Muslimahwahdah.or.id – Ruangan Cakalang Hotel Max One terasa begitu hangat, pertemuan yang tadinya hanya sebatas tatap muka depan layar kaca, seakan terbayarkan dalam Silaturahmi Nasional (Silatnas) Muslimah Wahdah, Selasa (22/11/2022).

Rasa haru dan senang bercampur aduk menjadi satu. Pertemuan para pejuang dakwah yang begitu sangat dirindukan hingga kembali tangis pecah memenuhi ruangan ketika kembali mengenang jejak-jejak awal perjuangan dakwah Muslimah Wahdah.

Silatnas yang tahun ini mengusung tema “Merangkai Cinta dan Estafeta Perjuangan di RUmah Kita” mengundang para muslimah yang menjadi pejuang-pejuang dakwah di awal hadirnya Muslimah Wahdah.

Ustadzah Harisa Tipa Abidin selaku Ketua Muslimah Wahdah Pusat menyebutkan adanya Silatnas ini sebagai momentum untuk memperlihatkan para guru-guru yang menjadi tonggak awal perjuangan Muslimah Wahdah.

“Momentum bagi saya ingin memperlihatkan kepada adik-adik. ini adalah guru-guru kita yang,menjadi rijalul shalihin,” ujarnya dihadapan peserta Silatnas yang berasal dari beberapa daerah seluruh Indonesia.

Ummu Khalid sapaan akrabnya kembali mengenang cerita-cerita perjuangan dakwah muslimah yang tidak mudah ketika tahun 1980-an yang begitu sulit penuh dengan intimidasi dan tekanan bahkan disebut pemberontak jika mengenakan jilbab.

Namun menurutnya dibalik itu semua, perjuangan dakwah muslimah yang sederhana menggantungkan asa dan harapan. “Cerita ini  tidak hanya hierarki tapi orisinalitas dari perjuangan muslimah yang sederhana dengan harapan yang membumbung setinggi langit,” tuturnya.

Hingga kini, berselang 35 tahun eksistensi dan tongkat estafet tetap berjalan seiring dengan kemudahan yang Allah berikan.

Di tengah menceritakan kisah-kisah perjuangan dakwah dahulu, tangis Ketua Muslimah Wahdah ini pecah mengingat bahwa beban menjadi ketua tidak mudah, meski dengan segala pencapaian saat ini.

“Saya takut  bukan karena bangunan atau lainnya, tapi eksistensi Muslimah saat ini. Saya takut ada ruang yang hilang, ada nilai yang hilang. dan kita semua menangis di liang lahat,” ujarnya dengan ucapan lirih.

Bayang-bayang perasaan yang menggelayutinya, kemudian kembali mengajak para pendahulu untuk terus merajut ukhuwah dengan kebaikan ini dan melanjutkan tongkat estafet dakwah.

“Semua adalah kebaikan karena Allah semata. Izinkan saya untuk berukhuwah dengan kita, semoga Allah  berkenan untuk dikumpulkan dengan Jannah bersama-sama,” harapnya.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here