Senin, 14 Juni 2021
Beranda blog

Majelis Taklim Muslimah Wahdah Siap Berikan Kontribusi Bela Palestina

0

Gencatan senjata telah dideklarasikan, tidak membuat Palestina benar-benar merasakan kemerdekaan hingga perjuangan belum berakhir. Atas dasar kemanusiaan dan keimanan, Indonesia terus memberikan dukungannya untuk membela Al-Quds. Kegiatan Indonesia Bela Al-Quds “Munashoroh dan Merawat Kemenangan” kembali hadir untuk menggaungkan syiar membela Palestina.

Dengan mengusung tema “Dari Mesjid Indonesia Untuk Mesjid Al-Aqsa, Al Quds dan Palestina Merdeka” kegiatan ini berlangsung Ahad (30/5/2021) di Mesjid Baruga Antang. Munashoroh ini berisi orasi Bela Palestina dan penggalangan dana.

Sebagai bagian dari pengurus mesjid, ibu-ibu majelis taklim yang tergabung dalam Forum Koordinasi Majelis Taklim (FKMT) Muslimah Wahdah Pusat turut andil dan siap memberikan kontribusi dalam Indonesia membela Al-Quds. FKMT sendiri mengerahkan 500 majelis taklim dalam kegiatan ini dan diadakan penggalangan dana khusus untuk anggota majelis taklim sebagai bentuk bela palestina.

Hj. Liza Harits, SP selaku Ketua FKMT menyebutkan bahwa keikutsertaan majelis taklim sebagai bentuk syiar kepada masyarakat. Selain itu, anggota majelis taklim juga diharapkan bisa merasakan perjuangan saudara kita di Palestina. Kegiatan ini menjadi bagian perjuangan kita, kepedulian dan kita merasakan empati.

Menurutnya sebagai forum, FKMT akan terus ada dan bersinergi dengan ormas lain selama itu masih beradar di koridor syariat. “FKMT siap kontribusi untuk dakwah di Indonesia dan Palestina,” ujarnya ketika diwawancara.

Euforia Belanja Menuju Lebaran di Masa Pandemi

0

Lebaran sebentar lagi, begitulah ungkapan yang seringkali terdengar. Hari ini kita hampir memasuki babak akhir perjuangan menuju kemenangan di hari yang fitri. Atas Seluruh kebaikan yang tercurah dari jiwa-jiwa umat Muslim selama Ramadhan saat Idul Fitri tiba begitu sangat terasa. Suara takbir yang bergema disudut-sudut kota hingga dipelosok desa menjadi haru mengingatkan kita pada banyak kisah.  Bahagia juga sedih tak mungkin terlupa karena tamu agung Ramadhan akan segera pamit. Menyambut hari raya paling sakral dan istimewa; hari raya idul fitri.

Berbondong-bondonglah kaum muslimin di negeri ini  mempersiapkan  diri dan keluarga menuju hari raya. Riuhnya  pusat perbelanjaan dipadati oleh para pembeli ; mall-mall, supermarket, aneka pasar tumpah ruah oleh manusia. Seolah mereka benar-benar  harus dan haus dengan ragam pakaian, makanan, minuman dan barang-barang lainnya yang wajib ada di hari raya Idul Fitri. Inilah  realitas budaya  dengan spirit  agama yang tumbuh subur dan mengakar kuat di ibu pertiwi tercinta. Lalu bagaimana sikap kita menghadapi fenomena tersebut?

Menyambut lebaran dengan penuh kebahagiaan tentu bukan hal yang sia-sia. Mempersiapkan diri  bersama sanak saudara, kerabat dan teman sejawat untuk bertemu,bersilaturahim di hari raya idul fitri adalah sunnah yang dianjurkan. Di masa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam  Sejarah mencatat perayaan Idul Fitri pertama kali diselenggarakan pada 624 Masehi atau tahun ke-2 Hijriyah. Saat bertepatan dengan selesainya Perang Badar yang dimenangkan oleh kaum Muslimin. Sebuah perjuangan yang diganjar dengan perayaan yang begitu istimewa dan berkah ;yakni Idul Fitri. Perayaan idul fitri yang identik dengan pakaian baru tentu bukanlah hal yang berujung kesia-siaan. Sebab hakekatnya , kita ingin mempersembahkan yang terbaik setelah sebulan penuh berjuang mengalahkan ego, nafsu dan syahwat demi meraih berkahnya bulan Ramadhan. Belanja alias shoping lebaran akan menjadi momentum eksistensi  syukur kita kepada Sang Kuasa atas nikmat dan rezeki yang diberikan. Namun jika saat berbelanja  lantas nyaris menguras waktu, materi dan berujung kesia-siaan,  apa yang akan kita tuai dari perangai yang justru akan mengundang  kemudharatan?

Berbelanja sewajarnya dan secukupnya. Sesuai kebutuhan  bukan karena ingin dan mau tetapi sejatinya kita berada  di fase butuh dan harus memilikinya. Bukan hal yang mudah tentu saja, ditengah geliat hidup kaum urban yang serba konsumtif dan glamour.Tetapi bukan tidak mungkin kita tidak mampu menahan  rasa ‘ingin’ dengan kesabaran untuk menahan diri,sebagaimana bulan puasa yang mengajarkan nilai-nilai tersebut di 30 hari menahan hawa nafsu untuk  tidak makan, minum dan  melakukan hal-hal  lainnya yang bisa saja dibolehkan diluar waktu puasa.

Kondisi pandemi yang juga belum usai, seharusnya menjadi pelajaran bagi setiap kita untuk semakin mawas diri dan sigap mempertimbangkan segala hal dengan akal yang lurus bahwa Idul Fitri  tahun ini adalah ajang muhasabah bagi kita, walau rasa rindu pada kampung halaman harus ditahan tanpa mudik, tetapi ajang silaturahim harus tetap berjalan., saling melapangkan dan memaafkan, merayakan hari kemenangan dan bersyukur masih dikaruniai umur yang berkah walau wabah pandemi belum juga usai.

Wallahu’alam

Penulis : Fauziah Ramdani (Pengurus Muslimah Wahdah Pusat)

Mudik Sebagai Ujian Kesabaran

0

Genap delapan tahun tak bersua dengan tanah kelahiran, terpisah dalam jarak tentu akan selalu menyisakan satu rasa, yaitu rindu. Mereka  yang keluar rumah dari  kampung halaman, tentu tak akan  pernah lupa  jalan pulang dan tempat asalnya. Dalam konteks budaya,pulang kampung ( pulkam) menjadi sebuah tradisi yang dianggap istimewa dalam momentum tertentu. Peristiwa ini akan bertambah sakral saat terkait dengan hari besar keagamaan. Perjalanan menuju kampung halaman  berbalut rindu itu pun semakin dinanti menjelang hari raya Idul Fitri.

Sebuah Renungan: Bersabar Tidak Mudik

Untuk para perantau, pulang kampung menjadi hadiah paling berharga dan istimewa. Mereka yang berhasil melalui perjalanan sampai ke rumah merasa seakan lahir kembali, atau paling tidak ada rindu yang tersembuhkan. Demi bersilaturahim dan berkumpul dengan keluarga besar di Hari Raya Idul Fitri, jutaan orang rela membelah aspal jalan tol, antre masuk kapal laut, hingga pesawat udara. Mereka berbondong-bondong menuju kampung halaman. Bagi saya ,Setidaknya mudik adalah perjalanan tentang rasa, Selain dimensi spiritual kultural,  Pulang kampung memberikan rasa nyaman, aman, dan tenang karena bertemu dengan keluarga besar. Orang-orang perantauan yang dipenuhi beban perasaan kerinduan, dan kesedihan karena jauh dari orangtua, keluarga atau kampung halamannya. Karenanya mereka melakukan aktifitas mudik, dalam rangka ‘menghilangkan’ semua kesedihan tersebut.

Realitanya bahwa tahun 2021 adalah tahun kedua wabah pandemi yang belum juga usai, hingga berbagai keputusan dan ketetapan dari pemerintah pusat dan daerah diluncurkan demi satu kemaslahatan , menghambat laju penyebaran virus covid 19. Mau atau tidak, suka atau tidak pemerintah  telah mengeluarkan Surat Edaran Satgas Penanganan Covid-19 Nomor 13 Tahun 2021 untuk melarang mudik Lebaran 2021  yang berlaku pada 6-17 Mei 2021. Yah,  dengan,berbagai kamuflase  para pemudik masih juga melanggengkan tujuan mudik ke kampung halaman meski pemerintah  telah mewanti-wanti. Berkaca pada pengalaman tahun lalu, keterlambatan pengumuman menyebabkan banyak masyarakat yang tetap mudik ke kampung halaman. Akibatnya, kasus Covid-19 saat itu meningkat hingga 90 persen. Ditahun ini Kemenhub Prediksi 26,7 Juta Orang Akan Mudik Lebaran. Dan jika hal ini tidak segera di cegah setelah lebaran sangat mungkin terjadi peningkatan (kasus Covid-19), sebagaimana tahun lalu yang meningkat hampir 90 persen.

Lalu bagaimana dengan rasa rindu pada kampung halaman? Haruskah dibayar dengan silaturahim virtual saja?Cukupkah mengobati kerinduan pada aroma kampung halaman?

Disinilah rasa dan asa beradu, disinilah nilai-nilai amaliah Ramadhan kita mulai teruji. Bukankah Ramadhan telah melatih kita menjadi pribadi yang bersabar? Karena hari ini faktanya Jarak adalah obat terbaik untuk memupuk rindu, sekaligus menguji kesabaran kita. Maka bersabar untuk tidak mudik adalah ujian  pertama kita menuju syawal tahun ini.

Untuk  meletakkan manusia di titik keinginan yang besar bersua dengan yang terkasih  memang tidak mudah. Menunggu hari-demi hari dengan sekuatnya rasa tentu adalah hal yang tak tertahankan, Tetapi apakah kita tidak pernah terpikir ? jangan-jangan dengan sedikit sabar yang kita berikan untuk tidak mudik, dapat memberikan manfaat yang besar untuk umat ini, atau bahkan sebaliknya?

Sesungguhnya jarak itu hanyalah  ilusi , jauh yang hanya ada di pikiran. Karena sejatinya rindu itu di hati kita, mereka yang terkasih meskipun tak bersua karena tak mudik akan selalu membatin dalam benaknya. Maka dengan adanya anjuran untuk tidak mudik akan menjadi ujian tersendiri bagi kita. Jarak yang  diciptakan sedemikian rupa untuk menjadikan kita  lebih bersabar dan jujur pada ketaatan kita.  Karena  sebenarnya jarak itu tidak bisa diukur dengan satuan meter , jarak itu hanya ada untuk orang-orang yang lemah kekuatannya, lemah cintanya, dan lemah kejujurannya.

Sejauh apapun keluarga kita tak dapat bersua,  ia akan dekat , Allah itu jauh , tapi ia bisa sangat dekat dan kita rasakan kehadirannya di setiap jejak kita. Ia ada di dalam diri kita , rasa cinta dan rasa ikatan batin itu hidup, hidup diantara orang – orang yang mencintai , orang yang mencintai RabbNya , dan orang yang mencintai pasangannya. Selebihnya jarak memang diciptakan sebagai pupuk untuk menyuburkan kerinduan. Jika tidak  mudik tahun ini adalah kesedihan terdalam bagi kita yakinlah “Sesungguhnya setelah  kesulitan itu ada kemudahan”.

Oleh : Zelfia (Kadept Humas infokom Muslimah Wahdah Pusat)

Luka di Akhir Ramadhan

0

Ramadhan adalah bulan yang sangat dinanti bagi orang islam yang beriman dan bertakwa. Ada banyak keberkahan yang turun di bulan suci tersebut. Setiap orang berlomba untuk menggapai setiap mili keberkahan. Saya dan mungkin begitu banyak orang memasang target besar dalam ibadah individu,  baca Quran lebih banyak, shalat sunah lebih rajin, tahajud lebih panjang, sedekah lebih kencang dan apapun itu yang terkait dengan ibadah individu.

Namun diantara itu, ada juga yang terus beribadah dengan kondisi yang tidak kondusif, bukan karena mereka tidak ingin, tapi keadaan dan  berbagai tuntutan hidup membuat mereka harus seperti itu. Saat kita sedang khusyu’ tarawih, di luar sana ada bapak tukang parkir yang sedang menjaga kendaraan kita, di luar sana ada puluhan remaja seusia kita yang harus berjuang untuk hidup, mereka menjadi penjaga toko, pelayan restoran, bahkan untuk bekerja itu mereka merelakan waktu shalat tarawih berjamaah mereka.  Dibelahan bumi Allah yang lain, saudara-saudara kita warga Palestina berlindung di Masjid Al-Aqsa dari Bentrokan  dengan polisi Israel di sekitar Masjid Al-Aqsa Yerusalem.  Saat itu itu, di kenikmatan malam-malam terakhir ramadan, kiblat pertama mereka dobrak tanpa hati, sepatu-sepatu serdadu menginjaki tumpuan sajadah, serasa runtuh hati dan jiwa kita melihat kondisi yang ada disana.

Di saat pagi kita bisa bersantap sahur, duduk manis di ruangan keluarga, makanan yang enak. Saudara-saudara kita di bumi syam terus berharap dengan  doa di sekeliling mereka polisi Israel berkumpul. Seperti diwartakan konflik kembali terjadi. Tepatnya di Sheikh Jarrah Yerusalem Timur, tempat di mana banyak keluarga Palestina menghadapi penggusuran.

Berbagai kondisi yang  terjadi tentu menjadi perenungan bagi kita. Di saat kita begitu bersemangat dan nyaman menikmati Ramadhan kita saat ini,  ada yang harus berjuang untuk hidup dan melakukan tugasnya. Para penjaga pintu alquds, para sopir bus malam, para nakhoda di lautan, buruh-buruh bangunan dan pelabuhan, petugas pom bensin, penjaga mini market, tukang parkir, masinis, pilot, dokter dan perawat yang harus berjaga di rumah sakit, dan lainnya. Mereka berjuang untuk hidupnya juga hidup orang lain, mungkin juga untuk keluarganya di rumah.

Ramadhan bagi setiap orang berbeda rasanya, berbeda maknanya. Bila ramadhan bagi kita begitu menyenangkan. Mungkin tidak semenyenangkan yang dirasakan oleh orang lain.
Bila ibadah di ramadhan kita 30 hari kemarin begitu tenang. Kita bisa membuat target-target ibadah yang tinggi. Mampu ikut kajian virtual di mana-mana. Lalu kita merasa begitu sempurnanya ramadhan kita kali ini dengan segenap pencapaian tersebut, maka ada yang merasakan sebaliknya.

Di akhir ramadhan ini ada luka yang menyayat tubuh kaum muslimin. Lebih dari 205 orang terluka dalam serangan Israel di Masjid Al-Aqsa. Pasukan Israel menyerang umat Muslim yang sedang melaksanakan ibadah shalat tarawih di Masjid al-Aqsa. Gerbang Damaskus Kota Tua, dan distrik Sheikh Jarrah pada hari Jumat. Protes itu terjadi ketika Pengadilan Pusat Israel di Yerusalem Timur menyetujui keputusan untuk mengusir tujuh keluarga Palestina dari rumah mereka demi pemukim Israel pada awal 2021. Masjid Al-Aqsa adalah situs tersuci ketiga di dunia bagi umat Islam. Orang Yahudi menyebut daerah itu “Temple Mount,” mengklaim sebagai situs dari dua kuil Yahudi di zaman kuno.

Hampir semua media massa menyampaikan perihal serangan tersebut, hampir seluruh media sosial menyatakan penolakan terhadap aksi brutal tantara Israel, beribu simpati  menghiasa layar handphone kita. Maka dititik inilah  kita berkaca kembali, tentang sejatinya mentalitas  pejuang ramadhan. Bahwa mereka tidak saja hidup dengan amalan-kuantitas semata tapi sejatinya Bersama dalam jiwa dan perilaku mereka. Wallahu a’lam

“Ya Allah, Yang Maha Hidup, Yang Maha Berdiri Sendiri, Engkau adalah tempat kami memohon bantuan dan Engkau adalah pembawa bantuan, tidak ada Tuhan selain Engkau! Melalui karunia-MU, rahmat, kelembutan dan kasih sayang-MU, limpahkan bantuan secepatnya untuk saudara Muslim kami, orang-orang penyebut kalimat ‘La ilaha illallah’ dari Gaza khususnya. Lindungi mereka dari segala bahaya dan lindungi mereka dari penindasan, kesombongan dan serangan orang lain. Berkati mereka dengan iman dan keyakinan, dengan kesalehan dan taqwa dan kemenangan yang sempurna. Lindungi pria dan wanita, muda dan tua. Lindungi tubuh mereka, agama mereka, kekayaan mereka serta kehormatan mereka. Kami meminta Kepada MU dengan nama-nama Mulia-MU, tanda kebesaran dan esensi-MU untuk menunjukkan kepada kami, berikanlah rasa sukacita kepada hamba-hamba saleh-MU dan semua orang beriman, Wahai Yang Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.”

Oleh : Zelfia (Kadept Humas infokom Muslimah Wahdah Pusat)

Muslimah Wahdah Maluku Sukses Salurkan 300 Paket Ifthar

0

Maluku – (23/04/21), Panitia Amaliah Ramadhan Muslimah Wahdah Islamiyah kembali melaksanakan program Tebar Ifthor Nusantara yang dilaksanakan secara serentak di berbagai daerah di Indonesia, termasuk Maluku. Unit Sosial Muslimah Wahdah Islamiyah Wilayah Maluku menyalurkan sebanyak 300 paket ifthar.

Sasaran Paket berbagi buka puasa ini diberikan kepada Kaum Dhuafa, Jama’ah masjid, Mahasiswa, Masyarakat, Polres, dan kader Wahdah Islamiyah Maluku. Paket ifthar disalurkan pada 4 titik yaitu di Polres, Rs. bhayangkara, Lantas Polda Desa Nania, Asrama Mahasiswi, dan dijalanan sekitar.

Meski masih dalam situasi pandemi, antusias donatur sangat terasa dari awal ramadhan hingga pelaksaan tebar ifthar, hal ini ditandai dengan jumlah paket ifthar yang melebihi dari target yang direncanakan.

Kegiatan tebar ifthar direncanakan akan digelar kembali selama ramadhan 1442. Tak lupa panitia menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada donatur dan kepada seluruh tim yang ikut menyukseskan tebar ifthar tahap I di Maluku.

Meraih Keberkahan di Hari Dan Bulan Mulia, Muslimah Wahdah Aceh Kembali Tebar Iftar Tahap Ke II

0

Banda Aceh – (23/4/2021) Jumat sore, 11 Ramadhan 1442 H, Muslimah Wahdah Aceh kembali menyalurkan 159 paket iftar Ramadhan setelah dua hari sebelumnya juga telah menyalurkan 714 paket iftar. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Tebar Iftar Nusantara yang diselenggarakan secara serentak di seluruh wilayah dah daerah kepengurusan Muslimah Wahdah termasuk di wilayah Aceh.

Pembagian paket iftar tahap ke dua ini dilaksanakan di empat Kabupaten yaitu Banda Aceh, Aceh Besar, Bireun dan Gayo Lues. Adapun sasarannya adalah kaum dhuafa, anak yatim, tukang becak, pasien rumah sakit, para penghafal Al Qur’an dan mahasiswi yang tinggal di asrama.
Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bentuk kepedulian Muslimah Wahdah Aceh terhadap kaum muslimin terutama di tengah pandemi yang kembali meningkat penyebarannya. Dan tentu saja kesuksesan program ini dapat tercapai berkat dukungan semua pihak terutama para donatur yang telah mempercayakan sebagian harta mereka untuk disalurkan kepada umat melalui Muslimah Wahdah Wilayah Aceh.
dr. Nila Epita selaku ketua Muslimah Wahdah Wilayah Aceh menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dan mendukung penuh terlaksananya kegiatan tebar iftar Ramadhan tahun ini. Selain itu, dr Nila juga menyebutkan bahwa Muslimah Wahdah Wilayah Aceh masih membuka peluang donasi untuk pembiayaan tebar iftar Ramadhan tahap kedua dan kegiatan Amaliyah Ramadhan lainnya seperti Tebar sembako, mukena dan Qur’an serta Kado lebaran untuk da’i dan anak yatim.

Muslimah DPD Wahdah Islamiyah Bantaeng Turut Gelar Tebar Ifthar Nusantara

0

Tebar Ifthar Nusantara Bersama Muslimah Dpd Wahdah Islamiyah Bantaeng

Bantaeng – Muslimah DPD Wahdah Islamiyah Bantaeng sukses melaksanakan program Amaliah Ramadhan 1442 H yaitu Tebar Ifthar Nusantara dengan tema Ramadhan Refleksi Kebersamaan di hari ke 11 Ramadhan, Jumat (23/4/2021).

Sebanyak 900 paket telah disalurkan kepada para Nakes, keluarga pasien, cleaning service, dhuafa, janda, anak yatim piatu, tukang becak, petani dan pengurus MWC yang tersebar di 45 titik lokasi antara lain RSUD Bantaeng, Puskesmas Kota Bantaeng, Puskesmas Bissappu, Puskesmas Ulugalung, Puskesmas Pa’bentengang, Kecamatan Bantaeng, Kecamatan Bissappu, Kecamatan Eremerasa, Kecamatan Sinoa, Kecamatan Uluere, Kecamatan Tompobulu, Kecamatan Pa’jukukang dan Kecamatan Gantarangkeke.

Ketua MWD Bantaeng, Al. Ustadzah Nurhawati, S.Pd juga ikut serta dalam menyalurkan paket ifthar bersama Ketua MWC dan Tim PAR secara langsung kepada masyarakat dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.

Ketua PAR sekaligus Koordinator Unit Soskes, Andriany, S.Si menyampaikan bahwa Tebar Ifthar ini dilakukan sebagai wujud kepedulian dengan menjadikan momentum Ramadhan sebagai bulan berbagi dan bulan yang penuh berkah. Tentunya keberhasilan Tebar Ifthar ini tak luput dari kehendak Allah Subhana Wataala dan para donatur serta kerjasama pemerintah setempat.

Salah satu penerima ifthar, Dg. Saking yang berprofesi sebagai tukang becak sangat bersyukur dengan adanya orang yang bagi-bagi buka puasa di bulan Ramadhan ini dan tak hentinya mengucapkan terima kasih kepada Tim Tebar. Begitu pula dengan ibu St. Khadijah (Kepala Instalasi Radiologi RSUD Bantaeng) mengungkapkan rasa terima kasihnya yang telah peduli terhadap pertugas kesehatan. Tak lupa do’a dari mereka semoga Allah membalas kebaikan para dermawan sekalian.

Meskipun medan yang ekstrim dan lokasi  yang jauh tak menyurutkan semangat Tim Tebar Ifthar untuk menebar kebaikan dan tentu saja semua terbayarkan dengan senyuman kebahagiaan dari para penerima ifthar.

Muslimah Wahdah Bulukumba Berbagi 1080 Paket Ifthar serentak di 9 Kecamatan

0

Bulukumba- Panitia Amaliah Ramadhan Muslimah Wahdah Islamiyah kembali melaksanakan program Tebar Ifthor Nusantara yang dilaksanakan secara serentak di berbagai daerah di Indonesia, termasuk Bulukumba, jumat (23/04/21).

Unit Sosial Muslimah Wahdah Islamiyah Daerah (MWD) Bulukumba bekerja sama dengan 9 Muslimah Wahdah Islamiyah Cabang (MWC) se-Kabupaten Bulukumba menyalurkan sebanyak 1080 paket ifthar serentak di 9 Kecamatan yang ada di Bulukumba.

Sasaran Paket berbagi buka puasa ini diberikan kepada Kaum Dhuafa, para janda, pasien opname, pekerja masjid, fakir miskin, kader dan masyarakat. Adapun paket buka puasa terdiri dari nasi kotak dengan lauk lengkap senilai 25.000/paket.

Paket ifthar ini disalurkan di Kecamatan Ujung Bulu sebanyak 300 paket, Ujung Loe 200 paket,  Gantarang 150 paket, Kindang 100 paket,  Riau Ale 150 paket, Bontotiro 35 paket, Bontobahari 70 paket, Herlang 30 paket,  dan Kajang 30 paket.

“Sangat bersyukur karena ada yang peduli pada fakir miskin dan sangat senang dengan adanya pembagian ifthar ini”.ungkap Hasna penerima paket Ifthar dari kecamatan Kindang.

Nirwahyuni Munawir, S. Pd sebagai Ketua Muslimah Wahdah Islamiah Cabang Rilau Ale mengungkapkan “Tebar ifthar Nusantara memberi warna tersendiri dalam dakwah, ukhuwah lebih terasa berada di tengah-tengah teman-teman pengurus dan terkhusus para penerima paket ifthar. Hari ini kita memberi, esok kitalah yang akan diberi oleh Allah. Karena Berbagi itu indah’.

Perdana, Kulon Progo Sukses Distribusikan Ifthar 100 Paket

0

Kulon Progo – Muslimah Wahdah Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, pada hari ini Jum’at (23/04/2021), turut berpartisipasi dalam menyukseskan kegiatan Tebar Ifthar Akbar Nusantara dengan mendistribusikan ifthar sebanyak 100 paket. Tebar ifthar ini merupakan kegiatan perdana yang dilaksanakan di Kulon Progo. Pendistribusian ifthar dilaksanakan di tiga Dukuh, yaitu Temben, Bonorejo dan Nglatiyan.

Mengangkat tema “Ramadhan Refleksi Kebersamaan”, kegiatan tebar ifthar ini adalah salah satu program amaliyah ramadhan yang diadakan oleh Muslimah Wahdah Islamiyah.

Menurut Ketua Panitia, masyarakat sekitar menyambut baik adanya program tebar ifthar, selain memberikan rasa bahagia, juga bisa menjadi penyambung tali silaturahim dan memperkuat ukhuwah islamiyah antar sesama muslim.

“Kami ucapkan terimakasih kepada Ketua Muslimah Wahdah Yogyakarta yang telah melaksanakan program tebar ifthar di daerah Kulon Progo, khususnya Lendah. Kami menyambut baik program ini dan berharap semoga untuk tahun-tahun selanjutnya dapat dilaksanakan kembali, karena kegiatan tebar ifthar ini bermanfaat memberikan sedikit rasa bahagia dan  menyambung tali silaturahim, juga semoga memperkuat ukhuwah islamiyah diantara sesama muslim”, ungkap Ketua Panitia Pelaksana.

Tidak hanya kegiatan tebar ifthar saja yang dilaksanakan di Kulon Progo, in syaa Allah selanjutnya juga akan diadakan kegiatan Tebar Sembako untuk kader, yang merupakan rangkaian dari Program Amaliyah Ramadhan.

Muslimah Wahdah Tarakan tebar 300 Ifthar ke Masyarakat dan Nakes

0

Tarakan – Panitia Amalia Ramadhan Muslimah Wahdah Tarakan baru saja menyelenggarakan Tebar Ifthar Akbar Nusantara pada Jum’at 12/4 di Kota Tarakan. Kegiatan ini merupakan rangkaian dari kegiatan Amaliyah Ramadhan yang diselenggarakan Muslimah Wahdah secara serentak diberbagai wilayah seluruh Nusantara.

Muslimah Wahdah Tarakan menebarkan 200 paket Ifthar pada Tenaga Medis di RSUD Tarakan, warga sekitar RSUD Tarakan, masyarakat pinggir jalan dan pedagang kaki lima.

Terlihat warga yang menyaksikan begitu antusias dan mendatangi Panitia Amalia Ramadhan untuk mengambil bagian paket ifthar.

Panitia Amalia Ramadhan memilih memprioritaskan Nakes sebagai dukungan dalam melaksanakan tugas mulianya.

“Alhamdulillah bisa ikut merasakan kebahagiaan ditengah-tengah masyarakat khususnya tenaga medis yang perlu mendapatkan support agar mereka terus semangat dalam menjalan Ibadah dibulan suci Ramadhan.” Pungkas Asma Duha, ketua Panitia Amaliyah Ramadhan.

Asma Duha juga mengungkapkam kesyukurannya lantaran diberi kesempatan untuk terlibat membagikan paket Ifthar.

“Alhamdulillah bersyukur terlibat dalam menyampaikan titipan dan amanah dari para donatur untuk memberi makanan buka puasa yg merupakan salah satu ikon Ramadhan dan kita ketahui bersama bahwa dibulan Ramadhan amal kebaikan dilipat gandakan dan bertepatan pula dgn hari Jum’at yang di dalamnya penuh dengan keberkahan.

Asma Dua berharap momentum Ramadhan dapat memperkuat ukhuwah dan rasa peduli.

“Harapan kami, semoga kita menjadikan bulan suci ramadhan sebagai momentum untuk memperet ukhuwah dengan memberi, bersedekah, menderma dengan harta-harta terbaik yg kita miliki, memupuk rasa peduli di tengah krisis yang belum usai. Saling meringakan beban dan berbagi kebahagiaan. Semoga apa yang kita lakukan bernilai pahala dan mendapat ridho Allah Subhanahu Wa Ta’ala.” Ungkapnya.