengar ada seorang wanita lulusan sebuah universitas ternama telah bekerja di sebuah perusahaan bonafit dengan gaji jutaan rupiah per bulan. Belum lagi perusahaan sering menugaskan wanita tersebut terbang ke luar negri untuk menyelesaikan urusan perusahaan. Tergambar seolah kesuksesan telah dia raih. Benar seperti itukah?

Kebanyakan orang akan beranggapan demikian. Sesuatu dikatakan sukses lebih dinilai dari segi materi sehingga jika ada sesuatu yang tidak memberi nilai materi maka boleh jadi akan dianggap remeh. Cara pandang yang demikian membuat banyak dari wanita muslimah bergeser dari fitrahnya. Perbedaan mindset yang berpandangan bahwa zaman menuntut wanita untuk tidak hanya tinggal di rumah menjadi ibu rumah tangga tetapi juga tampil unjuk gigi  di luar, menjadi sosok yang mampu berdikari dan berkarir hingga terkadang nampak menandingi posisi atau kedudukan laki-laki, meski terkadang terjerat oleh pelanggaran syariat. Hal ini bermula dari streotipe yang berkembang di masyarakat bahwa menjadi ibu rumah tangga merupakan pekerjaan yang rendah dan tidak mendapatkan posisi di masyarakat, dan hal tersebut, juga tidak hanya berlaku pada kalangan masyarakat elit, tetapi juga menengah dan kalangan menengah kebawah.

Membangun Paradigma tunggal ; Ibu Sebagai Seorang Pendidik

Allah subhanahu wata’ala  telah memberi kedudukan mulia bagi perempuan dengan menetapkan mereka menjadi seorang ibu dan pengatur rumah tangga. Itulah posisi terbaik bagi wanita, karena Allah Pencipta segenap makhluk sangat mengetahui apa yang terbaik bagi mereka.Karena kewajiban utamanya menjadi ibu dan pengatur rumah tangga, maka Islam memberi hak bagi perempuan untuk mendapatkan nafkah dari suaminya. Mereka tinggal di dalam rumah, tetapi mendapat pemenuhan kebutuhan hidupnya secara makruf.

Syaikh Muhammad bin Shalih al ’Utsaimin rahimahullah mengatakan bahwa perbaikan masyarakat bisa dilakukan dengan dua cara: Pertama, perbaikan secara lahiriah, yaitu perbaikan yang berlangsung di pasar, masjid, dan berbagai urusan lahiriah lainnya. Hal ini banyak didominasi kaum lelaki, karena merekalah yang sering nampak dan keluar rumah. Kedua, perbaikan masyarakat di balik layar, yaitu perbaikan yang dilakukan di dalam rumah. Sebagian besar peran ini diserahkan pada kaum wanita sebab wanita merupakan pengurus rumah. Hal ini sebagaimana difirmankan Allah subhanahu wa ta’ala yang artinya:

”Dan hendaklah kalian tetap di rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa kalian, hai Ahlul Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab: 33)

Pertumbuhan generasi suatu bangsa adalah pertama kali berada di buaian para ibu. Ini berarti seorang ibu telah mengambil jatah yang besar dalam pembentukan pribadi sebuah generasi. Ini adalah tugas yang besar! Mengajari mereka kalimat Laa Ilaaha Illallah, menancapkan tauhid ke dada-dada mereka, menanamkan kecintaan pada Al Quran dan As Sunah sebagai pedoman hidup. Dalam sorotan Syariah, Islam sangat memperhatikan peran dan tugas ibu karena ibulah kunci lahirnya generasi tangguh yang akan melanjutkan peradaban yang lebih baik. Menjadi ibu berkualitas haruslah memiliki kecerdasan spiritual, kecerdasan ruhiyah yang menyadari bahwa dirinya adalah hamba Allah yang wajib menjalankan seluruh peran keibuan dalam rumah tangga dan meyakini semua itu akan dimintai pertanggungjawaban kelak oleh Allah Azza wajalla.

Memilih menjadi Muslimah Produktif walau dirumah

Maka kini tibalah waktunya kebimbangan bagi seorang muslimah untuk ia dapat memberikan manfaat atau tidak. Banyak yang berargumen bahwa tugas seorang muslimah hanyalah dirumah dan mengurus pekerjaan rumah saja, mengurus anak, dan suami.  Pernahkah kita berfikir, bahwa menjadi muslimah yang dinilai “sukses” tidak harus bekerja diluar ? Pernahkah kita berpikir untuk menjadi perempuan yang sukses kita tidak harus mengorbankan separuh waktu di tiap harinya demi memperoleh kebutuhan materi? Lalu pernahkah berpikir, diluar sana, Banyak ladang pekerjaan dan amalan yang dapat kita lakukan bahkan walau dengan hanya berada dirumah saja. Aktivitas apa saja itu?

 

Menjadi pribadi muslimah yang bermanfaat berarti bukan menjadi muslimah yang berorientasi menjadi kaya raya, cerdas, karir cemerlang dan memiliki kecantikan fisik yang sempurna. Definisi kata “bermanfaat” adalah menjadi sesuatu yang berguna, berfaedah dan memberikan keuntungan. Menjadi pribadi yang bermanfaat dalam kaitannya sebagai makhluk Allah. Yaitu dengan menjadi makhluk yang memberikan guna, faedah dan keuntungan bagi sesama dan lingkungannya yang semata-mata diniatkan untuk mendapatkan ridha Allah.

Menjadi muslimah produktif merupakan dambaan bagi setiap muslimah, apalagi yang telah memiliki keluarga kecil, suami dan anak. Seorang muslimah seyogyanya mencari dan memilih kemampuan apa saja yang bisa dilakukan dirumah, yang juga akan membantu perekonomian keluarga. Menulis misalnya aktivitas yang justru jika dilakukan dirumah akan lebih memicu konsentrasi dan menghasilkan buah karya pemikiran yang sempurna. Ada banyak pilihan aktivitas, yang tidak akan menggangu kualitas urusan rumah tangga selama dilakukan secara seimbang.

Islam telah memberikan aturan sebagai pegangan dalam segala aspek kehidupan manusia. Islam mengutamakan nilai-nilai produktivitas secara sempurna. Produktivitas inilah yang menjadi asas kebermanfaatan. Produktif dalam menghasilkan sebuah karya ataupun produktif dalam menghasilkan peningkatan serta perbaikan diri dan masyarakat. Muslimah dianjurkan agar menjadi sosok yang selalu produktif dan kreatif, tentunya hal ini selalu melalui penyeimbangan antara produktif materi dan juga produktif spiritual. Oleh karena itu, produktivitas di sini didefinisikan sebagai semua hal yang mengandung nilai-nilai kebaikan.

Menjadi seorang ibu merupakan tugas dan peran utama yang harus dijalankan oleh seorang muslimah, Menjalankan peran sebagai ibu tidak menutup ruang kreativitas dan kerja otak untuk berkarya sesuai dengan bakat dan kemampuan masing-masing. Yang terpenting adalah menselaraskan  dan  mengerahkan dua aktivitas sekaligus juga bersungguh-sungguh dalam mengerjakannya.

Semua itu dapat dilakukan dengan kemauan yang tinggi niat yang ikhlas hanya untuk mendapat ridho Allah Azza . wajalla Menjadi sosok muslimah produktif tak harus menunggu gelar atau title yang seabrek, mulailah dari diri sendiri, memulai dari hal yang kecil, seperti menyelesaikan amanah-amanah satu persatu, dan mulai saat ini pula kita senantiasa mengelola waktu dengan baik. Dalam hadist juga disebutkan “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain” (HR. Ahmad, Thabrani, Daruqutni)

Sehingga, tidak ada salahnya juga kan kita saling mengingatkan sebuah kebaikan, dengan niat yang ikhlas kemauan yang keras dan keinginan yang mulai terwujud, tentu akan lebih mudah bagi kita dalam menuai kebermanfaatan yang memunculkan keberkahan Allah. Karena Allah pasti akan membalas segala amal/perbuatan kita walaupun hanya seberat biji dzarah.

Wallahu a’lam bishawab ( artikel telah di terbitkan di majalah sedekah PLUS )

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here