Minggu, 26 September 2021
Beranda blog

Demi Menumbuhkan Militansi, Muslimah Wahdah Wilayah Sulsel Gelar Kajian Pengurus Jelang Akhir Masa Kepengurusan

0

Demi Menumbuhkan Militansi, Muslimah Wahdah Wilayah Sulsel Gelar Kajian Pengurus Jelang Akhir Masa Kepengurusan

Keluarga adalah miniatur umat yang menjadi sekolah pertama bagi manusia. Jika keluarga baik, baiklah sebuah negara. Maka militansi dalam dakwah ini harus dibangun dan dipupuk dengan kokoh terlebih dahulu dari dasarnya yaitu keluarga.

Demi menumbuhkan militansi, Muslimah Wahdah Wilayah (MWW) Sulsel adakan kajian pengurus dengan tema, “Meningkatkan Militansi Dakwah dalam Keluarga dan Pembinaan Ummat.” Menghadirkan pengurus MWW se-Sulsel, secara daring. Jum’at, (24/9/21).

Ketua Muslimah Wahdah Wilayah Sulsel, Ustazah Luthfah Djabrud, S. Si., menyampaikan apresiasi kepada seluruh pengurus.

“Betapa saya sangat bersyukur memiliki antunna semua yang tidak hentinya memberikan khidmat dalam perjuangan ini. Muncul atau tidak, terlihat wujudnya, perannya ataupun hanya nampak di balik layar saja. Saya selaku Ketua MWW mengucapkan jazakunallahu khairan telah memberikan kontribusi yang besar pada dakwah ini,” ungkapnya.

Beliau juga menyampaikan alasan memilih militansi menjadi tema dalam kajian pengurus tersebut.

“Persoalan militansi menjadi hal yang sangat mahal hari ini, kita diminta bisa survive dalam dakwah di keluarga dan dalam dakwah di lembaga, tentunya militansi adalah kunci dari dakwah ini,” ujar Ustazah Luthfah.

“Melalui khidmat kita, inilah yang membuat kami mengaung minta persoalan militansi ini diusung. Semoga kajian ini, bisa menguatkan shaf kita kembali, menguatkan militansi kita, apalagi hari ini persoalan militansi bukan persoalan yang mudah,” tegasnya.

Wakil Ketua Muslimah Dewan Pimpinan Pusat Wahdah Islamiyah (DPP WI) Ustazah Hj. Nur Amsi Mahmud, S. Pd, menyampaikan bahwa kehadiran pengurus dalam perjuangan adalah bentuk militansi yang harus dikuatkan. Beliau menjelaskan bahwa militansi adalah gairah, semangat dalam berjuang di mana saja.

“Kita membangun militansi di mana saja kita berada. Di rumah, di luar, di mana-mana kita berjuang,” ujar Ustazah Hj. Nur Amsi.

Selain itu, Ustazah Nur Amsi menambahkan, hal yang paling prinsip yang perlu diketahui oleh para pengurus adalah mengenal kunci kebahagiaan keluarga.

“Ibarat Islam ini seperti bangunan, maka Islam juga memiliki struktur inti dalam bangunan itu. Kapan intinya tidak dijaga, saya khawatir kita bisa gagal dalam kehidupan,” ungkapnya penuh semangat.

Keluarga Besar Muslimah Wahdah Pusat Melaksanakan Vaksinasi Ditengah Angka Paparan Covid-19 Menurun

0

Makassar- Selama 2 hari (23-24/9/2021) keluarga besar Muslimah Wahdah Islamiyah mendapatkan suntikan vaksinasi 1 dan 2. Sejumlah 500 peserta mendapatkan suntikan vaksin yang dilakukan pada hari pertama kerja sama antara Muslimah Wahdah menggandeng team Vaksinator dari PKM Tabaringan dan pada hari ke 2 bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan dan team vaksinator SATGAS COV 19 Provinsi Sulawesi Selatan.

Kegiatan vaksinasi yang melibatkan tidak kurang dari 20 orang tenaga medis dan vaksinator ini dilakukan meski angka paparan covid-19 sudah semakin menurun merupakan wujud dari komitmen Muslimah Wahdah Pusat dalam rangka ikut serta bersama pemerintah untukk terus melakukan usaha-usaha pencegahan penularan virus covid-19. Demikian di sampaikan oleh ketua Muslimah Wahdah Pusat disela-sela kegiatan vaksin siang ini.

Gandeng Dinas Kesehatan Provinsi Sulsel, Muslimah Wahdah Gelar Vaksinasi untuk Kader

0

Makassar – Kamis (23/9/2021) bertempat di gedung Pusat dakwah Muslimah lantai satu, Muslimah Wahdah Islamiyah kembali menggelar kegiatan vaksinasi khusus para kader Wahdah Islamiyah, kegiatan yang berlangsung selama 2 hari ini bekerja sama dengan Dinas Kesehatan provinsi Sulawesi selatan.


Ustadzah Harisa Tipa, S.Pd.I, M.Pd.I mengatakan bahwa vaksinasi ini adalah ikhtiar, agar terhindar dari virus corona dan sebagai bentuk kesertaan Muslimah Wahdah untuk memberikan dukungan kepada pemerintah untuk menghambat penyebaran virus Corona serta memberikan perlindungan kesehatan kepada diri sendiri, keluarga dan masyarakat.


“Vaksinasi covid-19 ini penting untuk memutus rantai penularan virus corona dan memberikan perlindungan kesehatan kepada kita, keamanan kepada semua masyarakat, ummat dan bangsa. Dengan adanya gerakan vaksinasi ini diharapkan berbagai aktifitas ummat seperti pembelajaran Al-Qur’an, tadabbur Al-Qur’an serta berbagai aktifitas keagamaan,sosial dan ekonomi segera dapat kembali pulih dan berjalan dengan baik, tentu dengan tetap menjalankan protokoler kesehatan.


Pada kesempatan ini, Ketua Muslimah DPP Wahdah Islamiyah menyampaikan terima kasih secara khusus keapda dr. Rudianto Joko, M.Kes dan seluruh tim tenaga kesehatan dan Vaksinator Puskesmas Tabaringan kecamatan Ujung Tanah Makassar Sulawesi Selatan. Kepada kepada seluruh jajaran pengurus harian dan ketua departemen Muslimah DPP Wahdah Islamiyah, yang ikut mendukung program vaksinasi Covid-19 di kalangan internal pengurus dan kader Muslimah Wahdah. Tak lupa Ketua Muslimah Wahdah Pusat juga berterima kasih kepada ketua umum dan seluruh jajaran pengurus harian DPP Wahdah Islamiyah atas dukungan dan restu yang diberikan, serta kepada seluruh tim medis internal kader Wahdah dan muslimah Wahdah Islamiyah. (red)

Gelar Webinar Tentang Palestina, Jurnalis Metro TV : Mereka Diusir Paksa dari Tanahnya Sendiri

0

Makassar – Departemen Humas dan Infokom Muslimah Wahdah Islamiyah Pusat gelar Diseminasi Informasi tentang Palestina dengan tema Perang Narasi di Media dalam Konflik Palestina – Israel, pada hari Ahad (25/7) via zoom meeting.
Menghadirkan Hafiyah Yahya selaku Jurnalis di Metro TV dan anggota KJB Indonesia. Kegiatan ini diikuti oleh 117 peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Menurut ketua Humas infokom kegiatan ini secara khusus adalah untuk memberikan informasi secara ilmiah tentang fenomena narasi yang berkembang di media sosial sekaitan dengan penjajahan Israel atas palestina adapun bagi pengurus unit infokom adalah untuk memberikan teknis ketrampilan dasar literasi informasi bagi aktifis dakwah khususnya berkaitan tentang penjajahan Israel atas Palestina sekaligus memotivasi para pemuda untuk melek informasi tentang palestina.

Kegiatan yang berlangsung dalam dua sesi ini juga menghadirkan dua pembicara tamu lainnya yaitu Muhammad Husein, Lc (Kontributor Lepas, Wartawan Konflik, Pendiri international Networking for Humanitarian langsung dari Gaza Palestina) Dan Ustadz Ilham Jaya Abdul Rauf, Lc, M.H.I (Ketua DPW Wahdah Islamiyah DKI Jakarta-Depok, Pembina Madani Center for Islamic Studies)

Menurut Hafiyah, penulisan berita tentang Palestina bukan lagi sebuat sebagi konflik tetapi ini adalah penjajahan Israel terhadap warga Palestina. “Saya sendiri kalau menulis berita, saya menghindari kata-kata konflik atau bentrokan, kalau kata bentrokan kesannya dari kedua pihak punya kekuatan yang seimbang. Sebenarnya itu juga berlaku pada berita lainnya misal korbannya itu warga saat demonstrasi, kemudian warga bentrok dengan polisi padahal polisi menghalau warga dengan kekerasan.” ujar Hafiyah.

“Pemberitaan tentang palestina itu apa yang terjadi ini bukan bentrokan, bukan pengusiran, bukan konflik, karena kata pengusiran kesannya tanah itu tanah milik Israel diatas (ditempati) warga palestina di Yerussalem itu diusir, padahal yang terjadi adalah pengusiran paksa (warga palestina) dari tanahnya mereka sendiri. Jadi harus ada lanjutan kata-kata kalimatnya yang menyatakan bahwa ini bukan sekedar pengusiran, tapi pengusiran paksa.” lanjutnya sebagai penutup poin penting dari webinar ini.

“Diseminasi Informasi ini secara khusus adalah untuk memberikan informasi secara ilmiah tentang fenomena narasi yang berkembang di media sosial sekaitan dengan penjajahan Israel atas palestina adapun bagi pengurus unit infokom adalah untuk memberikan teknis ketrampilan dasar literasi informasi sekaligus motivasi untuk melek informasi tentang palestina. Zelfia, ketua infokom muslimah pusat menutup sesi pertama dari kegiatan desiminasi ini. (red)

dr. Erlina Burhan, Sp.P (K), M.Sc, Ph.D : Virus bermutasi untuk mempertahankan hidupnya, Kita kapan?

0

Makassar – Muslimah Wahdah Islamiyah Pusat bekerja sama dengan tim edukasi covid dan Tim dokter muslimah wahdah islamiyah gelar webinar covid dengan tema Meretas Covid varian Delta, Bagaimana Perilaku kita l, pada hari Ahad (25/7) via zoom meeting.
Menghadirkan Dokter Spesialis Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi (Paru) RS Persahabatan Jakarta, dr. Erlina Burhan, Sp.P (K), M.Sc, Ph.D dan Dokter Spesialis Gizi Klinik, dr Karmila,Sp,Gk. Kegiatan ini diikuti oleh 5000 peserta dari berbagai daerah di Indonesia.

Dalam pemaparannya dokter Erlina menjelaskan empat Subtopik penting yaitu mengenal Covid Varian Delta, Seberapa menular varian Delta?, Gejala terinfeksi varian Delta dan Apa risiko ke depan?

Menurut dr. Erlina , “ Varian delta tiga labih cepat penularannya dari covid 19, Kenapa virus bisa bermutasi. Karena seperti anti bodi kita juga bertahan dan memerangi virus, virus juga makhluk yang tidak punya otak rupanya juga bermutasi untuk bertahan hidup dalam tubuh kita, sehingga jika virus bisa bermutasi, maka hendaknya kita manusia yang memiliki budi, pikiran dan otak harus juga bisa bermutasi pada gaya hidup baru yang lebih bersih, sehat dl “ .Demikian ungkapnya.

“ Varian delta prokesnya masih sama dengan virus sebelumnya, wajib Cuci tangan, wajib Pakai Masker, wajib jaga jarak aman 2 meter, hindari keramaian dan tetap dirumah. Dua poin terakhir boleh dilonggarakan jika terpaksa, namun tetap menjaga tiga poin pertama Jaga jarak, pakai masker, cuci tangan. tambahnya
Lakukan vaksin, vaksin sangat bermanfaat dan resiko seperti gumpalan darah, sebagian orang akan terjadi, tapi itu masih bisa diatasi. Dengan melakukan vaksin, bukan jaminan bahwa kita tidak akan terpapar virus. Tetap akan terpapar, namun gejalanya menjadi lebih ringan sehingga tidak begitu membutuhkan perawatan RS. Selain itu resiko kematian kurang. Dokter erlina menegaskan kembali

Varian delta tidak memilih usia. Resiko dan gejala akan tetap sama menjangkau pada semua jenjang usia. Baik anak-anak hingga usia tua. Terutama beresiko kematian pada orang yang memiliki komorbit (peyakit bawaan), meski memakai cadar tetap pakai masker.

Menjaga pola makan, pola tidur, hindari stres, pilah-pilih informasi yang dibaca, rutinkan berjemur. Pukul sebelas hingga pukul satu adalah waktu yang baik untuk memperoleh vitamin D. Namun jika beresiko pada kulit bisa melakukannya dibawah jam tersebut. Ujar spesialis gizi klinik dr.Karmila menambahkan.

Banyak motivasi yang diberikan oleh para pemateri dalam event webinar covid ini diantaranya adalah “Jangan takut pada vaksin dari Cina, karena panci yang kita pakai dirumah juga dari Cina dan aman dipakai”. (Red)

Muslimah Wahdah Makassar Tebar 42 Ekor Hewan Qurban

0

Departemen Sosial Muslimah Wahdah Daerah (MWD) Makassar bersama Muslimah Wahdah Cabang (MWC) se Makassar kembali menebar kepedulian dengan Tebar Qurban. Tebar Qurban tahun 1442 Hijriah membagikan 42 ekor hewan qurban dengan rincian 28 ekor sapi dan 14 ekor kambing.

Daging qurban ini dibagikan kepada kaum dhuafa, panti asuhan dan masyarakat umum. Tebad Qurban ini bertujuan sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama dan sebagai wujud berbagi di bulan Dzulhijjah.

Kendati di tengah pandemi, tak menyurutkan MWD Makassar untuk berbagi kebahagiaan dengan tebar qurban. Rahmawati Ukkas selaku Ketua Unit Sosial MWD Makassar mengatakan meski di tengah bencana pandemi yang melanda semangat untuk berbagi dan peduli harus tetap ada. “Bersama indahnya berbagi qurban di bulan Dzulhijjah ini. Meskipun di masa pandemi, tetap bisa semangat memiliki kepedulian tinggi,” ujarnya.

Kegiatan ini juga sebagai bentuk syiar kepada masyarakat. Sehingga semua masyarakat dapat menikmati berkah dari bulan Dzulhijjah ini.” Dengan adanya Gerakan Muslimah Berqurban, selain bisa berbagi sesama muslim juga sebagai syiar dakwah kita dengan masyarakat,” tambahnya.

Janji Untuk Sebuah Kesungguhan

0

oleh : Zelfia, Ketua Departemen Humas Infokom Muslimah DPP Wahdah Islamiyah

Ditengah padang  yang tandus itu Hajar berlari, mencoba mengais jejak air untuk menjawab tangis putera semata wayangnya. Ada dua bukit di sana. Dan dari ujung ke ujung coba ditelisiknya dengan seksama. Tak ada. Sama sekali tak ada tanda. Tapi dia terus mencari. Berlari. Bolak-balik tujuh kali. Mungkin dia tahu, tak pernah ada air di situ. Mungkin dia hanya ingin menunjukkan kesungguhannya pada Allah. Sebagaimana telah ia yakinkan sang suami, “Jika ini perintah Allah, Dia takkan pernah menyia-nyiakan kami!”

Dan kejaiban itupun memancar. Zam zam! Bukan. Bukan dari jalan yang dia susuri atau jejak-jejak yang dia torehkan di antara Shafa dan Marwa. Air itu muncul justru dari kaki Isma’il yang bayi. Yang menangis. Yang haus. Yang menjejak-jejak. Dan Hajar pun takjub. Begitulah keajaiban datang. Terkadang tak terletak dalam ikhtiar-ikhtiar kita.

Maka dari Hajar kita akan belajar makna kerja keras dan kesungguhan. Bahkan untuk menunjukkan ketakwaan  kita kepada Allah, kita tidak bisa diam saja menunggu keajaiban itu menghampiri, kita harus bergerak, bekerja dengan gigih dan yakin. Karena Allah  tidak akan pernah menyia-nyiakan iman dan amal kita. Biarkan janji Allah datang dari arah yang tak kita sangka.

Sementara itu, dari kejauhan Nabi Ibrahim pun melakukan hal yang sama, menatap langit dengan mengangkat kedua tangannya dan berdoa, ‘’Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rizkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.’’ (QS. Ibrahim: 37).

Sepasang suami dan isteri yang dikarunai karakter takwa yang begitu kuat, keimanan yang menghujam didada, melunturkan sifat-sifat lemahnya seorang manusia. Mereka menjadi keluarga yang solid menjawab, menghadapi ujian dari Allah Tabarakallah. Do’a yang dipanjatkan Ibrahim a’alaihissalam  menunjukkan padanya sikap peduli dengan masa depan keturunannya, baik dari aspek keimanan maupun kesejahteraan

Dimanakah  Janji Itu Akan Terjawab? 

Hajar dan bayinya telah ditinggalkan oleh Ibrahim di lembah itu. Sunyi yang menyergap kegersangan yang membakar. Yang ada hanya pasir dan cadas yang membara. Tak ada pepohon tempat bernaung. Tak terlihat air untuk menyambung hidup. Tak tampak insan untuk berbagi kisah. Kecuali bayi itu. Isma’il yang terus  menangis karena lapar dan kehausan. Sebenarnya Mudah saja jika Allah langsung menunjukkan kuasaNya, untuk sekejap mengalirkan air di lembah yg kering itu,  tapi bukan itu yang terjadi. Hajar harus besusah payah untuk berlari berulang kali dari shafa dan Marwa, tanpa suami yang menemani dengan satu keyakinan bahwa Allah pasti tidak akan membiarkannya’’ Dan Allapun menepati janjinya. Kesungguhan Hajar dalam sepenggal kisah di lembah yang tandus itu menyegerakan kita untuk menapak kesungguhannya.

Dari Hajar kita belajar totalitas yang disertai doa akan menghasilkan yang terbaik. Keteladanannya sebagai  perempuan yang penuh kasih sayang, sabar dan tidak goyah iman kendati cobaan terus mendera menjadi teladan bagi kita muslimah hari ini.

Di sisi lain, sebagai ayah, Nabi Ibrahim a’laihissalam yang begitu sangat menghargai anaknya, Nabi Ismail a’laihissalam. Tatkala diperintah oleh Allah untuk disembelih Nabi Ibrahim mengajak anaknya Ismail ‘alaihissalam berdialog, bertanya kepadanya tentang pendapatnya. Sebab Nabi Ibrahim menganggap Nabi Ismail sebagai orang dewasa yang telah siap memilih, sebagaimana diceritakan pada QS Ash- Shaffat ayat 102 yang artinya:

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

Episode ini juga tak lupa  memberikan kita pelajaran besar tentang arti pengorbanan atas dasar keimanan,  bahwa Nabi Ibrahim mencontohkan keikhlasan untuk mengorbankan anak yang dicintainya di jalan Allah. Kita bisa bayangkan bagaimana tingginya rasa sayang Nabi Ibrahim kepada Nabi Ismail, yang lahir setelah penantian 86 tahun.

Memiliki sikap untuk sanggup mengorbankan sesuatu yang kita cintai, seperti harta, di jalan Allah dengan ikhlas adalah salah satu sifat orang bertakwa. Memiliki hati yang lapang untuk memberi tanpa kata ‘nanti’ di jalan Allah merupakan nikmat sekaligus ujian  yang tidak semua manusia mampu menghadapinya.  Hewan kurban yang kita sembelih mulai hari ini adalah satu cara kita meneladani Nabi Ibrahim. Hikmah teladan yang agung bagi setiap orang beriman untuk yakin bahwa pada setiap kesulitan yang menerpa ada nikmat yang tiada tara akan menyertai kita. Semoga idul qurban tahun ini memberi makna terdalam bagi kita semua untuk hidup dalam keikhlasan dan pengorbanan untuk beramal shaleh tanpa takut dan ragu-ragu. Insyaa Allah.

Wallahu’alam

Menuju Idul Adha, Maksimalkan Amal Saleh

0

Oleh : Ustadz Dr. M Zaitun Rasmin, Lc MA, Wakil Sekretaris Dewan Pertimbangan MUI Pusat dan Ketua Umum Wahdah Islamiyah

Munculnya pandemi Covid-19 gelombang kesekian di negeri tercinta menjadi pembeda di awal bulan suci Dzulhijjah sekarang ini. Namun, momen ini tidak boleh menyurutkan spirit ibadah kita di hari-hari mulia ini. 

Bahkan, hari-hari mulia yang berbalut kondisi musibah pandemi ini harus bisa menyulutkan motivasi ibadah, doa, dan amal-amal saleh kita sebagai salah satu ikhtiar agar Allah Ta’ala menyelamatkan kita semua dari musibah ini.

Sepuluh hari awal Dzulhijjah ini adalah hari-hari mulia di sisi Allah Ta’ala. Di dalamnya amal-amal saleh seorang Muslim dilipatgandakan pahalanya dan ditinggikan kualitasnya. Rasulullah SAW bersabda,  

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ اْلأيَّامِ الْعَشْرِ

“Tidak ada satu hari pun amal saleh di dalamnya lebih dicintai Allah daripada 10 hari ini (awal Dzulhijjah).”

Para sahabat menimpali sabda beliau, “Wahai Rasulullah!Meskipun amalan itu jihad di jalan Allah?” Beliau menjawab: 

وَلا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، إِلا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ

“Meskipun amalan itu jihad di jalan Allah, kecuali ada orang yang keluar ke jalan Allah dengan mengorbankan diri dan hartanya lalu tidak ada sesuatu pun dari dua hal itu yang kembali (yakni dia mati syahid).” [HR Bukhari (969), Abu Daud (2439), dan Tirmizi (767)]

Oleh sebab itu, di tengah gelombang pandemi Covid-19 ini, mari bersabar sekaligus bersyukur kepada Allah karena Dia masih memberikan kita kesempatan untuk mengisi hari-hari mulia ini dengan berbagai jenis ibadah yang sangat utama dibanding pada hari-hari lainnya, baik berupa ibadah mahdhah ataupun ibadah gairu mahdhah.

Ibadah mahdhah adalah ibadah yang ketentuan, tata cara, waktu, dan kadarnya telah ditetapkan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya SAW, sehingga tidak boleh dilakukan kecuali dengan petunjuk keduanya.

Contohnya yaitu sholat, puasa, zakat, dzikir, tilawah Alquran, dan sebagainya. Sedangkan ibadah gairu mahdhah adalah semua amal kebaikan yang diniatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah, namun ketentuan, tata cara, waktu, dan kadarnya tidak diatur secara terperinci oleh Allah dan Rasul-Nya. Contohnya yakni sedekah, tolong-menolong, belajar, mengajar, berbakti pada orang tua, dan lain sebagainya.

Dua jenis ibadah ini harus kita jaga dan tingkatkan di hari-hari mulia ini karena keduanya saling melengkapi dan memenuhi seluruh waktu kita dengan pahala dan amal saleh, apalagi keduanya akan dilipatgandakan pahalanya di momen Dzulhijjah ini.

Hal ini telah dilakukan para ulama salaf dari kalangan sahabat dan tabiin. Dahulu Sa’id bin Jubair, rahimahullah, sangat giat beribadah siang malam di momen 10 awal Dzulhijjah ini, sampai-sampai beliau berkata, “Janganlah kalian mematikan lampu kalian di malam-malam 10 Dzulhijjah ini (untuk beribadah kepada Allah).” [Baca: Lathaif al-Ma’arif: 262]

Lalu apakah ada amalan khusus yang lebih utama di dalamnya?

Dalam hadits riwayat Imam Ahmad disebutkan tentang beberapa amalan yang mesti dilakukan pada hari-hari ini, yaitu:

ما من أيام أعظم عند الله، ولا أحب إليه من العمل فيهن من هذه الأيام العشر،فأكثروا فيهن من التهليل، والتكبير، والتحميد

“Tidak ada hari di sisi Allah yang lebih mulia dan lebih Dia cintai daripada amalan di dalam 10 hari ini (awal Dzulhijjah). Sebab itu, perbanyaklah di dalamnya untuk bertahlil (berdzikir La ilaha illallah), bertakbir (berdzikir Allahu Akbar), dan bertahmid (berdzikir Alhamdulillah).” [HR Ahmad: 5446, hasan]

Hadits ini mengisyaratkan bahwa salah satu amalan paling utama sekaligus paling ringan di momen Dzulhijjah ini adalah dzikir. Hal ini ditegaskan juga dalam firman Allah Ta’ala:

ويذكروا اسم الله في أيام معلومات

“Hendaknya mereka berdzikir mengingat nama Allah pada hari-hari yang ditentukan (10 awal Dzulhijjah).” (QS Al Hajj 28)

Tapi perlu dipahami, apa itu dzikir? Dzikir itu bermakna mengingat dengan hati dan juga bermakna menyebut dengan lisan. Sebab itu, amalan dzikir harus menggabungkan dua hal ini bila ingin memberikan efek positif besar bagi kesalehan pribadi dan kebahagiaannya.

Ia bukan sekadar kata hati tapi harus dibarengi dengan lisan. Sebab itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda pada salah seorang sahabatnya,

لا يزال لسانك رطبا من ذكر الله

“Senantiasa lisanmu basah dengan dzikir kepada Allah.” [HR Tirmizi (3671) dan Ibnu Majah (3793), sahih]

Sebaliknya, dzikir yang berkualitas adalah bukan sekadar dzikir yang terucap dengan lisan tanpa penghayatan hati. Rasulullah SAW bersabda tentang dzikir sayidul-istighfar yang mesti diyakini dan dihayati agar bisa mendatangkan ampunan dari Allah: 

“Siapa yang mengucapkan doa ini (yaitu doa sayyidul istigfar) pada siang hari dengan menyakini (kebenaran) kandungan maknanya, kemudian mati pada hari itu, sebelum datang waktu sore, niscaya dia termasuk ahli surga. Dan siapa yang membacanya pada malam hari dengan menyakini (kebenaran) kandungan maknanya, kemudian dia mati sebelum datangnya pagi, niscaya dia termasuk ahli surga.”[HR Bukhari (6306)]

Maksud “meyakini kandungan maknanya” adalah mengucapkannya dengan penuh keyakinan dan penghayatan terhadap makna dzikir yang diucapkan itu.Ini sebagai syarat mutlak dalam meraih manfaat dzikir sayidul-istigfar dan juga dzikir-dzikir lainnya.

Di samping itu, dzikir yang dilantunkan dengan lisan yang dibarengi penghayatan hati akan sangat kedengaran syahdu dan menunjukkan kekhusyukan. Bahkan, ini memunculkan rasa syukur, khusyuk, ketenteraman, muraqabah, rasa bahagia, lezatnya ibadah, dan kepuasan spiritual. Dzikir seperti inilah yang membuat para ulama dan orang-orang saleh tak mau meninggalkan dzikir.

Kita sebagai umat Islam harus belajar berdzikir dengan cara seperti ini. Nah, dalam momen Dzulhijjah sekarang ini adalah momen untuk membiasakan diri dengan cara dzikir seperti ini dan memperbanyaknya. 

Meskipun dzikir ini boleh dilakukan di mana dan kapan saja, namun lantaran urgensinya dalam kehidupan kita, Allah Ta’ala sampai mensyariatkan waktu-waktu khusus sebagai waktu-waktu utama untuk berdzikir kepada-Nya, agar bila menjaga momen-momen itu secara khusus. 

Di antara momen bulanan adalah Ramadan dan Dzulhijjah ini. Di antara momen pekanan adalah hari Jumat dengan dzikir atau wirid shalawat secara khusus. Di antara momen harian adalah pagi dan petang, setelah sholat wajib, di saat tengah atau akhir malam.

Meskipun jenis dzikir paling utama di momen Dzulhijjah ini adalah tahlil, tahmid, dan takbir, tapi kita tetap disunahkan untuk memperbanyak membaca berbagai macam dzikir, seperti tasbih dengan berbagai redaksinya (Subhanallah atau Subahanallahi wa bihamdihi atau Subahanallahi wa bihamdih Subahanallahil-‘azhim, dan lain lain) atau hawqalah (La haula wa la quwwata illa billah) atau istighfar (astagfirullah atau astagfirullahal-‘azhim, dan lain-lain).

Dalam momen ini, selain dzikir La ilaha illallah yang merupakan dzikir paling utama yang mesti kita jaga, juga harus memperbanyak takbir secara khusus sebagaimana dalam HR Ahmad sebelumnya. Takbir dalam momen Dzulhijjah terbagi dalam dua jenis, yaitu:

1- Takbir muthlaq, yaitu takbir yang dibaca kapan saja, tidak khusus setelah sholat wajib. Ini disunahkan dari awal masuk Dzulhijjah sampai akhir hari Tasyriq (13 Dzulhijjah).

2- Takbir muqayyad, yaitu takbir yang dibaca khusus bakda sholat wajib secara langsung. Ini disunahkan dimulai pada bakda sholat Subuh hari Arafah (9 Dzulhijjah) sampai bakda sholat Asar di hari Tasyriq terakhir (13 Dzulhijjah). Redaksi takbir yang sangat utama adalah:

الله أكبر.. الله أكبر.. الله أكبر.. لا إله إلا الله ، الله أكبر.. الله أكبر.. الله أكبر.. ولله الحمد

(Allahu akbar, allahu akbar, allahu akbar, La ilaha illallah, allahu akbar, allahu akbar walillahil-hamd)

Dzikir ini hendaknya dibaca selalu sambil dihayati maknanya di mana saja dan kapan saja.Bila sudah masuk hari Arafah (9 Dzulhijjah) maka diperbanyak dibaca setelah sholat wajib disamping memperbanyaknya di waktu-waktu selain itu.Para sahabat dahulu banyak bertakbir di momen ini di pasar-pasar dan jalan-jalan, sehingga suasananya suasana yang islami dan penuh kekhusyukan.

Imam Bukhari menyebutkan dalam Shahih-nya bahwa Abdullah bin Umar dan Abu Hurairah RA di momen seperti ini keluar ke pasar lalu bertakbir secara jahar, lantas mereka diikuti masyarakat yang ada di sana. [Lihat Shahih Bukhari: 2/20]

Di antara amalan lain di Dzulhijjah ini yang juga termasuk bagian dzikir paling utama adalah memperbanyak tilawah Alquran. Hanya saja mesti diperhatikan agar kita membaca Alquran dengan sempurna dan totalitas, yaitu diindahkan dengan tilawah lisan yang perlahan-lahan dan maknanya dihayati dengan hati.Kita harus belajar baca Alquran secara perlahan sembari meresapi maknanya. Allah Ta’ala berfirman: 

وَرَتِّلِ الْقُرْاٰنَ تَرْتِيْلًاۗ  

“Bacalah Alquran itu dengan perlahan-lahan.” (QS Al Muzzammil 4)

Contoh penghayatan terhadap makna bacaan adalah: ketika kita membaca ayat tentang neraka maka kita sedih dan takut serta berdoa agar dijauhkan darinya, sebaliknya ketika ada ayat tentang surga, maka dalam hati ada rasa harap dan kerinduan terhadap surga.

Bila membaca ayat-ayat perintah seperti sholat, zakat, sedekah, berkasih sayang, tolong menolong, dan lain-lain, maka ditujukan pada diri kita, sudahkah diri ini melaksanakan perintah-perintah Allah hari ini?

Bila belum harus bertekad untuk melaksanakannya. Sebaliknya, bila membaca ayat-ayat larangan, seperti zina, khamar, judi, zalim, dan berbagai maksiat lainnya, maka hendaknya ditujukan pada diri kita dan berazam untuk terus menjauhinya semampunya.

Praktik bacaan seperti ini dinamakan tadabur Alquran yang Allah perintahkan dalam firman-Nya:

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Kitab (Alquran) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran.” (QS Shad 29)

Bagaimana caranya orang yang tidak bisa berbahasa Arab bisa memahami Alquran ketika membacanya? Cara jangka pendek adalah membaca Alquran sembari membaca terjemahannya yang banyak tercetak. 

Adapun cara jangka panjang adalah belajar memahami makna-makna Alquran dari pengajian-pengajian para ulama dan ustaz yang ada semampunya.

Membaca Alquran sembari menghayati maknanya ini adalah jalan keselamatan umat Islam karena ia sarana untuk memahami dan mempraktikkan ajaran dalam kehidupan realitas. Sebab penyimpangan banyak sekte di tubuh umat ini adalah menjauhnya mereka dari Alquran, di antara mereka yang membacanya hanya fokus untuk khataman tapi jarang fokus pada penghayatan dan tadabur makna-maknanya.

Satu-satunya jalan menyelamatkan umat Islam bahkan umat manusia hanyalah dengan berpegang teguh dengan Alquran beserta pemahamannya yang sahih dan penerapannya dalam kehidupan, karena itulah konsep Ilahi dan resep Rabani yag Dia turunkan kepada Sang Nabi untuk diajarkan kepada umat manusia agar mereka mempraktikkan ajarannya dalam kehidupan, Dia berfirman:

هُوَ الَّذِيْ بَعَثَ فِى الْاُمِّيّٖنَ رَسُوْلًا مِّنْهُمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِهٖ وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَاِنْ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍۙ 

“Dialah yang mengutus seorang Rasul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (sunnah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS Al Jumuah 2)    

Metode dan konsep Alquran sangat sederhana dan mudah untuk dibaca, dipahami, dihayati, dan diterapkan. Ia telah terbukti sukses dalam perjalanan sejarah. Masyarakat jahiliyah yang memiliki kehidupan keras ala barbar itu, bisa berubah seketika menjadi sebaik-baik umat yang hidup di bumi adalah karena berkat pemahaman dan penerapan Alquran yang mereka jaga.

Bahkan, masyarakat mana pun dalam perjalanan sejarah Islam, termasuk kita bangsa Indonesia, bangsa Turki, bangsa Afrika, dan lain-lain, semuanya berubah menjadi masyarakat yang damai, tenteram, dan memiliki peradaban yang pernah berjaya lantaran penerapan inti konsep Alquran ini dalam kehidupan nyata. Sekarang ini kita harus mengembalikan itu agar bisa menyelamatkan umat dan bangsa ini dari berbagai asbab kebinasaan dan penyimpangan.

Di antara ibadah lain yang sangat utama di momen ini adalah puasa dari 1 sampai 9 Dzulhijjah. Ini merupakan tradisi para sahabat dan tabiin serta para ulama dan orang-orang saleh secara turun temurun, terutama di 9 Dzulhijjah yang bertepatan dengan hari wukuf di Arafah. 

Bagi yang tidak berhaji sangat disunahkan berpuasa Arafah ini karena fadilahnya sangat besar, sebagaimana disebutkan Rasulullah SAW:

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ

“Saya berharap kepada Allah agar puasa hari Arafah ini menghapus dosa-dosa pada tahun sebelumnya dan tahun setelahnya.”[HR Muslim: 1162]

Ibadah terbesar di momen Dzulhijjah ini adalah ibadah haji. Namun, di masa pandemi ini kita semua tidak bisa melaksanakannya. Hanya saja kerinduan terhadap haji dalam suasana pandemi ini insya Allah tetap dianggap sebagai ibadah oleh Allah Ta’ala. Niat haji yang belum kesampaian di masa ini juga semoga tetap dinilai Allah sebagai ibadah.

Marilah kita semua hidupkan momen Dzulhijjah ini dengan berbagai ibadah, semoga Allah Ta’ala meridhai kita semua, mengampuni dosa-dosa kita semua, dan menghilangkan pandemi ini sesegera mungkin. Amin.  

Silaturahmi Wakil Walikota Makassar : MWD Makassar Siap Dukung Program Pemberdayaan Ummat

0

Muslimah Wahdah Makassar (MWD) adakan kunjungan silaturahmi ke Rumah Jabatan Wakil Walikota Makassar, Fatmawati Rusdi. Kunjungan ini berlangsung Jum’at (17/06/2021).

Kegiatan ini bertujuan untuk membangun sinergitas antara Wahdah Islamiyah dan Pemerintah Kota Makassar. MWD Makassar yang diwakili oleh Koordinator Unit Humas dan Informasi Komunikasi, Fitri Wahyuni, S. Gz M. Si dan Rahmatan Lante, S.Pd, Koordinator Unit P2TQ ini sekaligus menghadiri program tahsin yang rutin diadakan oleh Ibu Wakil Walikota.

Kehadiran Tim Muslimah Wahdah Makassar disambut dengan hangat oleh Ibu Fatmawati Rusdi selaku Wakil Walikota Makassar dan Mohammad Syarief, S.STP, Kepala Bagian Kesra Kota Makassar. Dalam kesempatan tersebut, MWD menjelaskan beberapa program kerja seperti pemberantasan buta huruf baca Al-Qur’an, Dirosa, Tebar Qur’an, Tebar Mukenah dan lainnya.

Hal ini disambut positif oleh Pemerintah Kota Makassar periode 2021-2025 ini karena selaras dengan visi misi pemerintah yakni program pembinaan ummat. Fatmawati Rusdi mengatakan program – program keislaman seperti iti harus tetap berlangsung. “Kegiatan seperu itu tidak boleh berhenti,” ujarnya.

Dengan adanya silaturahmi diharapkan dapat membangun sinergitas dan MWD Makassar siap untuk mendukung program pemberdayaan ummat.

Majelis Taklim Muslimah Wahdah Siap Berikan Kontribusi Bela Palestina

0

Gencatan senjata telah dideklarasikan, tidak membuat Palestina benar-benar merasakan kemerdekaan hingga perjuangan belum berakhir. Atas dasar kemanusiaan dan keimanan, Indonesia terus memberikan dukungannya untuk membela Al-Quds. Kegiatan Indonesia Bela Al-Quds “Munashoroh dan Merawat Kemenangan” kembali hadir untuk menggaungkan syiar membela Palestina.

Dengan mengusung tema “Dari Mesjid Indonesia Untuk Mesjid Al-Aqsa, Al Quds dan Palestina Merdeka” kegiatan ini berlangsung Ahad (30/5/2021) di Mesjid Baruga Antang. Munashoroh ini berisi orasi Bela Palestina dan penggalangan dana.

Sebagai bagian dari pengurus mesjid, ibu-ibu majelis taklim yang tergabung dalam Forum Koordinasi Majelis Taklim (FKMT) Muslimah Wahdah Pusat turut andil dan siap memberikan kontribusi dalam Indonesia membela Al-Quds. FKMT sendiri mengerahkan 500 majelis taklim dalam kegiatan ini dan diadakan penggalangan dana khusus untuk anggota majelis taklim sebagai bentuk bela palestina.

Hj. Liza Harits, SP selaku Ketua FKMT menyebutkan bahwa keikutsertaan majelis taklim sebagai bentuk syiar kepada masyarakat. Selain itu, anggota majelis taklim juga diharapkan bisa merasakan perjuangan saudara kita di Palestina. Kegiatan ini menjadi bagian perjuangan kita, kepedulian dan kita merasakan empati.

Menurutnya sebagai forum, FKMT akan terus ada dan bersinergi dengan ormas lain selama itu masih beradar di koridor syariat. “FKMT siap kontribusi untuk dakwah di Indonesia dan Palestina,” ujarnya ketika diwawancara.