Ia bernama hujan…, yang tak pernah datang sendiri. Ia selalu membawa ratusan sensasi yang membuat seluruh imaji manusia bekerja, menusuk kulit, sanubari dan logika hingga muncul menjadi interpretasi berbeda bagi setiap orang, menjadi obyek inspirasi bagi para seniman dan sastrawan, bahkan teknokrat dan kabarnya politisi. Ribuan lembar dihabiskan, untuk menceritakan keindahan hujan, ribuan novel dan cerpen, juga puisi dan sajak lahir karna hujan. dan entah sudah berapa panjang dinding yang dipahat untuk mempersembahkan rangkaian mitos dan kejadian yang terjadi ketika hujan.
 Hujan menjadi sesuatu yang manis, kata beberapa pecinta seni. Hujan memberikan waktu dan momen indah bagi sepasang kekasih, yang sering mengabadikan cinta mereka ditengah guyuran hujan. Hujan itu kesadaran, kata beberapa orang pecinta lingkungan, kesadaran bahwa bumi juga perlu diberi minum. 

“Kami turunkan air hujan yang berbarakah, banyak manfaatnya dari langit kemudian dengan air hujan itu Kami tumbuhkan kebun-kebun dan biji-bijian yang dapat dipanen.” (QS. Qaf (50): 9)..

Seperti seorang ibu yang merindukan segelas teh hangat seusai melerai anak-anaknya yang berkelahi. Karena hujan, kabarnya hutan berpesta, merayakan suatu selebrasi khayal yang sangat mempesona. Hujan itu peringatan bagi manusia, bagi beberapa orang yang kelelahan. Hujan mengingatkan petani  bahwa ada saat untuk meletakkan cangkul, ada saat untuk menunda rapat dan menutup toko. Hujan memaksa seorang pria pekerja keras, agar menikmati  suasana rumah, bertemu dengan anak bungsunya yang dengan cara bijaknya menunjukkan kehebatan seorang ayah mengeja ABC. 

Hujan pula yang memberikan saat bagi sang suami yang bekerja keras membanting tulang menikmati sesaat manis wajah istri. Hujan adalah hadiah bagi beberapa orang yang merasa kalah. Hujanlah yang secara sadar atau tidak telah mewarnai kehidupan manusia. Dan bagi beberapa orang, hujan bisa menjadi terdakwa utama yang telah menggagalkan ratusan rencana setiap orang, Hujan yang bisa memberikan  mood dan rasa kantuk yang sempurna, dan sepertinya bagi yang lain hujan menjadi yang harus bertanggungjawab atas gagalnya berkali-kali rencana dan memaksa mereka untuk terduduk sendu di kamar dan terkadang memaksa mereka  berlarian menyelamatkan jemuran.

Andaikan hujan adalah anggota parlemen, yang memiliki rumah aspirasi, atau aparat yang mempunyai kotak pengaduan, semua pengaduan diatas akan ditulis dan dilaporkan pada LBH dan kalau perlu pada Mahkamah Agung, bahwa ia telah mencampuri urusan personal secara demikian parah. Itulah sekelumit celoteh tetntang hujan. 

Tidak ada yang lebih menarik daripada mengamati hujan. Melihat dan merasakan kehadirannya. Dan karenanya, beberapa sahabat jadi terlalu sering jatuh hati. Pada senyuman seseorang, Pada rasa rindu yang besar terhadap kasih sayang, Pada ketulusan sikap,Pada langit yang menyimpan banyak makna kehidupan. Pada bulan yang remang-remang menjaga ketika malam. Pada malam yang begitu sepi. Pada daun-daun yang gugur di telan zaman. Pada orang-orang yang bangun di kala fajri untuk menghadap Illahi. Pada receh yang membantu kehidupan. Pada sahabat yang setia mendengarkan. Dan pada detail-detail kekuasaan. Alhamdulillah tiba- tiba sajaturun hujan.. “Allahumma shoyyiban naafi’aa [Ya Allah, turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat].”

“…Dan Allah menurunkan air (hujan) dari langit kepadamu untuk menyucikan kamu dengan (hujan) itu dan menghilangkan gangguan-gangguan setan dari dirimu dan untuk menguatkan hatimu serta memperteguh telapak kakimu” ( Al-Anfaal 8: 11)

— Nipa-nipa city ( U2)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here